Nandang Burhanudin Pakar Peradaban Islam

Bertempur di Medan Hati

Bertempur di Medan Hati

By: Nandang Burhanudin

*****

(1)

Suatu ketika Umar bin Khatthab r.a. melakukan kunjungan tugas menginpeksi pasukan di garda tempur Damaskus Syam.

 

(2)

Panglima tempur jabhah Syam dipegang oleh Abu Ubaidah AlJarrah. Sosok sahabat yang dijuluki Penjaga Rahasia umat ini (kaatim as-sirri hadzihil ummah).

 

(3)

Saat makan siang tiba. Abu Ubaidah bertanya, “Wahai Amirul Mukmimin dimana Anda hendak makan siang. Bareng bersama prajurit atau bareng menikmati hidangan komandan lapangan?”

 

(4)

“Kita lihat dua-duanya.” Jawab Amirul Mukminin. Beliau takjub pas melihat hidangan prajurit tempur: daging, keju terbaik, dan madu. Lalu beliau pindah melihat hidangan para komandan; roti kering dan susu. “Benarlah Nabi yang menjulukimu penjaga rahasia umat ini”, tegas Umar.

 

(5)

Meniru kisah ideal sahabat, biasanya diambil yang pas dengan kepentingan. Jika tidak cocok dan bertentangan dengan kepentingan, kisah-kisah ideal disembunyikan. Jika pas, diobral gagah.

 

(6)

Model Abu Ubaidah yang memuliakan prajurit lapangan, hampir tidak ditemukan dalam perjuangan umat Islam kini, terlebih yang berjuang di medan politik. Mahmud Abbas misalnya, menghabiskan fasilitas mewah yang harus menjadi jatah rakyatnya.

 

(7)

Mungkin para pemimpin HAMAS di Gaza, bersikap sama rata sama gaya dengan mujahidin lapangan. Bertadhiyyah yang sama dengan tadhiyyah prajurit tempur. Sama-sama berjuang. Tidak mendoktrin prajurit berjuang, lalu komandan ber-uang.

 

(8)

Dalam kehidupan kita, spirit perjuangan pudar seiring dengan kemewahan fasilitas dan kewahan transferan. Saat itu, nasib prajurit hanya berakhir sebagai batu bata yang tak lama lagi dilupakan. Posisi komandan hanya dipisahkan kematian.

 

(9)

Kita merindu sosok Amirul Mukmini ln Umar bin Khatthab yang dalam segala kesibukannya aktif turun memotivasi prajurit tempur. Beliau tidak cukup menerima laporan di belakang meja, lalu pamer tongkat komando menakuti bawahan.

 

(10)

Kita merindu sosok Abu Ubaidah AlJarrah yang memuliakan prajurit tempur, mengalahkan dirinya. Sebab qiyadah melekat pada keteladanan dan perhatian, bukan pada jubah kebesaran posisi jabatan. Wallahu A’lam.

© 2017 Nandang Burhanudin All Rights Reserved   

Theme Smartpress by Level9themes.