Nandang Burhanudin Pakar Peradaban Islam

Menghargai Guru Ngaji

Menghargai Guru Ngaji
(Kenangan Ustadz Nasir Haris almarhum)
By: Nandang Burhanudin
****

(1)
“Ana 13 kali jatuh dari motor, saat dibonceng mengisi acara mahasiswa.” Kisah almarhum Ustadz Nasir Haris suatu waktu.

(2)
Beliau sempat 6 bulan lalu bersilaturahmi. Mengajak “besanan”. Sayangnya putri saya, masih 1 SMP.

(3)
Bagi saya. Sosok Ustad Nasir Haris, sosok tawadhu’. Pernah mengageni penjualan Mushaf AlBurhan di Jogya.

(4)
Kembali ke poin 1. Saya selalu menolak bepergian dengan motor. Mengendarai ataupun dibonceng. Kecuali jarak dekat.

(5)
Bukan manja. Tapi lebih pada safety. Selain kesiapan panitia dalam menginisiasi agenda dakwah.

(6)
Terngiang celoteh salah seorang teman. “Kepala Ustaz itu berharga. Tukang dagang sama pengurus partai banyak dan mudah dicari. Sementsara ustadz dengan kedalaman ilmu dan pahaman manhaj, mahal investasinya.”

(7)
13 kali jatuh adalah surprise. Mike Tyson saja gak sempat jatuh sebanyak itu, padahal di kanvas tinju.

(8)
Jadi kembali menseriuskan agenda optimalisasi SDM Syariah. Caranya memposisikannya lebih manusiawi.

(9)
Guru-guru dakwah bukan da’i bertarif jutaan. Bukan pula pencari fasilitas mewah. Tapi memanusiakannya tentu wajar dan lumrah.

(10)
Contohlah penyikapan jamaah NU kepada Kiai. Menurut sebagian orang berlebihan. Tapi ikraaman dan takriiman, patut diacungi jempol.

(11)
Saya mendoakan. Almarhum Ustadz Nasir Haris diterima sebagai pejuang kebajikan. Berhak meraih ampunan dan rahmat Allah.

Cerita Cinta

Cerita Cinta
By: Nandang Burhanudin
*****

(1)
Alkisah, ada ustadz yang tak kuat menahan linangan air mata, ketika menyaksikan anak dari anggota grupnya menangis ingin sepeda.

(2)
Sang abi yang miskin, tak mampu membelikan sepeda. Ia hanya bisa manahan air mata, sembari sesekali menarik air liur, saking pasrahnya.

(3)
Minggu depannya, sang ustadz membawakan sepeda. Sebulan kemudian baru diketahui, sepeda itu adalah milik putranya yang ia hadiahkan untuk anak anggota grupnya.

(4)
Seandainya ada kesibukan, maka kesibukan paling utama adalah menjadi advokat dan fasilitator bagi hajat publik.

(5)
“Aku berjalan memenuhi hajat saudaraku, lebih aku cintai daripada i’tikafku di Masjidku ini selama satu bulan.” (Hadis Hasan dishahihkan Al Albani)

(6)
“Carilah aku pada orang-orang lemah kalian, karena sesungguhnya kalian hanya diberi rejeki dan pertolongan dengan berbuat baik kepada orang-orang lemah di antara kalian. (Musnad Ahmad, 20738)

(7)
KH. Hilmi Aminudin menyebutnya dengan istilah mata rantai kerja sosial, karena individualistik bertentangan dengan fitrah sosial manusia.

(8)
Jauh-jauh hari, pendiri jamaah terbesar abad 21 Ikhwanul Muslimin, yang kini disebut teroris oleh pelaku teror dan perampok sejati menegaskan.

(9)
“Wahai Ikhwan … apakah kalian siap sedia untuk berlapar-lapar sampai rakyat kebanyakan dalam keadaan kenyang?”

(10)
“Apakah kalian siap untuk begadang hingga larut malam agar rakyat kebanyakan bisa pulas tidur?”

(11)
“Apakah kalian siap sedia untuk larut dalam letih hingga rakyat kebanyakan dapat istirahat penuh?”

(12)
“Apakah kalian siap sedia untuk menjemput kematian agar manusia kebanyakan terus bisa hidup?”

(13)
Jika terhadap hajat publik sifatnya seperti di atas, apatah lagi dengan sesama saudara yang terikat doa robithah.

(14)
Semoga cerita itu masih ada. Nir cinta akan diisi curiga.

Belajar dari Kaum Agamis Turki

Belajar dari Kaum Agamis Turki
By: Nandang Burhanudin
****

(1)
“Mengapa saya ikut memilih di Pemilu 10 November 2015?” Tulis seorang aktivis yang mengakui tidak pernah ikut Pemilu selama era demokrasi Turki.

(2)
Karena baginya, demokrasi bukan jalan untuk menerapkan syariat Islam. Apalagi membangkitkan era kejayaan khilafah Islam.

(3)
Namun. Ia mengungkapkan. Pemilu 10 November 2015 adalah Pemilu penentu. Apakah Turki akan kembali ke era perang saudara dan konflik berkepanjangan?

(4)
Ia paham bahwa Kaum Kemalis yang didukung kalangan Liberal, Sekuler, Komunis mengelola negara dengan gaya premanisme dan menebar kebencian.

(5)
Ia paham bahwa Turki sebagai negara adalah benteng yang wajib dikuasai oleh kalangan Islamis. Terlebih kaum mudanya.

(6)
Ia paham, Turki 10 tahun lalu, istri Erdogan yang berhijab dilarang memasuki istana. Militer mewajibkan syarat seorang Presiden adalah sekuler.

(7)
Ia paham, Turki 7 tahun lalu, AKP hampir saja dibubarkan ketika akan menghapus larangan berhijab/berjilbab di kampus-kampus.

(8)
Ia paham, 5 tahun lalu, kalangan Kurdi hampir saja memerdekakan diri setelah mendapat angin segar dan dukungan logistik berlimpah.

(9)
Namun dengan kecerdikannya, AKP secara bertahap menyelesaikan masalah-masalah krusial di masyarakat Turki. Cobalah lihat fakta saat ini!

(10)
Jadi jika ada kalangan yang tetap keras kepala dan menjadi pegiat Golput di saat-saat genting. Yakinlah, ia tak paham keadaan!

(11)
Bisa jadi. Ia menikmati saat Liberal, Sekuler, Islamphobia bernafsu mengangkangi negeri-negeri Muslim. Lalu kekuasaan diserahkan kepada mereka.

(12)
Bisa jadi. Kurang ngaji atau ngajinya tanpa mengkaji. Jikapun mengkaji tak sampai pada intisari. Jika sampai intisari ia pun tak mengerti. Jika mengerti ia tak memiliki energi.

(13)
Tepat yang dikatakan Erbakan. Umat Islam yang tak peduli dengan politik. Maka ia akan dikuasai pemimpin politik yang tidak peduli kepada Islam dan umatnya.

(14)
Lalu, apakah kalangan Agamis Muslim di Indonesia akan terus membiarkan Indonesia dan Jakarta dikangkangi penguasa yang tak peduli kepada Islam dan umatnya?

(15)
Jawabannya, seberapa besar kesadaran untuk menginfakkan suara seikhlas mungkin kepada calon Muslim berintegritas. Jika kemudian ada salah, belajarlah kepada kalangan agamis Turki, mereka menghukum tanpa pernah mematikan.

Menyikapi Pelanggaran

Menyikapi Pelanggaran
By: Nandang Burhanudin
****

(1)
Al Qur’an way of life yang tak kering dengan hikmah. Al Qur’an merangkum seluruh pelajaran untuk pedoman umat manusia sepanjang zaman. Cukup dengan Al Qur’an, kita paham kehidupan.

(2)
Di antara keajaiban Al Qur’an, merinci segala pelanggaran Bani Israel. Entitas umat yang banyak menerima kitab-shuhuf, tapi perilakunya mirip keledai yang memikul bejibun ilmu.

(3)
Misalnya surat Al A’raf: 163-166. Salah satu hukum dan peraturan kaum Yahudi yaitu libur pada hari Sabtu. Pada hari ini mereka tidak boleh melakukan pekerjaan apapun, selain melakukan pekerjaan peribadi dan ibadah kepada Allah Swt.

(4)
Namun watak Yahudi hobi melakukan tipu muslihat, mengakali aturan. Penduduk di tepi pantai ini menyusun satu cara untuk menangkap ikan tanpa harus melanggar hukum Allah. Sebab ujian Allah, ikan-ikan muncul ke permukaan justru di hari Sabtu.
(5)
Mereka membuat petak-petak semacam kolam di tepi pantai. Dengan cara ini mereka tetap beribadah sementara ikan-ikan yang berdatangan di hari Sabtu akan terjebak dan tidak dapat keluar dari kolam-kolam tersebut. Sehari setelahnya, ikan-ikan itu akan ditangkap.

(6)
Nah, hebatnya Al Qur’an mencantumkan ikhtiar sekelompok Bani ISrael di negeri tersebut untuk mengingatkan dan mencegah kaum Yahudi terjerumus pada akal bulus dan pelanggaran yang tidak lagi dianggap dosa, hingga susah untuk bertaubat.

(7)
Ayat 164 Allah berfirman, “Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.” (7: 164)

(8)
Ada kelompok pelanggar aturan الفرقة العاصية, dan penguasa pelanggar aturan paling sering dan akut. Ada kelompok yang cuek bebek, الفرقة المعتزلة، biasanya kelompok intifa’, cari aman, dan tentunya mengail di air keruh. Lalu ada kelompok yang mengingatkan-melarang, الفرقة الثالثة الناهية: biasanya termarjinalkan dan sering dicap macam-macam.

(10)
Ahlul qaryah adalah entitas kecil. Sepadan dengan ormas, orpol, jamaah, atau kelompok arisan. Pelanggaran dengan mengakali aturan, AD/ART, adalah biang dari mengakali konstitusi negara.

(11)
Pilihan kita, apakah bersama kelompok pelanggar, atau menjadi kelompok cari aman, atau memilih menjadi kelompok yang mengingatkan. Semua pilihan ada konsekwensi. Itulah pilihan perjuangan!

(12)
Saya lebih memilih menjadi kelompok yang mengingatkan, supaya: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabb, Allah Ta’ala.” Kisruh dan pelanggaran, kecil apalagi besar, tidak boleh dibiarkan. Terutama pelanggaran para tetua, yang seringkali memainkan pisau hukum; tajam ke bawah tumpul ke atas.

 

Fitnah Ghanimah

Fitnah Ghanimah
By: Nandang Burhanudin
*****
(1)
Pasukan Jengiskhan yang panjangnya mencapai 650 km, sukses memorakmorandakan Asia Tengah hingga Azerbaijan, Iran, Armenia, dan Georgia saat ini.

(2)
Tersisa satu kawasan, yaitu Khawarizm di bawah komandan, kawasan yang dikomando Jalaluddin bin Muhammad bin Khawarizmsyah.

(3)
Khawarizm dikenal dengan bentengnya yang kokoh, kemampuan bertempur, SDA yang kaya melimpah. Pasukan Tartar memikirkan cara untuk menaklukkannya.

(4)
Cara terbaik ditempuh Jenngiskhan dengan melakukan pembantaian umat Islam di wilayah satelit Khawarizm, 700 ribu muslim menjadi korban.

(5)
Jalaludin bergeming. Ia menghimpun seluruh kekuatan. Turut bergabung panglima Saefudin Baghraq dengan 30 ribu pasukan dari Turki. Ia dikenal panglima gagah berani.

(6)
Turut memperkuat Malik Khan, emir kota Balq. Tempat yang di kemudian hari menjadi medan tempur pasukan Muslim vs pasukan Tartar yang belum terkalahkan.

(7)
Perang pertama berlangsung 3 hari. Umat Islam meraih kemenangan yang mempersatukan kekuatan Muslim. Pasukan Jalaludin dan pasukan sisa Muhammad bin Khawarizmsyah bersatu.

(8)
Jalaludin mengirimkan utusan, menantang Jengiskhan untuk bertempur kembali. Raut Jengiskhan menampakkan ketakutan. Ia pun mempersiapkan pasukan terbesar yang langsung ia pimpin bersama anak-anaknya.

(9)
Pertempuran tak dapat dihindari. Medan kali ini adalah Kabul, ibukota Afghanistan. Umat Islam kembali menang dan merebut ghanimah berlimpah.

(10)
Ghanimah! Sampai di sini, fitnah itu muncul. “Demi Allah, bukan kefakiran yang kutakutkan menimpa kalian. Tapi ketika dunia terbuka lebar untuk kalian, seperti terbuka lebar bagi umat sebelum kalian. Lalu kalian saling berkompetisi. Lalu dunia itu pun membinasakan kalian sebagaimana mereka dibinasakan.” Demikian sabda Nabi.

(11)
Benar saja. Saifuddin Baghraq, emir Turki dan Malikkhan, emir kota Hura meminta bagian dari ghanimah. Pertengkaran pun terjadi. Pedang tak bisa dihindari.

(12)
Maknawiyah Pasukan Muslim melemah. Fokus para pemimpin elit terpecah. Ghanimah yang tak seberapa memudarkan spirit ukhuwwah dan melalaikan dari kewajiban menghadang pasukan Tartar, yang beberapa kilo meter lagi ke pusat khilafah, Baghdad.

(13)
Kemangan dua kali di Ghazna dan Kabul tidak mampu dikapitalisasi. Kondisi ini justru dimanfaatkan Jengiskhan untuk memecah kebersamaan pasukan Muslim.

(14)
Benar saja. Jalaluddin memilih berpindah-pindah, ketakutan. Jengiskhan mengirim pasukan untuk mengintai. Setelah pindah-pindah dari Kabul, India, hingga Pakistan. Pasukan Jalaluddin pun dihabisi di sungai Sind.

(15)
Akhirnya, Khawarizm takluk. Jengiskhan dengan santai memperbudak para wanita, membantai lelaki, menyembelih anak-anak. Kota dibiarkan kosong, sebelum dimusnahkan.

(16)
Fitnah ghanimah akan terjadi sepanjang waktu dan marhalah perjuangan. Sepatutnya, setiap pejuang Muslim menata hati dan sikap menghadapi ghanimah. Ghanimah bisa bikin punah! Percayalah!

Konflik Saudi, Awal Middle East Baru

Konflik Saudi, Awal Middle East Baru
By: Nandang Burhanudin
****

(1)
Kita harus cemburu atas segala rekayasa sosial dan rekayasa strategis yang dilakukan Yahudi Salibis internasional terhadap dunia Islam.

(2)
Sikap reaktif kita selalu berkaitan dengan cangkang, permukaan, tampilan luar, atau asap yang memedihkan mata dan menyesakkan pernafasan kita.

(3)
Namun, semua tak menyentuh substansi, inti masalah, bahkan fenomena di balik berita. Akhirnya kita ribut dan rela mati untuk laa syai’, abai dengan “syai'”

(4)
Kemunculan Muhammad bin Salman, ternyata delah direkayasa sejak 1993 oleh Shimon Peres dalam bukunya The New Middle East.

(5)
Arab Springs, membuka jalan pelengseran Mubarak dan pemusnahan Ikhwanul Muslimin. Mubarak dianggap penghambat. IM ancaman.

(6)
Naiknya As-Sisi, penyerahan 2 pulau Mesir ke Saudi Arabia, pemusnahan wilayah Refah Mesir, penguasaan mutlak atas Gurun Sinai.

(7)
Munculnya ISIS, perang Syiria, kudeta di Turki (walau gagal), hingga embargo atas Qatar. Semua adalah test the water ala Zionis.

(8)
Bisa dikatakan, makar Zionis 85 % sukses. Tersisa suksesi Ben Salman. Maka rencana Israel Raya akan mulus bebas hambatan.

(9)
New Middle East yang akan terbangun adalah: Palestina-Jordania-Israel akan membentuk zona kawasan khusus. Kontrol sepenuhnya dimiliki Israel.

(10)
Zona regional akan dibentuk antara Saudi-Mesir-Israel, menjadi negara yang borderless, alias tanpa batasan baik udara, darat, laut.

(11)
Zona ekonomi, akan menghubungkan Dar Bidha Maroko hingga Israel-Latakia-Turki dengan kereta api supercepat. Terbentuklah kawasan mirip UE.

(12)
Zona pertahanan keamanan, akan muncul NATO versi Timur Tengah yang dikomando Israel tentunya, sebagai kekuatan superpower.

(13)
Targetnya? 2027 versi Israel dan 2030 versi Saudi Arabia. Adakah yang bisa melawan?
(14)
Turki jika konsisten dengan 2023-nya, dan AKP masih berkuasa, bisa jadi akan menjadi penghambat serius laju Israel.

(15)
Indonesia, sangat tergantung di 2019 dan 2024. Siapa pengendali Indonesia? Jika pribumi tak berkutik, China mengangkangi Indonesia.

(16)
Wallahu A’lam.

Belajar Menang dari AKP, Mustahil?

Belajar Menang dari AKP, Mustahil?
By: Nandang BUrhanudin
*****

(1)
Menakjubkan. Hanya dalam 4 bulan, AKP sukses meraup 4 juta suara. Catatan: bukan suara floating mass. Tapi suara yang di Pemilu Juni memilih CHP dan MHP.

(2)
41 % di Pemilu Juni, lalu menembus angka 51 % di Pemilu November. Kemenangan yang disikapi dengan sikap tawadhu. Sikap yang sama ditempuh, saat gagal menang telak di Pemilu Juni.

(3)
AKP di bawah Daud Oglo, langsung evaluasi. Memahami keinginan pemilih! Lalu melakukan reformasi internal. Soliditas itu harus berkualitas. Tidak sekedar soliditas yang cadas. Tak mampu membuat kader tumbuh kembang.

(4)
Ya. Di muktamar AKP 12 September lalu. AKP membuat keputusan strategis. Mengubah AD/ART Partai yang membatasi masa bakti kader AKP berkhidmat di parlemen dan eksekutif dari 2 periode saja, menjadi boleh dicalonkan kembali.

(5)
Keputusan yang mengakomodir tokoh-tokoh AKP yang telah mengakar dan merakyat di masyarakat. Kader yang sekian lama menjadi magnet suara, berkah pengabdian dan pelayanan selama menjadi pejabat publik.

(6)
Keputusan selanjutnya adalah; agenda kampanye dibuat sedetail mungkin dan menyentuh hajat mendasar di setiap daerah. AKP mengubah jargon muluk kampanye, menjadi bahasa standar yang mudah dipahami.

(7)
Contohnya: Proyek mercusuar Turki, target pencapaian ekonomi, romantisme sejarah Turki, amandemen UU. Semua tidak lagi menjadi topik propaganda kampanye.

(8)
AKP lebih memilih tema mendasar: penambahan gaji dan peningkatan uang pensiunan; perbaikan pengupahan; renovasi asrama mahasiswa; pengubahan UMR; kemudahan pinjaman untuk program pengembangan ekonomi kaum muda.

(9)
AKP pun berani lepas dari bayang-bayang nama besar Erdogan. Daud Oglo tampil dan berkeliling ke seantero negeri. Kebijakan ini sangat mengesankan kader-kader AKP, bahwa AKP bukan hegemoni perorangan tapi milik bersama.

(10)
Pertanyaannya, siapakah yang bisa mengikuti langkah AKP di Indonesia? Banyak yang berharap, PKS salah satunya. Harapan yang tidak dilarang. Hanya Imam Asy-Syafi’i berpesan: Manzilatul Imam minar-ra’iyyah kamanzilatil waliyy minal

yatiim.

(11)
Kedudukan seorang pemimpin di hadapan rakyat/bawahan/kader seperti kedudukan wali bagi anak yatim. Erdogan, Daud Oglo, dan pemimpin-pemimpin AKP telah melakukan ini. Bahkan sudah menjadi karakter.

(12)
Turun ke bawah, tidak hanya di ruang ber-AC dengan fasilitas wah. Menyentuh psikologis kader dengan sentuhan seorang wali terhadap anak yatim. Melindungi, mengayomi, melayani. Dilakukan tanpa basa-basi.

(13)
AKP melahirkan nama besar. Tapi nama besar tidak menjadi pemilik dominan AKP. Panglima gerakan AKP adalah “Di manapun adzan berkumandang, di situlah tanah air kami.”

(14)
AKP mengedepankan keutuhan keluarga kadernya. Tradisi keluarga Turki di bulan Ramadhan, dijadikan momentum untuk meneguhkan sumpah setia suami terhadap istri (keluarga) dan istri terhadap suami (keluarga).

(15)
AKP merangkul tanpa memukul. Mengevaluasi tanpa mengebiri. Mendisiplinkan tanpa plin-plan. Fokus berjuang tanpa rakus. Benar-benar al-bait addaakhili (rumah internal) dibenahi hingga tak lagi bernanah.

(16)
Kader AKP tak lagi sibuk sekedar koar-koar! Mereka menerima setiap kritik dengan lapang dada. Setiap kritik konstruktif dijadikan panduan, untuk tidak lagi melakukan kesalahan yang sama.

(17)
AKP adalah partainya manusia yang kental dengan sentuhan manusiawi. Bukan partai robot. Bukan pula partai malaikat. Cita rasa manusiawi ini yang membuat loyalitas kader AKP, berkualitas.

(18)

AKP inklusif. Kader-kadernya heterogen. Namun semua satu dalam bahasa universal; menyapa dan menempa, meraba dan merasa, membela dan membawa, nyata beramal dan beramal nyata.

(19)

Nampaknya, kini AKP menjadi rujukan dunia Islam. Suka atau tidak suka, AKP memberi prestasi nyata di 13 tahun pertama. Bandingkan dengan partai yang lebih dulu ada. Nampak kesulitan walau sekedar keluar dari kubangan dialiktika dan propaganda.

At-Tansiq Ad-Da’wi dan Kemenangan Pilgub Jabar


At-Tansiq Ad-Da’wi dan Kemenangan Pilgub Jabar
By: Nandang Burhanudin
*****

(1)
Dakwah Islam, sejak awal menjadikan al-wifaq al-‘aam (konsolidasi umum) sebagai target. Toleran, penuh maaf, dan inklusif.

(2)
Jika merujuk peristiwa “Fatẖu Makkah” yang dilakukan Rasulullah bersama elemen umat, perlu 21 tahun menaklukkannya.

(3)
Makkah sejak lama menjadi markas orang-orang musyrik jahiliyah. Seluruh elemen, baik kalangan elit maupun alit turut serta.

(4)
Euforia keberhasilan tak terhindari. Ada sekelompok kecil sahabat yang memekikkan slogan “al-yaum yaum al-malhamah”, hari ini adalah hari penumpahan darah”.

(5)
Nabi Muhammad melarang beredarnya slogan tersebut dan menggantinya dengan slogan “al-yaum yaum al-marhamah”, hari ini adalah hari kasih sayang.

(6)
Akhirnya peristiwa pembebasan kota Makkah dapat terwujud tanpa insiden berdarah. Fathu Makkah menjadi momen pemaafan umum. Pencapaian peradaban tinggi sejarah manusia.

(7)
Suksesi Fathu Makkah, tidak ujung-ujug sim salabim dengan sekedar menengadahkan doa. Rasul dan para sahabat menempunya, dengan tebusan jiwa raga.

(8)
Pertama, jelas karunia Allah dan kesungguhan Rasulullah dalam memperjuangkan dakwah Ilallah, bukan sekedar meraih tahta atau meraup keuntungan harta.

(9)
Kedua, konsolidasi dan kesamaan visi komandan tertinggi hingga prajurit akar rumput, dan kalangan simpatisan. Merangkul tanpa memukul.

(10)
Ketiga, dukungan rakyat kecil yang termarjinalkan kaum kafir Quraisy. Kaum marjinal yang tertutup dari segala akses ekonomi dan keadilan.

(11)
Fathu Makkah sudah terjadi. Tantangan juru dakwah di depan mata adalah Fathu Jabar dan Fathu Indonesia. Kita harus aktif. Kepentingannya menyelamatkan Islam.

(12)
Maka tugas elit menghentikan euforia dendam al-yaum yaumul malhamah, menjadi al-yaum yaumul marhamah. Membuang angkara dendam, sikap angkuh. Pasang kuping. Pasang mata!

(13)
Fathu Jabar tak bisa sendirian. Perlu booster online dan offline. Tetaplah komitmen dalam dakwah! Di sini, di jalan ini! Jalan cinta tanpa kesumat dendam.

(14)
Itu dengan catatan, jika Jabar dan Indonesia masih dianggap penting untuk dimenangkan. Jika tidak, teruslah tebar agitasi dan peluk erat organisasi, seakan milik sendiri.

Bangkitlah…! Dari Kelemahan yang Selalu Berulang

Bangkitlah…! Dari Kelemahan yang Selalu Berulang

Seorang Doktor dari salah satu universitas di Maroko menuliskan sebuah status yang cukup menghenyak hati. Bunyi status tersebut dalam Bahasa Arab yang artinya, “Kebatilan itu tidak akan pernah menang, kecuali jika disisipi sedikit bagian dari kebenaran. Sedangkan Al-Haq tidak akan bersembunyi, kecuali ia bercampur dengan sedikit kebatilan.”

Sebagai aktivis dakwah Ilallah, akhir-akhir ini kita diajak muhasabah sebenar-benar muhasabah. Kita tak mungkin berhenti berjuang, hanya karena himpitan beban berat ujian atau karena berada di atas angin kemenangan. Kita pun tak mungkin mundur ke belakang, larut dalam debat berkepanjangan. Karena “Sekali layar terkembang, Pantang surut ke belakang!”Ketika suatu keputusan telah bulat, maka seharusnya tidak ada lagi keragu-raguan di dalamnya. Jalani, terjang gelombang dan badai kehidupan yang menghadang sebagai konsekuensi. Tiada penyesalan!! Karena hidup adalah tanggungjawab atas setiap pilihan yang sudah diputuskan.
Oleh karena itu, bila ada ujian atau kesulitan, baginda Rasul dan salafusshalih selalu mengintruksikan untuk mengevaluasi derap langkah perjalanan. Khawatir Al-Haq yang sedang kita perjuangkan, disusupi kebatilan, walau dalam kadar yang menurut kita ringan tapi menurut Allah tidak dimaafkan. Bagi aktivis dakwah, cukuplah menjadi aib saat kita “berpuas hati” atas sedikit prestasi, padahal jalan perjuangan masih terjal dan panjang. Abu Tamam berkata, “Tak ada aib manusia yang aku lihat sebagai aib, seperti patah semangatnya orang-orang yang mampu meraih kesempurnaan.”
Karena kita adalah partai dakwah dan lahir dari rahim tarbiyah, maka wajar bila PKS dihadapkan pada tuntutan yang melebihi tuntutan kepada partai-partai lain:
1. Bagi masyarakat yang berafiliasi kepada gerakan Islam, wajar bila mempertanyakan peran dakwah amar makruf PKS di parlemen dan di pemerintahan. Walau uniknya, beberapa dari mereka yang mengkritisi bersikap GOLPUT dan enggan memberikan partisipasi, walau hanya dengan memberikan suara. Padahal, contoh elemen Salafy di Mesir. Mereka memutuskan untuk terjun aktif, memobilisasi massa, menjadi partner koalisi dengan Moursi (IM), namun mereka tetap kritis untuk kebijakan-kebijakan yang dirasa merugikan umat Islam. Salafy Mesir berpikir, Moursi (IM) adalah “saudara dekat” yang masih bisa tersentuh dengan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dan nasihat Rasul. Tentu mendukungnya jauh lebih baik daripada bersikap PASIF, berpangku tangan, mengkritik keadaan dan membiarkan negara diurusi kaum sekuler-liberal-muslim ambigu yang selama ini berlindung di bawah ketiak rezim Mubarak.
2. Bagi masyarakat awam, wajar bila mereka menuntut PKS konsisten dengan pengabdian. Mereka meminta dua saja: Public Fasilities yang memadai: Jalan-jalan lulus, bebas banjir; dan Publik Services yang optimal: pendidikan-kesehatan normal, harga stabil, dan layanan yang tidak bertele-tele. Terserah PKS dengan gubernurnya atau walikotanya mau mengaji tiap waktu, memberi nasihat tiap jam. Bagi awam yang penting perut kenyang, jalan-jalan lancar, usaha tak ada halangan. Titik.
Sebagai dakwah yang tidak lagi sekedar duduk melingkar dalam forum-forum tarbiyah di pojok-pojok masjid. Sejatinya, peringatan dari saudara-saudara pergerakan Islam manapun: harus diterima sebagai nasihat. Pahit getir nasihat, adalah menyehatkan. Tentu PKS bisa memfilter, mana nasihat yang tulus mana yang akal bulus. Mana nasihat yang ikhlas, mana nasihat yang penting asal puas. Mana kritik membangunkan, mana kritik yang membingungkan.
Sebagai partai yang tidak lagi berjuang mengurusi batasan ET dan jumlah kader yang banyak dengan kesolidan yang teruji di lapangan dan dana yang seluas langit dan bumi, maka PKS harus menekankan kepada kader-kader yang DITUGASKAN menjadi anggota dewan level Pusat ataupun daerah, para menteri, gubernur, walikota/bupati untuk fokus mengurusi HAJAT hidup khalayak. Mundur menjadi pengurus di PKS untuk fokus bekerja sebagai pejabat publik, harus diimbangi dengan kerja-kerja nyata yang manfaatnya dirasakan publik. Untuk Public Fasilities, kader-kader PKS harus siap ZERO Corruption. Sedangkan untuk Public Services, saatnya secara radikal mengganti pejabat-pejabat eselon I, II, dan PNS yang tidak sepandangan dengan misi dan visi besar PKS.
=> STOP fenomena memperkaya diri. Karena ketika saat ada kasus korupsi, yang kena getahnya adalah seluruh kader. Nasib kader yang di bawah, dilecehkan dan terus menerus dihujat atas perbuatan yang tidak dilakukan. Hingga ada sindiran, “Qiyadah yang berak, kader di bawah yang sibuk nyebokin.”
=> STOP fenomena Job What. Yaitu ketika menjabat, bingung menentukan skala prioritas pekerjaan. Tengoklah pemimpin-pemimpin besar, ia selalu disibukkan dengan agenda-agenda besar. Karena seorang gubernur/walikota/bupati yang ditunggu oleh masyarakat bukan kelihaian berkhutbah, ceramah, atau kepandaian tilwah … tapi yang ditunggu adalah nilai-nilai materi yang kasat mata, dirasakan, dan terbukti!
=> STOP fenomena Narsis. Karena ternyata tak sedikit para gubernur/bupati/walikota yang ditugaskan PKS, sibuk studi S2-S3, di saat pendidikan Dasar masyarakatnya belum tercapai! Padahal ia terpilih menjadi gubernur/walikota/bupati hasil dari jerih payah kader-kader di bawah. Mereka rela kehujanan, ikhlas kepanasan. Kampanye dor to dor, dengan ongkos sendiri, modal kaos sendiri, hingga bekal konsumsi sendiri. Kader-kader yang hingga kini tak pernah meminta jatah PNS, jatah APBD. Kader-kader yang ikhlas berjuang karena Allah, agar PKS semakin besar dan besar dan besar! Hingga Islam dan umatnya berjaya, bukan sekedar retorika belaka!
Ujian yang menimpa PKS, jangan dianggap remeh dan jangan dianggap lumrah. Sebab 7 % suara nasional, merupakan suara harapan yang insya Allah akan berlipat kali ganda, jika kita tidak terjebak kepada lobang kesalahan berkali-kali. Kita hanya bisa berdoa, ya Rabb, sebagaimana doa yang disampaikan Abu Salamah yang saya ubah, “”Ya Allah, kurniakanlah kepada agenda-agenda dakwah kami, sesudah ramainya kasus ini sistem dan pejuang yang lebih baik, yang tidak akan menyengsarakan dan menyakiti umat-Mu ya Rabb. Bersihkan kami dari benalu niat dan benalu lainnya. Karena kami tak ingin terperosok ke dalam kelemahan yang berulang.”
Bandung, 24/05/13; 7:52

Belajar Mengelola Perbedaan dari Mr. Erdogan dan Mr. Daud Oglu

Belajar Mengelola Perbedaan dari Mr. Erdogan dan Mr. Daud Oglu
By:Nandang Burhanudin
*****

(1)
Soal perbedaan gaya, ternyata menimpa AKP di Turki.

(2)
Gaya Erdogan yang instruktif, ada kecenderungan otoritarian, dan kemungkinan abusif jika tanpa kendali.

(3)
Berbeda dengan gaya penggantinya, PM Daud Oglo. Gaya beliau cenderung kalem, pilihan katanya ilmiah, diksinya tertata dan hati-hati.

(4)
Kedua gaya lahir dari latarbelakang berbeda. Erdogan adalah seorang praktisi bisnis, orang pergerakan, dan sukses mengawal birokrasi sejak usia muda.

(5)
Daud Oglu adalah seorang akademis murni, bergelar guru besar, dosen luar biasa, mahir 5 bahasa asing. Walau keduanya sama-sama lahir dari desa dan dari kalangan menengah biasa.

(6)
Keduanya memiliki kesamaan dalam hal: wawasan terbuka, moralitas, integritas, dan kapasitas. Erdogan secara praktek lebih unggul, karena aral melintang di lapangan.

(7)
Namun gayanya yang meledak-ledak itulah, yang selalu membuat merah kuping. Obama, Shimon Peres, Ban Ki Moon, As-Sisi, Raja Emirat, Kanselir Jerman, PM Italia, pernah merasakannya.

(8)
Maka Erdogan menjadi target pihak Barat. Salah satu targetnya, membenturkan Erdogan dengan Daud Oglu. Seakan mengangkat Oglu, demi menjatuhkan Erdogan.

(9)
Barat berusaha menyusupkan kader-kader Tamarrud (pembangkang, anti) Erdogan di AKP. Kesalahan Erdogan dicari-cari, hingga dituduh diktator dan anti kebebasan berpendapat.

(10)
Erdogan paham dan tegaskan, jika AS kampiun demokrasi. Berapa jumlah penghina Obama yang dipenjara dibanding penghina Erdogan?

(11)
Erdogan murka saat AS menyadap jalur komunikasinya. Pun murka, saat perwakilan konsuler negara-negara Barat hadir dalam persidangan awal soal pelanggaran jurnalistik.

(12)
Tak lupa, Erdogan memberi ruang seluas-luasnya untuk Daud Oglu. Dwitunggal yang sulit digoyang setidaknya untuk saat ini.

(13)
Jadi jurus menghindari konspirasi dan konflik internal adalah: Fokus pada misi, visi, dan cita-cita perjuangan AKP untuk apa didirikan dan apa yang dilakukan kini saat berkuasa.

(14)
Lalu melimpahcurahkan hasil kerja dan kinerja untuk seluruh rakyat tanpa kecuali, sembari menahan diri untuk sekadar menikmati fasilitas halal yang berlebihan.

(15)
Jangan lupa, fokus Erdogan dan Oglu untuk menjaga postur kader-kader AKP agar tidak terjadi jomplang: obisitas kesejahteraan di satu sisi dan muntaber kemiskinan di sisi lain.

(16)
Erdogan dan Oglu bersatu dalam satu kata: kader-kader AKP adalah tulang punggung perjuangan. Tidak boleh dianggap sebelah mata. Diberikan ruang. Tidak ada monopoli pihak-pihak tertentu. Lalu aturan partai dijalankan.

(17)
Maka kita lihat, upaya Barat memecah belah kongsi Erdogan dan Oglu sia-sia. Soliditas keduanya sulit ditandingi partai Islam manapun di dunia. Plus, kepemimpinan Erdogan yang penuh hamasah dikawal dengan gaya Oglu yang penuh hikmah.

(18)
Partai politik yang tidak siap dikritisi, lebih baik jadi yayasan keluarga. Sebab Erdogan dan Oglu memiliki prinsip: AKP bukan parpol 5 tahunan, yang hadir pas ada kampanye Pilpres atau Pileg.

(19)
Tapi AKP adalah partai yang disiapkan untuk membina generasi, menyiapkan endurance perjuangan hingga di tahun 2023, terlaksana cita-cita Turki menjadi Numero Uno, di tahun 2053 The United State of Turkey berdiri. Lalu di tahun 2067, Khilafah.

(20)
Terlalu sayang pelajaran Mr. Erdogan dan Mr. Oglu, hanya sekadar cerita dalam lagu-lagu yang tak punya tangga nada dan irama. Semoga jadi pelajaran.

© 2017 Nandang Burhanudin All Rights Reserved   

Theme Smartpress by Level9themes.