Nandang Burhanudin Pakar Peradaban Islam

Syaikh Mujahid dan Syaikh Anti Jihad

Syaikh Mujahid dan Syaikh Anti Jihad
By: Nandang Burhanudin
****
Ulama itu pewaris para nabi. Warisan para ulama adalah sikap hidup. Di era kontemporer warisan para ulama sangat beragam. Imam Al-Banna mewariskan Ikhwanul Muslimin yang antipenjajah dan sepanjang hidupnya tercatat manis dalam sejarah emas, sebagai mobilisator mujahidin plus kreator serangan terhadap Israel.

Ada juga Asy-SYahid Sayyid Quthb. Buku-bukunya menjadi nutrisi gizi terbaik bagi jiwa-jiwa muharrik, yang enggan diinjak-injak oleh penjajah. Terinspirasi dari karya beliau lahirlah Syaikh Al-Mubarakfuri, Syaikh Al-Qaradhawi, Syaikh Umar Tilmitsani, Syaikh Husaini. Semua sepakat; menolak berkompromi dengan penjajah.

Kini dari Bangladesh, jejak-jejak mujahid hakiki itu lahir. Dialah Syaikh Abdul Qadir Mala. Syaikh yang hari Kamis lalu digantung pemerintah sekuler Bangladesh. Hanya karena Syaikh Mala menolak berkompromi dengan pemerintah.

Perhatikan pesan monumental beliau dengan ulama yang antijihad dan hanya melahirkan buku-buku yang kontroversial, miskin makna, namun dianggap monumental dan spektakuler oleh pengikutnya. Syaikh Mala mengatakan berwasiat kepada putra-putrinya, “Sungguh aku adalah pemimpin kalian. Tapi jika pemerintah (Bangladesh) membunuhku dengan cara-cara yang tidak sesuai syariat dan tidak sesuai konsitutis, maka aku akan mati seperti kematian para syuhada. Saat itulah, hanya Allah yang akan menjadi Pemimpin kalian setelah aku menemui syahid. Allah Maha Terbaik dalam menjaga dan Maha Terbaik dalam memimpin.

Ketahuilah, aku dibunuh hanya karena diriku loyal terhadap gerakan Islam. Ketahuilah tak semua orang mampu meraih derajat syuhada. Aku merasa, syahidku adalah pemuliaan dan penghormatan Allah terhadapku. Sesuatu yang tidak bisa aku raih saat aku hidup. Ketika aku syahid, aku merasakah nikmatnya syahadah yang tidak akan ada kenimatan sebesar mati syahid.

Camkanlah, semua tetes darahku akan menjadi jaminan binasanya penguasa zhalim yang otoriter. Gerakan Islam akan semakin besar dan enerjik. Aku sama sekali tidak merasa khawatir dengan diriku, sebesar kekhawatiranku terhadap masa depan negeriku dan masa depan gerakan serta kebangkitan Islam di negeri ini (Bangladesh). Kini aku telah menyerahkan hidupku, sebagai tebusan bagi kesegaran gerakan Islam. Sungguh Allah akan menjadi saksi dari apa yang aku katakan.”

Adakah nasihat-nasihat menggelegar dari ulama corong penguasa atau ulama yang memilih berkompromi dengan penjajah? Yakinlah tidak!

Musibah Lanjut Musibah

Musibah Lanjut Musib

By: Nandang Burhanudin

*****

 

(1)

Tidaklah Islam dan umat Islam dihinakan, melainkan sebab pintu jihad atau perang sabil sudah disingkirkan.

 

(2)

Ruh mujahidin di negeri Muslim selalu dikawal IM di Timur Tengah, Jemaat Islami di Asia Tengah, mujahidin Chechnya di Eropa.

 

(3)

Lihat kondisi Mesir dan Bangladesh usai menghinakan IM dan Jemaat Islami? Kedua negeri menjadi Islamophobia.

 

(4)

Saat IM dihinakan UAE, di waktu yang sama mereka memuliakan Yahudi dan penyembah berhala. Sama halnya Mesir dan Teluk.

 

(5)

Sikap Bangladesh tak jauh beda. Sukses mengeksekusi Syaikh Muthiurrahman Nizhami tanggal 10 Mei 2016.

 

(6)

Kini, Bangladesh pula menjadi pelengkap penderitaan Muslim Rohingya, usai menutup perbatasannya untuk pengungsi.

 

(7)

Sama seperti negara Teluk yang menutup perbatasan untuk Syiria, Irak atau Mesir menutup Gaza di Palestina.

 

(8)

Ingat perkataan keturunan Lawrance Arab. “Kami memerangi semua Muslim di dunia, sedang mata kami fokus menaklukkan AlQuds Palestina.”

 

(9)

Ingat pula pesan emas Syaikh Muthiurran Nizhami, “Saya sekejap lagi akan menemui Rabbku di tiang gantungan. Tapi saya mempertanyakan sikap abai dan lalai umat 1 milyar! Jawaban apa yang akan kalian jawab kelak atas sikap diam membiarkan kezhaliman?”

 

(10)

Tidaklah Islamophobia menguat, disebabkan harakah Islamnya mengendur, mendengkur, atau hidup tak lagi akur dengan kawan sedulur.

 

(11)

Indonesia, jika harakah Islamnya terus melemah, maka kebatilan akan merajalela didukung ulama suu dan budak penguasa.

 

(12)

Buat apa mereformasi Indonesia di 1998, jika kita tak mampu membendung Islamophobia, bahkan gagal menutup tunas kebangkitan mereka.

 

(13)

“Jawaban apa yang akan kalian jawab kelak atas sikap diam membiarkan kezhaliman?” Akankah jabatan mentereng dan posisi struktural itu jadi jawaban?

 

Bertempur di Medan Hati

Bertempur di Medan Hati

By: Nandang Burhanudin

*****

(1)

Suatu ketika Umar bin Khatthab r.a. melakukan kunjungan tugas menginpeksi pasukan di garda tempur Damaskus Syam.

 

(2)

Panglima tempur jabhah Syam dipegang oleh Abu Ubaidah AlJarrah. Sosok sahabat yang dijuluki Penjaga Rahasia umat ini (kaatim as-sirri hadzihil ummah).

 

(3)

Saat makan siang tiba. Abu Ubaidah bertanya, “Wahai Amirul Mukmimin dimana Anda hendak makan siang. Bareng bersama prajurit atau bareng menikmati hidangan komandan lapangan?”

 

(4)

“Kita lihat dua-duanya.” Jawab Amirul Mukminin. Beliau takjub pas melihat hidangan prajurit tempur: daging, keju terbaik, dan madu. Lalu beliau pindah melihat hidangan para komandan; roti kering dan susu. “Benarlah Nabi yang menjulukimu penjaga rahasia umat ini”, tegas Umar.

 

(5)

Meniru kisah ideal sahabat, biasanya diambil yang pas dengan kepentingan. Jika tidak cocok dan bertentangan dengan kepentingan, kisah-kisah ideal disembunyikan. Jika pas, diobral gagah.

 

(6)

Model Abu Ubaidah yang memuliakan prajurit lapangan, hampir tidak ditemukan dalam perjuangan umat Islam kini, terlebih yang berjuang di medan politik. Mahmud Abbas misalnya, menghabiskan fasilitas mewah yang harus menjadi jatah rakyatnya.

 

(7)

Mungkin para pemimpin HAMAS di Gaza, bersikap sama rata sama gaya dengan mujahidin lapangan. Bertadhiyyah yang sama dengan tadhiyyah prajurit tempur. Sama-sama berjuang. Tidak mendoktrin prajurit berjuang, lalu komandan ber-uang.

 

(8)

Dalam kehidupan kita, spirit perjuangan pudar seiring dengan kemewahan fasilitas dan kewahan transferan. Saat itu, nasib prajurit hanya berakhir sebagai batu bata yang tak lama lagi dilupakan. Posisi komandan hanya dipisahkan kematian.

 

(9)

Kita merindu sosok Amirul Mukmini ln Umar bin Khatthab yang dalam segala kesibukannya aktif turun memotivasi prajurit tempur. Beliau tidak cukup menerima laporan di belakang meja, lalu pamer tongkat komando menakuti bawahan.

 

(10)

Kita merindu sosok Abu Ubaidah AlJarrah yang memuliakan prajurit tempur, mengalahkan dirinya. Sebab qiyadah melekat pada keteladanan dan perhatian, bukan pada jubah kebesaran posisi jabatan. Wallahu A’lam.

Menyelami Berkah Ormas Islam di Pilgub Jabar

Menyelami Berkah Ormas Islam di Pilgub Jabar

By: Nandang Burhanudin

******

 

(1)

“Para pemimpin terbaik paling mungkin ditemukan pada para pimpinan jemaat-jemaat agama besar, karena ia memiliki kemampuan yang mengejutkan dalam merekrut, mempertahankan, memberi inspirasi, menyatukan, membangun jaringan dan menggalang dana, termasuk menanamkan dan membangun kepercayaan”. (Peter F. Drucker)

 

(2)

“Jika suatu umat melalaikan agamanya, maka umat tersebut akan dikuasai bangsa-bangsa lain. Jika satu umat abai dengan  hal yang bisa mengangkatnya meraih puncak peradaban, maka umat tersebut akan jadi tawanan keburukan bangsa lain.” (Sultan Erdogan)

 

(3)

Pandangan 2 tokoh dari dua kutub berbeda semakin meneguhkan, bahwa komunitas Ormas tidak bisa diabaikan atau dipandang sebelah mata. NU KH. Agiel Siradj sudah bisa dibaca arahnya.  Persis, Muhammadiyah, PUI, AlIrsyad, akan berada di pilihan berbeda.

 

(4)

Berkaca di Pilgub Jabar 2008 dan 2013,  peran Ormas menggerakkan jamaahnya melalui media pengajian dan khutbah Jumat sangat signifikan. Sinergitas yang dibangun dengan Parpol (PKS, PAN, PBB) berbuah manis: Aher double winner.

 

(6)

Di 2008, Aher-Dede yang dianggap anak bawang, alhamdulillah dengan izin Allah, Hade menang sangat signifikan di 18 kota/kabupaten di Jawa Barat, yang rata-rata kemenangannya antara 36-58 % suara. Sedangkan  Aman hanya menang di 5 daerah yaitu Ciamis, Kuningan, Kab.Tasik, Sumedang, Subang. Dan Dai hanya menang di 3 Kabupaten yaitu Purwakarta, Indramayu dan Banjar.

 

(7)

Ternyata di Kokab yang menang itulah, pengaruh Ormas semisal PUI dan Muhammadiyah sangat mengakar dan menyebar. Plus kalangan NU non Gusdurian (biasanya pemilih PPP bukan PKB) menjadi penyumbang suara yang juga lumayan signifikan.

 

(8)

Model Pilgub Jabar ini diduplikasi Pilgub DKI Jakarta kemarin. Koalisi gemuk parpol pendukung Ahox, rontok di hadapan koalisi tulus ikhlas ormas Islam. Islam liljami’ wa Jakarta lil muslim menjadi tren. Ahox KO dengan selisih 20 %. Kemenangan yang menyakitkan 9 siluman dan genderewo berpangkat.

 

(9)

Aher pun pandai membalas jasa Ormas. Kendati kader PUI, Aher justru menjadi Bapak semua ormas Islam, tak terkecuali NU Gusdurian. Silaturahmi yang dijalin Aher pun sangat intens. Maka posisi Aher menjadi Ketua Pemenangan Pilgub Jabar, sejatinya membuka lebar bagi Ormas di Jabar.

 

(10)

Dedy Mizwar, Cagub seksi telah menunjukkan kelas narasinya. Berotak besar dan memiliki visi keumatan yang jelas, lugas, bernas. DPP PUI ada baiknya menjalin komunikasi dengan Demiz. Rekrut menjadi anggota kehormatan. Bukan demi uang, tapi demi memberi jalan terang agar Demiz tak dihantui dedemit yang menyesatkan.

Pilot dan Pramugara/i Pesawat Itu

Pilot dan Pramugara/i Pesawat Itu

By: Nandang Burhanudin

*****

 

(1)

2 minggu lalu, kami melakukan perjalanan dengan Saudia SV 815 Jakarta to Jeddah dan SV 816 Jeddah to Jakarta. Ada beberapa pengalaman.

 

(2)

Walaupun sama-sama satu perusahaan. Kami merasakan perlakuan dan sikap berbeda. Terutama pilot dan paramugara/i.

 

(3)

Pertama, saat boarding. Karena rombongan. Kami diwakili. Anehnya petugas darat tidak bisa membedakan calon penumpangnya.

 

(4)

Anak saya yang 9 bulan. Duduk di 50 J sendirian. Abinya di 47 H. Uminya di 40 E. Pasti bikin mumet. Pas komplain. Malah disuruh diam dan duduk.

 

(5)

Kedua, saat take off. Pilot nampak kasar. Kurang komunikatif. Terutama saat ada guncangan di tengah perjalanan.

 

(6)

Uniknya. Kru pesawat tidak memberikan hadiah cuma-cuma buat usia di bawah 3 tahun. Baru ngasih setelah diminta.

 

(7)

Ketiga, saat turun. Kami dibuat bingung. Kata kru pesawat. Tunggu dulu. Tapi giliran kita lama, eeh malah pasang wajah ketus.

 

(8)

Berbeda di penerbangan 816. Kami merasakan hal berbeda. Kru pesawat sangat kooperatif. Tidak mentang-mentang. Bahkan pilotnya pun, imformatif.

 

(9)

Saya dan keluarga tidak kenal siapa pilotnya. Kami tsiqoh 2000 % dan tawakal hanya kepada Allah. Namun dari 2 gaya pilot tadi, mana yang bikin tumakninah?

 

(10)

Kami pun paham. Kru pesawat itu adalah pekerjaan berat. Tapi, menyembunyikan ketegangan di balik senyum. Jauh menentramkan.

 

(11)

Sebagai penumpang. Kita tidak harus tahu banyak masalah pesawat,  rute penerbangan, musyawarah antar kru dan pilot co pilot.

 

(12)

Bagi kami. Yang penting sampai tujuan. Suguhan bergizi. Khidmat excellent. Soal ada guncangan. Kami tak berhak ikut rembug. Sebab kami terikat aturan harus pakai safety belt, melipat meja, menegakkan kursi.

 

(13)

Tapi. Minta tolong, kru pesawat jangan antikritik. Pahami latarbelakang penumpang. Berikan apa yang menjadi hak penumpang. Jangan bilang, pesawat ini tidak butuh anda. Anda yang butuh kami.

 

(14)

Sebab kalau penerbangan gak ada penumpang dan gak bayar tiket. Sebesar apapun perusahaan, akan bangkrut. Tengok Turkish Airlines. Kini jadi jawara Eropa dan dunia.

 

(15)

Perlakukan wajar saja, jika di antara kami berasal dari kampung. Gak ngerti kata PUSH…PULL..atau istilah Arab lain. Bimbing dengan bijak. Bukankah itu tugas kru pesawat.

 

(16)

Pilot juga jangan bilang kami sok tahu, kalau coba menerka ada apa di balik guncangan: petir kah? Angin kah? Atau ada serangan teror.

 

(17)

Nah pesan saya pada penumpang. Sabar. Duduk manis. Baca semua petunjuk perjalanan. Liat layar jangan hanya nonton hiburan. Satu lagi. Jangan berebutan.

 

(18)

  • Safety first. Sebab tak akan ada penerbangan yang menerlantarkan penumpangnya. Kecuali penerbangan yang abal-abal, tak punya misi NAIK…NAIK…

Tragedi Rab’ah yang Terlupakan

Tragedi Rab’ah yang Terlupakan
By: Nandang Burhanudin
*****
 
Dunia melupakan tragedi Rab’ah, 14 Agustus 2013. Tidak ada pengadilan HAM. Dunia Arab dan Islam terus dikoyak-koyak dengan ragam tragedi; Syiria, Palestina, Irak, Rohingya, Yaman. Dunia pun abai, ada seorang presiden hasil pemilu demokratis yang kini masih mendengkam di penjara As-Sisi. Semua sibuk sendiri-sendiri.
 
Saya kembali hadirkan kesaksian pelaku sejarah di tragedi Rab’ah II dan An-Nahdhah. Kesaksian dokter Bayad Fateema, Dokter Saksi Sejarah!
****
 
Rasanya jiwa ini tersayat, jika kisah terperinci seputar pembantaian Rab’ah tidak disampaikan. Biarlah saya siap meanggung risikonya, asalkan dunia tahu bahwa di Rab’ah ada genosida hanya karena perbedaan pandangan politik.
 
Saya adalah dokter jaga. Bertugas sebagai dokter bedah tulang. Saya baru bertugas sejak tragedi pembantaian shalat Shubuh di depan Mako Garda Republik, tentu sebelumnya saya pun aktif bergabung bersama gerakan antikudeta di Rab’ah.
 
Pada malam tragedi Rab’ah II, terdengar intruksi dan ancaman kepada seluruh dokter di RS Lapangan Rab’ah untuk meninggalkan RS. Mereka mengancam, jangan sia-siakan nyawa kalian! Segera pergi sebelum semua terlambat! Peringatan juga datang dari kawan-kawan dokter yang bertugas di RS militer. Salah satunya Fatimah. Menurutnya, akan ada peristiwa dan segeralah pergi! Aku pun menjawab, “Terimakasih atas peringatannya. Tapi, saya tidak akan mundur dan meninggalkan tempat tugas ini. Perjalanan hidupku sangat terkait erat dengan perjalanan hidup saudara-saudarku di lapangan.”
 
Di lapangan, saya temukan wajah kawan-kawan yang tidak saya kira sebelumnya, ternyata mereka juga menjadi relawan dalam keadaan genting .. super genting. Saya pun sadar, hidup saya sudah ada yang Maha Mengatur.
 
Fajar pun menyingsing. Usai shalat Shubuh, saya waspada saat rakaat kedua. Karena memang sudah 2 kali, tragedi pembantaian itu dilakukan saat rakaat kedua. Terbersit dalam pikiran, “Wah berarti peringatan tadi malam salah! Bisa-bisanya aja! Mungkin perang psikologis!”
 
Saat ini, rasa letih tak kuasa ditahan. Setelah semalaman bertugas, rasa ngantuk pun hinggap. “Ahh .. saya rehat dulu 2 jam. Semoga bisa jadi energi setelahnya!”, aku berguman dalam hati.
 
Namun, baru saja satu jam mata terlelap. Saya terbangun! Teriakan demonstran sangat ramai. Bahkan teleponku berdering nyaring. “Ada serangan … ada serangan … ada serangan!” Saya masih terkantung dan berucap, “Ah .. ndak ada apa-apa .. mungkin rumor!”
 
Saya pun terus larut dalam kantuk. Namun sebelumnya saya lihat akun twitter berbunyi. Saya baca, ada serangan dari arah Tiba Mall. Asap telah membumbung di Tiba Mall. Saya pun mencium bau mesiu. Saya pun siaga!
 
Saya diperintahkan mengenakan masker anti gas air mata dan gas beracun. Kami siap-siap menerima korban syuhada yang ditembak peluru tajam. Korban-korban pun berdatangan. Saya lihat banyak juga yang syahid dengan luka yang sangat besar, seakan bukan ditembak peluru tajam tapi peluru dengan diameter besar. Saya tak paham soal jenis senjata dan tidak pernah bekerja di RS militer. Tapi melihat lukanya sangat aneh. Otak-otaknya pecah berhamburan. Korban ada yang terpotong 20 cm. Bahkan kepala pecah, sedang isi kepala keluar. Ada juga yang disembelih dengan kondisi badan yang tercabik-cabik!
 
Korban terus berdatangan. Kami memberlakukan darurat! Semua ditangani dokter-dokter lapangan. Banyaknya korban yang tidak bisa ditangani, keberadaan ambulans sangat membantu untuk merujuk ke RS-RS. Namun jumlah dokter dengan korban yang tak berimbang, membuat kami harus memilih mana yang masih hidup dan mana yang sudah wafat. Saat itu, darah sudah membanjiri RS. Pembantaian itu benar-benar nyata dilakukan. Korban dipilih yang berada di dekat panggung orasi demonstran dekat Universitas Al-Azhar. Senjata yang digunakan adalah jenis senjata yang sangat mematikan.
 
Saya pun mati rasa. Dua jam kemudian saya baru tersadarkan saat bertemu dengan dokter lain. Mereka mengabarkan bahwa militer menembakkan gas air mata ke dalam RS. Beberapa dokter sudah menjadi korban. Kepanikan dalam RS tak bisa diindarkan. Sementara korban terus berdatangan. Malah banyak korban anak-anak yang dibunuh dengan kondisi leher patah, leher disembelih. Kami pun diperintahkan menutup jendela agar militer tidak lagi bisa menembakkan gas air mata.
 
Pada waktu yang sama, teman-teman dokter meminta bantuan kepadaku untuk mengurus korban di Tiba Mall! Mereka mengabari, bahwa pasukan khusus menangkap semua paramedis dan membiarkan korban berjatuhan tanpa perawatan. Saya tak bisa melupakan bagaimana korban luka benar-benar kehilangan otak-otaknya. Sungguh keadaan yang baru saya alami. Keadaan yang sangat sulit! Keadaan yang belum pernah dihadapi saat ujian praktik kedokteran! Namun melihat korban-korban, saya menyaksikan mereka sangat antusias mengangkat telunjuk dan mengucapkan syahadat siap bertemu dengan Allah Ta’ala.
 
Jumlah korban yang berdatangan membuat RS Rab’ah penuh. Akhirnya, mayat-mayat yang ada menjadi penopang bagi korban luka-luka yang masih hidup. Saat itu tiba-tiba terdengar suara tembakan dan teriakan prajurit teramat dekat. Saya merasa, RS pun akan menjadi target serangan. Betul! Di lantai atas, saya dengar Helikopter datang dan melemparkan gas air mata. Tak lama kemudian datang prajurit yang terjun dari helikopter. Mereka memeriksa tanda pengenal, menyita semua Memory Card kamera-TV-HP. Saya pun segera melemparkan HP setelah sebelumnya menyimpan memory card. Kemudian saya bergerak ke arah ruangan pers di samping ruangan saya.
 
Di ruangan pers RS Rab’ah, saya dapati korban-korban syuhada bergelimpangan! Pemandangan tragis! Hampir tak ada kata-kata yang pas untuk menggambarkannya! Kami pun akhirnya memisahkan para syuhada dengan yang terluka. Menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan!
 
Saat itu, terdengar bunyi “Tuk .. Tuk .. Tuk ..” ternyata gas beracun dilemparkan kepada kami. Saya pun pindah ke ruangan lain. Di sana saya bertemu dengan Abdullah Asy-Syaami, wartawan AlJazeera yang terkurung. Ia pun tak bisa lagi menyampaikan siarannya! Sinyal teramat jelek. Saya merasa, RS dilempari sesuatu. Ternyata gas air mata. Di luar teriakan terdengar, “Awas .. hati-hati RS diserang! Mereka akan menangkapi paramedis!” “Waduh … habis kita ini, pasti akan ditangkapi.” Saya buka jendela belakang, saya lihat di luar pasien berserakan dikerubuti keluarganya. Terbersit untuk melemparkan HP. Saya pun refleks melakukannya. Saya tuliskan nomor HP keluaga, sembari memberi isyarat agar yang menerima HP dan tas saya menghubungi nomor telepon yang sudah saya tulis.
 
Saya dengar suara sepatu, prajurit polisi dan tentara dengan pakaian serba hitam bersenjata lengkap datang. Benar, mereka memegang dan membentak-bentak, “Ikut keluar atau mau ikut terbaring bersama di sini!” Keluarga pasien di dalam teriak, “Ia itu dokter!” Tapi dengan kasar dan keras ia memaksa kami untuk keluar ruangan! Saya masih sempat meminta mereka untuk mengizinkan agar yang masih hidup dan terluka dikeluarkan juga. Namun mereka menolak! Mereka berkata, “Pilih mana, pergi atau ditembak kedua kaki kamu!”
 
Ketika saya keluar, saya lihat pemandangan mengerikan. Semua terbakar! Masjid, RS, hingga ruang pers. Seakan pemdangan Kairo tahun 50-an. Pemandangan yang saya lihat di filem-filem, lengkap suara musik-senjata-ledakan bom-ledakan gas. Saya dengar teriakan warga-warga yang menjadi korban, “Tolonglah dokter! Lakukan sesuatu!” Saat itulah aku merasakan doa, “Ya Allah aku berlindung kepada Engkaudari ketidakberdayaan dan kefakiran!” Belum melangkah untuk melakukan apapun. Terdengar suara lantang mikrophone, “Semuanya harus menyerah! Angkat tangan di atas kepala!” Saya teringat doa baginda Nabi saat dilempari batu di Tha’if, “Ya Allah, hamba mengadu kepada Engkau lemahnya kekuatan hamba, minimnya usaha hamba, dan ketidakmampuan hamba menolong manusia! Engkau adalah Tuhan orang-orang yang dilemahkan dan Engkau adalah Rabbku! Kepada siapa lagi hamba mengadu! Apakah kepada ayah yang jauh atau kepada musuh yang telah menguasai kami!”
 
Sungguh, tragedi Rab’ah dan An-Nahdhah bukanlah pertikaian politik. Bukan pula pembubaran demonstran! Di awal-awal, kami tak pernah mendengar peringatan untuk menyerah atau peringatan lainnya. Kami yakin tragedi Rab’ah adalah pembantaian! Atau apapun istilahnya! Karena saat perang saja, korban luka-luka mendapatkan hak khusus ke RS terdekat! Ini sama sekali tidak!
 
Apakah saat pertempuran berkecamuk dibolehkan membakar mayat? Dibolehkan membakar korban luka yang masih hidup? Sungguh saya lihat keesokan harinya, di Masjid Al-Iman korban syuhada dalam keadaan hangus terbakar! Ada yang terbakar seluruhnya! Ada mayat yang terbakar badannya saja! Saya masih bisa melihat mayat yang memancarkan aura ketakutan dan rasa sakit luar biasa!
 
Yang saya tulis adalah kisah hakiki! Benar-benar terjadi! Bukan filem karya Stephen Seagel atau filem Armageddon! Semua yang terjadi adalah: pemusnahan/genosida atau apapun istilahnya! Uniknya banyak yang buta mata hatinya, saat menuduh bahwa demonstran Rab’ah dan An-Nahdhah membawa senjata! Saya katakan kepada mereka, “Wahai orang buta hati, buta nurani, dan buta mata sekalian! Jika memang demonstran memiliki senjata, akankah terjadi pembantaian tersebut? Kalian benar-benar kehilangan akal!”
 
Terus terang, 1 minggu setelah tragedi itu! Saya lelah, letih, dan tak sudi lagi berdialog dengan orang-orang yang kehilangan nalar, mati akalnya, dan disfungsi mata dan penglihatan jiwanya. Saya berikan kesaksian ini kepada siapapun yang ingin memberikan sumbangsih, walaupun sumbangsih minimal berupa keterkejutan dengan apa yang terjadi.
 
Saya tidak akan menyampaikan apa yang membuat Allah murka.

3 Kekuatan Memenangkan Pilgub Jabar

3 Kekuatan Memenangkan Pilgub Jabar
By: Nandang Burhanudin
******

(1)
Di tulisan kemarin, saya menyebut bahwa memenangkan anasir kebajikan di Pilgub Jabar adalah fardhu ‘ain: melekat pada jiwa setiap Muslim yang cinta Islam dan Indonesia.

(2)
Eksponen ABI 411, 212 yang berjumlah jutaan, cukup menggerakkan ruh-ruh perlawanan terhadap anarkisme keburukan. Selamatkan Jabar, untuk Indonesia selamat.

(3)
Mereka adalah kalangan terdidik, mukhlis, mukhlas dan tak memiliki tendensi politik selain mendorong penguasa agar mampu menghadirkan Syariat Allah dalam kehidupan.

(4)
The silent power. Tidak dikomando parpol tertentu. Steril dari taklimat ormas tertentu. Murni yang diperjuangkan, membela Islam dan menjaga izzah umat Islam di hadapan musuh.

(5)
Itulah kekuatan utama yang harus diresapi Cagub-Cawagub, meneguhkan Jabar paling tidak sama seperti yang dilakukan Aher, gubernur dari PKS.

(6)
Kekuatan selanjutnya adalah kekuatan relawan alias kader-kader PKS. Relawan yang seringkali tidak masuk dalam ongkos politik. Tapi selalu jadi suplemen yang menyegarkan.

(7)
Silahkan hitung ongkos politik Pilgub Jabar. Sekedar dana untuk fee saksi di 75.000 TPS, sudah belasan milyar. Khas untuk kader PKS, Calon hanya bermodal salaman.

(8)
Kader PKS juga rerata adalah aktivis kemanusiaan yang dekat dengan kaum kecil alias kaum marjinal. Tabungan kebaikan para relawan itulah yang membuat Calon tak perlu susah payah pasang iklan puluhan milyar.

(9)
Relawan PKS siap jadi penyambung lidah, sumber informasi, bahkan mengadvokasi. Hal yang mustahil dilakukan Cagub-Cawagub. Relawan PKS ujung tombak dan lebih sering juga menjadi ujung tombok.

(10)
Jadi kalau begitu, apa kerja Cagub-Cawagub? Fokuslah memperjuangkan narasi keumatan, supremasi hukum, keadilan sosial. Lalu perjelas sikap soal Meikarta, hak pribumi, dan jangan biarkan Jabar jadi pusat Kristenisasi.

(11)
Itu saja. Mudah kan? Sisanya, alumni 411, 212 dan relawan PKS siap berjibaku memperjuangkan. Ketahuilah, takdir kemenangan itu dekat.

Ukhuwwah Sang Landak

Ukhuwwah Sang Landak
By: Nandang Burhanudin
*****

Kita tahu landak berduri. Tajam. Mematikan. Tapi kita tak tahu. Ternyata dalam kondisi ekstrim dingin. Konon landak saling mendekat, menghangatkan tubuhnya.

Landak dihadapkan pada 2 pilihan. Tetap berjauhan. Namun rawan diterjang kematian. Atau mereka saling mendekatkan. Sakit memang. Tapi sakit yang tidak mematikan.

Pun demikian kita yang bukan makhluk setengah malaikat. Ada saat-saat ketika kita berjarak. Ruang itulah yang mematikan. Celah yang bisa dirasuki setan, jin dan manusia.

Sebaliknya. Ketika kita berdekatan. Kehangatan hadir mengisi relung jiwa hingga tulang belulang. Namun keakraban itu acap mendatangkan gap, mispersepsi, salah paham. Selama tidak mematikan. Rasa sakit itu justru menyehatkan.

Ketahuilah. Berharap meraup kawan tanpa cacat. Siap-siap kecewa berat. Mencari jalinan ukuwwah tanpa keluh kesah. Siap-siap gelisah. Kecewa. Sakit. Tersinggung. Semua lumrah.

Kita tak boleh lari. Sebab lari dari masalah cermin kita belum dewasa. Apalagi berbuat sesuka hati, seiring tongkat kuasa yang diselewengkan menjadi komando penentu hitam putih seseorang.

Berkaca pada landak. Tusukan durinya nan tajam. Justru menguatkan. Landak tahu. Jalin keselamatan dari cuaca dan situasi ekstrim, bukan dengan mencari aman. Tapi merasakan nyaman setiap duri kasih sayang.

Ukhuwwah landak mencengangkan!

Tn. Erdogan, Walikota yang Melegenda

Tn. Erdogan, Walikota yang Melegenda

By: Nandang Burhanudin

*****

 

(1)

Tahun 1993, puncak gunung sampah itu meledak. Istambul menjadi kota bau. Area kota Umrania benar-benar tak layak disebut kota. Bau sampah tercium sampai jauh.

 

(2)

Setahun kemudian, Tn. Erdogan terpilih menjadi walikota Istanbul. Tanpa orasi klemar-klemer, Tn. Erdogan sukses menata Istanbul menjadi wahana surga.

 

(3)

5 tahun kemudian, area Umrania menjadi pusat perbankan nasional. Gedung-gedung tersusun rapih. Saat ini Umrania menjadi pusat bisnis mahal di Istanbul.

 

(4)

Prestasi Tn. Erdogan berbuah manis. Rakyat Turki mengganjarnya dengan kemenangan partai berhaluan Islam AKP dan didapuk memimpin Turki tahun 2002.

 

(5)

Kini elektabilitas Tn. Erdogan mencapai 67.6 % dan AKP nya meraih 46.7 %. Capaian suara yang tak bisa disamai partai liberalis sekularis. AKP di 16 tahun 16 Agustus kemarin banjir pujian.

 

(6)

Sukses Tn. Erdogan menjadi platform bagi seluruh walikota, gubernur, menteri AKP di seluruh Turki: menang untuk menjadi pelayan, bukan cenayang yang hobi pencitraan.

 

(7)

Mobil pejabat setingkat walikota, gubernur, menteri acap dipakai rakyat biasa. Tentu saat mereka mengadukan keluhan di hotline yang salah satunya terhubung langsung dengan Tn. Erdogan.

 

(8)

Tak perlu moneypolitic saat kampanye atau pencoblosan. Sebab semua pejabat sudah menggelontorkan APBN untuk melindungi dan melayani rakyat. Gratisss! Listrik, gas, RS, pendidikan, yansos.

 

(9)

AKP adalah partai Islam yang tidak sekedar jjalan taat dan tsiqoh, atau kebingungan menentukan arah partai. Step by step raihan perjuangan dicapai, nyaris tanpa sikut-sikat-sakit-sekat.

 

(10)

Balas budi rakyat Turki untuk Tn. Erdogan dan AKP adalah pengorbanan jiwa raga menentang aksi kudeta militer Juli 2016. Loyalitas rakyat buah dari integritas dan jejaring kesuksesan yang nyata dan terasa.

 

(11)

Kesuksesan AKP kini sering jadi cerita dunia Arab dan dunia Islam. Tapi ruang keterbacaan sebatas pada retorika untuk melahirkan diktator gaya baru yang minus prestasi.

 

(12)

Bravo Tn. Erdogan! Maafkan kami di Indonesia baru jualan slogan! Anda jadi legenda!

Gerakan Islam dan Perang Generasi Keempat

Gerakan Islam dan Perang Generasi Keempat
By: Nandang Burhanudin
****

(1)
Prof DR Roger Graudi, seorang filsuf Marxis Perancis yang telah menjadi Muslim menegaskan soal fenomena perang generasi keempat.

(2)
Menurutnya, perang Zero Capital alias Nol Modal akan digerakkan Barat untuk menghancurkan Islam dan umat Islam.

(3)
Cirinya: umat Islam saling terlibat konflik, lalu belanja persenjataan, lalu saling bunuh. Kemudian meminta Barat untuk menghentikan perang. Barat jelas menolak.

(4)
Perang nol modal, Barat sama sekali tidak mengalami kerugian. Malah mereka mendapatkan keuntungan berlipat dari bisnis senjata. Setelah itu mereka pula yang menikmati hasil.

(5)
Tengok perang di Syiria. Koalisi yang dipimpin Saudi kalah. Demikian halnya perang Saudi di Yaman. Saudi pun menyerah. Saudi makin malu dengan gagalnya mengembargo Qatar.

(6)
Saya menyebutnya, perang kesia-siaan. Ujungnya, Trump meraup ratusan milyar dollar dari bisnis persenjataan yang digunakan untuk membunuhi sesama bangsa sendiri.

(7)
Di kancah perpolitikan tanah air, nampaknya operasi generasi keempat ini masih canggih. Tengoklah cara mereka menghancurkan parpol berbasis massa Islam di Indonesia misalnya.

(8)
PPP, PKB, PAN, juga PKS. Mereka masuk menyusupkan agennya yang kemudian aktif menciptakan perpecahan. Sasaran ribut. Lalu meminta pengadilan menyelesaikan.

(9)
Kisruh di Golkar, PPP adalah contoh hangat. Ujungnya mudah ditebak. Kekuatan parpol tersebut goyah. KMP bubar. Lalu satu sama lain saling berlomba menjadi penjilat.

(10)
Galak terhadap internal umat. Husnuzhan pada eksternal adalah bukti kesuksesan perang generasi keempat. Teluk minus Qatar sangat galak pada HAMAS, tapi adem pada Israel.

(11)
Rerata perang generasi keempat sukses memunculkan rezim-rezim diktator, yang tak boleh disentuh kritik atau evaluasi. Baginya negara dan organisasi adalah warisan darah biru. Orang lain hanya penumpang.

(12)
Kesuksesan itu disebabkan terciptanya suasana risk averse, takut mengambil resiko. Nyaman berada di Comfort Zone. Semua berada di posisi safety player. Terlena pujian, lupa persiapan.

(13)
Alasannya apalagi kalau bukan hubbud dunya wakarahiyatul maut. AsSisi dan Jokowi nyaris tanpa perlawanan. Tapi Emir Tamim dan Tn. Erdogan memilih bangkit melawan.

(14)
Melawan atau tidak, ujung-ujungnya dihabisi. Percayalah, mereka tidak akan pernah membiarkan gerakan Islam membesar. Kisaran 2-7 % toleransi yang mereka berikan.

(15)
Jadi bagi gerakan Islam, sepatutnya menyiapkan diri; kenali musuhmu sebelum mengebiri saudaramu. Jika tak kenal musuh, siap-siap saja dipermainkan musuh.

 

 

© 2017 Nandang Burhanudin All Rights Reserved   

Theme Smartpress by Level9themes.