Nandang Burhanudin Pakar Peradaban Islam

Tragedi Rab’ah yang Terlupakan

Tragedi Rab’ah yang Terlupakan
By: Nandang Burhanudin
*****
 
Dunia melupakan tragedi Rab’ah, 14 Agustus 2013. Tidak ada pengadilan HAM. Dunia Arab dan Islam terus dikoyak-koyak dengan ragam tragedi; Syiria, Palestina, Irak, Rohingya, Yaman. Dunia pun abai, ada seorang presiden hasil pemilu demokratis yang kini masih mendengkam di penjara As-Sisi. Semua sibuk sendiri-sendiri.
 
Saya kembali hadirkan kesaksian pelaku sejarah di tragedi Rab’ah II dan An-Nahdhah. Kesaksian dokter Bayad Fateema, Dokter Saksi Sejarah!
****
 
Rasanya jiwa ini tersayat, jika kisah terperinci seputar pembantaian Rab’ah tidak disampaikan. Biarlah saya siap meanggung risikonya, asalkan dunia tahu bahwa di Rab’ah ada genosida hanya karena perbedaan pandangan politik.
 
Saya adalah dokter jaga. Bertugas sebagai dokter bedah tulang. Saya baru bertugas sejak tragedi pembantaian shalat Shubuh di depan Mako Garda Republik, tentu sebelumnya saya pun aktif bergabung bersama gerakan antikudeta di Rab’ah.
 
Pada malam tragedi Rab’ah II, terdengar intruksi dan ancaman kepada seluruh dokter di RS Lapangan Rab’ah untuk meninggalkan RS. Mereka mengancam, jangan sia-siakan nyawa kalian! Segera pergi sebelum semua terlambat! Peringatan juga datang dari kawan-kawan dokter yang bertugas di RS militer. Salah satunya Fatimah. Menurutnya, akan ada peristiwa dan segeralah pergi! Aku pun menjawab, “Terimakasih atas peringatannya. Tapi, saya tidak akan mundur dan meninggalkan tempat tugas ini. Perjalanan hidupku sangat terkait erat dengan perjalanan hidup saudara-saudarku di lapangan.”
 
Di lapangan, saya temukan wajah kawan-kawan yang tidak saya kira sebelumnya, ternyata mereka juga menjadi relawan dalam keadaan genting .. super genting. Saya pun sadar, hidup saya sudah ada yang Maha Mengatur.
 
Fajar pun menyingsing. Usai shalat Shubuh, saya waspada saat rakaat kedua. Karena memang sudah 2 kali, tragedi pembantaian itu dilakukan saat rakaat kedua. Terbersit dalam pikiran, “Wah berarti peringatan tadi malam salah! Bisa-bisanya aja! Mungkin perang psikologis!”
 
Saat ini, rasa letih tak kuasa ditahan. Setelah semalaman bertugas, rasa ngantuk pun hinggap. “Ahh .. saya rehat dulu 2 jam. Semoga bisa jadi energi setelahnya!”, aku berguman dalam hati.
 
Namun, baru saja satu jam mata terlelap. Saya terbangun! Teriakan demonstran sangat ramai. Bahkan teleponku berdering nyaring. “Ada serangan … ada serangan … ada serangan!” Saya masih terkantung dan berucap, “Ah .. ndak ada apa-apa .. mungkin rumor!”
 
Saya pun terus larut dalam kantuk. Namun sebelumnya saya lihat akun twitter berbunyi. Saya baca, ada serangan dari arah Tiba Mall. Asap telah membumbung di Tiba Mall. Saya pun mencium bau mesiu. Saya pun siaga!
 
Saya diperintahkan mengenakan masker anti gas air mata dan gas beracun. Kami siap-siap menerima korban syuhada yang ditembak peluru tajam. Korban-korban pun berdatangan. Saya lihat banyak juga yang syahid dengan luka yang sangat besar, seakan bukan ditembak peluru tajam tapi peluru dengan diameter besar. Saya tak paham soal jenis senjata dan tidak pernah bekerja di RS militer. Tapi melihat lukanya sangat aneh. Otak-otaknya pecah berhamburan. Korban ada yang terpotong 20 cm. Bahkan kepala pecah, sedang isi kepala keluar. Ada juga yang disembelih dengan kondisi badan yang tercabik-cabik!
 
Korban terus berdatangan. Kami memberlakukan darurat! Semua ditangani dokter-dokter lapangan. Banyaknya korban yang tidak bisa ditangani, keberadaan ambulans sangat membantu untuk merujuk ke RS-RS. Namun jumlah dokter dengan korban yang tak berimbang, membuat kami harus memilih mana yang masih hidup dan mana yang sudah wafat. Saat itu, darah sudah membanjiri RS. Pembantaian itu benar-benar nyata dilakukan. Korban dipilih yang berada di dekat panggung orasi demonstran dekat Universitas Al-Azhar. Senjata yang digunakan adalah jenis senjata yang sangat mematikan.
 
Saya pun mati rasa. Dua jam kemudian saya baru tersadarkan saat bertemu dengan dokter lain. Mereka mengabarkan bahwa militer menembakkan gas air mata ke dalam RS. Beberapa dokter sudah menjadi korban. Kepanikan dalam RS tak bisa diindarkan. Sementara korban terus berdatangan. Malah banyak korban anak-anak yang dibunuh dengan kondisi leher patah, leher disembelih. Kami pun diperintahkan menutup jendela agar militer tidak lagi bisa menembakkan gas air mata.
 
Pada waktu yang sama, teman-teman dokter meminta bantuan kepadaku untuk mengurus korban di Tiba Mall! Mereka mengabari, bahwa pasukan khusus menangkap semua paramedis dan membiarkan korban berjatuhan tanpa perawatan. Saya tak bisa melupakan bagaimana korban luka benar-benar kehilangan otak-otaknya. Sungguh keadaan yang baru saya alami. Keadaan yang sangat sulit! Keadaan yang belum pernah dihadapi saat ujian praktik kedokteran! Namun melihat korban-korban, saya menyaksikan mereka sangat antusias mengangkat telunjuk dan mengucapkan syahadat siap bertemu dengan Allah Ta’ala.
 
Jumlah korban yang berdatangan membuat RS Rab’ah penuh. Akhirnya, mayat-mayat yang ada menjadi penopang bagi korban luka-luka yang masih hidup. Saat itu tiba-tiba terdengar suara tembakan dan teriakan prajurit teramat dekat. Saya merasa, RS pun akan menjadi target serangan. Betul! Di lantai atas, saya dengar Helikopter datang dan melemparkan gas air mata. Tak lama kemudian datang prajurit yang terjun dari helikopter. Mereka memeriksa tanda pengenal, menyita semua Memory Card kamera-TV-HP. Saya pun segera melemparkan HP setelah sebelumnya menyimpan memory card. Kemudian saya bergerak ke arah ruangan pers di samping ruangan saya.
 
Di ruangan pers RS Rab’ah, saya dapati korban-korban syuhada bergelimpangan! Pemandangan tragis! Hampir tak ada kata-kata yang pas untuk menggambarkannya! Kami pun akhirnya memisahkan para syuhada dengan yang terluka. Menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan!
 
Saat itu, terdengar bunyi “Tuk .. Tuk .. Tuk ..” ternyata gas beracun dilemparkan kepada kami. Saya pun pindah ke ruangan lain. Di sana saya bertemu dengan Abdullah Asy-Syaami, wartawan AlJazeera yang terkurung. Ia pun tak bisa lagi menyampaikan siarannya! Sinyal teramat jelek. Saya merasa, RS dilempari sesuatu. Ternyata gas air mata. Di luar teriakan terdengar, “Awas .. hati-hati RS diserang! Mereka akan menangkapi paramedis!” “Waduh … habis kita ini, pasti akan ditangkapi.” Saya buka jendela belakang, saya lihat di luar pasien berserakan dikerubuti keluarganya. Terbersit untuk melemparkan HP. Saya pun refleks melakukannya. Saya tuliskan nomor HP keluaga, sembari memberi isyarat agar yang menerima HP dan tas saya menghubungi nomor telepon yang sudah saya tulis.
 
Saya dengar suara sepatu, prajurit polisi dan tentara dengan pakaian serba hitam bersenjata lengkap datang. Benar, mereka memegang dan membentak-bentak, “Ikut keluar atau mau ikut terbaring bersama di sini!” Keluarga pasien di dalam teriak, “Ia itu dokter!” Tapi dengan kasar dan keras ia memaksa kami untuk keluar ruangan! Saya masih sempat meminta mereka untuk mengizinkan agar yang masih hidup dan terluka dikeluarkan juga. Namun mereka menolak! Mereka berkata, “Pilih mana, pergi atau ditembak kedua kaki kamu!”
 
Ketika saya keluar, saya lihat pemandangan mengerikan. Semua terbakar! Masjid, RS, hingga ruang pers. Seakan pemdangan Kairo tahun 50-an. Pemandangan yang saya lihat di filem-filem, lengkap suara musik-senjata-ledakan bom-ledakan gas. Saya dengar teriakan warga-warga yang menjadi korban, “Tolonglah dokter! Lakukan sesuatu!” Saat itulah aku merasakan doa, “Ya Allah aku berlindung kepada Engkaudari ketidakberdayaan dan kefakiran!” Belum melangkah untuk melakukan apapun. Terdengar suara lantang mikrophone, “Semuanya harus menyerah! Angkat tangan di atas kepala!” Saya teringat doa baginda Nabi saat dilempari batu di Tha’if, “Ya Allah, hamba mengadu kepada Engkau lemahnya kekuatan hamba, minimnya usaha hamba, dan ketidakmampuan hamba menolong manusia! Engkau adalah Tuhan orang-orang yang dilemahkan dan Engkau adalah Rabbku! Kepada siapa lagi hamba mengadu! Apakah kepada ayah yang jauh atau kepada musuh yang telah menguasai kami!”
 
Sungguh, tragedi Rab’ah dan An-Nahdhah bukanlah pertikaian politik. Bukan pula pembubaran demonstran! Di awal-awal, kami tak pernah mendengar peringatan untuk menyerah atau peringatan lainnya. Kami yakin tragedi Rab’ah adalah pembantaian! Atau apapun istilahnya! Karena saat perang saja, korban luka-luka mendapatkan hak khusus ke RS terdekat! Ini sama sekali tidak!
 
Apakah saat pertempuran berkecamuk dibolehkan membakar mayat? Dibolehkan membakar korban luka yang masih hidup? Sungguh saya lihat keesokan harinya, di Masjid Al-Iman korban syuhada dalam keadaan hangus terbakar! Ada yang terbakar seluruhnya! Ada mayat yang terbakar badannya saja! Saya masih bisa melihat mayat yang memancarkan aura ketakutan dan rasa sakit luar biasa!
 
Yang saya tulis adalah kisah hakiki! Benar-benar terjadi! Bukan filem karya Stephen Seagel atau filem Armageddon! Semua yang terjadi adalah: pemusnahan/genosida atau apapun istilahnya! Uniknya banyak yang buta mata hatinya, saat menuduh bahwa demonstran Rab’ah dan An-Nahdhah membawa senjata! Saya katakan kepada mereka, “Wahai orang buta hati, buta nurani, dan buta mata sekalian! Jika memang demonstran memiliki senjata, akankah terjadi pembantaian tersebut? Kalian benar-benar kehilangan akal!”
 
Terus terang, 1 minggu setelah tragedi itu! Saya lelah, letih, dan tak sudi lagi berdialog dengan orang-orang yang kehilangan nalar, mati akalnya, dan disfungsi mata dan penglihatan jiwanya. Saya berikan kesaksian ini kepada siapapun yang ingin memberikan sumbangsih, walaupun sumbangsih minimal berupa keterkejutan dengan apa yang terjadi.
 
Saya tidak akan menyampaikan apa yang membuat Allah murka.

© 2017 Nandang Burhanudin All Rights Reserved   

Theme Smartpress by Level9themes.