Nandang Burhanudin Pakar Peradaban Islam

Tak Malu Mengaku Salah

Tak Malu Mengaku Salah
By: Nandang Burhanudin
*****

Sunnatullah. Manusia tempat salah dan dosa. Tapi manusia juga, terpilih menjadi khalifah. Berksh dari akhlak mulia menjadi mahkota. Salah dan keliru adalah hal lumrah. Tapi enggan mengakui khilaf, justru belenggu. Efeknya tidak hanya di dunia. Tapi di akhirat kelak.

Alkisah. Malaikat serentak melakukan penolakan terhadap kalangan yang hendak datang ke al-Haudh (telaga Rasulullah di surga). Penyebabnya, dikarenakan dahulu di dunia, mereka termasuk kalangan yang bersikukuh untuk berpegang pada kekeliruan, kesalahan dan kesesatan. Hal ini ditunjukkan dalam hadits, ketika para malaikat memberikan alasan kepada Nabi,

إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ، وَلَمْ يَزَالُوا يَرْجِعُونَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ، فَأَقُولُ: أَلَا سُحْقًا، سُحْقًا

“Mereka telah mengganti-ganti (ajaranmu) sepeninggalmu” maka kataku: “Menjauhlah sana… menjauhlah sana (kalau begitu)” [Shahih. HR. Ibnu Majah].

Nabi saw. bahkan mendoakan kecelakaan kepada mereka yang enggan melakukan introspeksi. Gengsi melakukan koreksi. Sigap menerima kebenaran yang ada di depan mata.

Muhasabah atau evaluasi diri merupakan cara mengoreksi diri. Tandanya menerima sikap rujuk dari kemaksiatan dan kekeliruan dalam suatu pendapat dan perbuatan.

Suami istri yang memilih bercerai dan enggan rujuk. Cermin mengutamakan sikap tafarrud (egosentris) daripada tajarrud (menyingkirkan emosional). Suatu kelompok yang bertikai, padahal dulu satu lingkaran perjuangan. Tanda ketidakdewasaan sikap. Apalagi jika menjadikan keputusan pengadilan sebagai ketetapan. Bukankah hukum AlQuran kebenaran yang dipegang?

Lalu mengapa susah sekali berdamai, mengedepankan muhasabah daripada menebar wabah penyakit dari akar hingga pucuk dedaunan? Mengapa tak introspeksi, bahwa yang berguguran di medan kebajikan bukan hanya ranting, daun, dan akar rumput. Tapi juga batang pohon yang nampak gagah tapi goyah, yang tak sadar digerogoti rayap?

Ada beberapa sebab, seorang pasangan suami istri atau kelompok organisasi susah rujuk dan muhasabah.

Pertama, menutup diri dari saran pihak lain. Mengeleminasi syuuro. Menolak mediasi. Menjadikan tongkat komando sebagai jurus sakti.

Seorang dapat terbantu untuk mengevaluasi diri dengan bermusyawarah bersama rekan dengan niat untuk mencari kebenaran. Imam Bukhari mengeluarkan suatu riwayat yang menceritakan usul Umar kepada Abu Bakar radhiallahu anhuma untuk mengumpulkan AlQuran. Tatkala itu Abu Bakar menolak usul tersebut. Namun Umar terus mendesak beliau dan mengatakan bahwa hal itu merupakan kebaikan. Pada akhirnya Abu Bakar pun menerima dan mengatakan,

فَلَمْ يَزَلْ عُمَرُ يُرَاجِعُنِي فِيهِ حَتَّى شَرَحَ اللَّهُ لِذَلِكَ صَدْرِي، وَرَأَيْتُ الَّذِي رَأَى عُمَرُ

“Umar senantiasa membujukku untuk mengevaluasi pendapatku dalam permasalahan itu, hingga Allah melapangkan hatiku dan akupun berpendapat sebagaimana pendapat Umar” [HR. AlBukhari].

Abu Bakar tidak bersikukuh dengan pendapatnya ketika terdapat usulan yang lebih baik. Kedudukan beliau yang lebih tinggi tidaklah menghalangi untuk menerima kebenaran dari pihak yang memiliki pendapat berbeda.

Kedua, tidak lagi mementingkan persahabatan dengan rekan yang shalih.

Salah satu sarana bagi seorang muslim untuk tetap berada di jalan yang benar adalah meminta rekan yang shalih untuk menasehati dan mengingatkan kekeliruan kita, meminta masukannya tentang solusi terbaik bagi suatu permasalahan, khususnya ketika orang lain tidak lagi peduli untuk saling mengingatkan. Bukankah selamanya pendapat dan pemikiran kita tidak lebih benar dan terarah daripada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, padahal beliau bersabda,

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ، أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ، فَإِذَا نَسِيتُ فَذَكِّرُونِي

“Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian. Aku lupa sebagaimana kalian lupa. Oleh karenanya, ingatkanlah aku ketika diriku lupa.” [HR. AlBukhari].

Ketika budaya saling menasehati dan mengingatkan tertanam dalam perilaku kaum mukminin, maka seakan-akan mereka itu adalah cermin bagi diri kita yang akan mendorong kita berlaku konsisten. Oleh karena itu, dalam menentukan jalan dan pendapat yang tepat, kita harus berteman dengan seorang yang shalih. Kita jangan mengalihkan pandangan kepada maddahin (kalangan penjilat) yang justru tidak akan mengingatkan akan kekeliruan saudaranya.

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِالْأَمِيرِ خَيْرًا جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ صِدْقٍ، إِنْ نَسِيَ ذَكَّرَهُ، وَإِنْ ذَكَرَ أَعَانَهُ

“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi diri seorang pemimpin/pejabat, maka Allah akan memberinya seorang pendamping/pembantu yang jujur yang akan mengingatkan jika dirinya lalai dan akan membantu jika dirinya ingat” [Shahih. HR. Abu Dawud].

Contoh nyata akan hal ini disebutkan dalam kisah al-Hur bin Qais, orang kepercayaan Umar bin Khaththab radhiallahu anhu. Pada saat itu, Umar murka dan hendak memukul Uyainah bin Husn karena bertindak kurang ajar kepada beliau, maka Al-Hur berkata kepada Umar,

يَا أَمِيرَ المُؤْمِنِينَ، إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {خُذِ العَفْوَ وَأْمُرْ بِالعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الجَاهِلِينَ} [الأعراف: 199] ، وَإِنَّ هَذَا مِنَ الجَاهِلِينَ، «وَاللَّهِ مَا جَاوَزَهَا عُمَرُ حِينَ تَلاَهَا عَلَيْهِ، وَكَانَ وَقَّافًا عِنْدَ كِتَابِ اللَّهِ»

“Wahai amir al-Mukminin, sesungguhnya Allah ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya, “Berikan maaf, perintahkan yang baik dan berpalinglah dari orang bodoh.” Sesungguhnya orang ini termasuk orang yang bodoh”. Perawi hadits ini mengatakan, “Demi Allah Umar tidak menentang ayat itu saat dibacakan karena ia adalah orang yang senantiasa tunduk terhadap al-Quran.” [HR. AlBukhari].

Betapa banyak kezhaliman dapat dihilangkan dan betapa banyak tindakan yang keliru dapat dikoreksi ketika rekan yang shalih menjalankan perannya.

Ketiga, tidak terbuka untuk melakukan muhasabah.

Ibarat pisau. Tumpul ke atas. Tajam ke bawah. Padahal di antara bentuk muhasabah paling efektif an-naqd ad-dzaati (mengkritisi diri sendiri). Terutama untuk keputusan yang menyangkut hajat publik. Apalagi keputusan yang dipandang bisa membuat kegaduhan dan memecah persatuan ukhuwwah.

Diriwayatkan dari Maimun bin Mihran, beliau berkata,

لَا يَكُونُ العَبْدُ تَقِيًّا حَتَّى يُحَاسِبَ نَفْسَهُ كَمَا يُحَاسِبُ شَرِيكَهُ

“Hamba tidak dikatakan bertakwa hingga dia mengoreksi dirinya sebagaimana dia mengoreksi rekannya” [HR. Tirmidzi]

Rujuk. Berdamai. Mengakui kesalahan. Bukanlah aib. Justru jika dilakukan, niscaya orang dan organisasi yang melaksanakannya akan berunung. Bukankah di materi tingkat dasar diajarkan. Sosok yang kuat bukan yang main hadang dan main tendang. Tapi sosok yang kuat, yang mampu mengontrol emosi jiwa. Sebab musibah sebenarnya adalah ketika terus-menerus melakukan kekeliruan.

Logika Sederhana

Logika Sederhana
By: Nandang Burhanudin
****
(1)
Jika ada persaingan. Tentukan sikap anda. Ilustrasi: Ketua DKM bersain dengan Pemabuk dalam memperebutkan kursi ketua RW.
 
(2)
Jumlah jamaah masjid, ada 10 orang. Harapannya mendukung ketua DKM. Sedangkan pemabuk, sudah menggadang-gadang calon pendukung: sama-sama 10 orang, terdiri dari pemilik prostitusi, bandar narkoba, penjual minuman keras, mucikari, dan tentunya bandar judi.
 
(3)
Apa yang terjadi?
 
(4)
Jamaah masjid tidak solid. Satu sama lain mengundurkan diri:
1. 2 orang beralasan, ketua DKM calon RW saat jadi imam Shubuh melakukan qunut Shubuh. Sedangkan 2 orang ini menganut fiqh tidak qunut Shubuh.
 
2. 2 orang beralasan, ketua DKM kalau pakai celana atau sarung, selalu menutupi mata kaki. Sementara mereka selalu mengangkat celana-sarungnya di atas mata kaki.
 
3. 2 orang beralasan, demokrasi bukan dari Islam. Sistem yang terbaik sistem khilafah. Masa iya ketua DKM disandingkan dengan pemabuk.
 
(5)
Anehnya. Dalam suatu sebaran tulisan. Ada yang menuliskan pendapat seperti ini; “Ahli maksiat, lebih baik daripada ahli bid’ah!” ada lagi yang menulis begini; “Pemabuk lebih cerdas dan lebih sadar. Juga nampaknya sederhana. Tapi kami tetap tidak memilihnya!”
 
(6)
Selebaran tadi cukup mempengaruhi 2 orang jamaah masjid. Sebab memang, si pemabuk sesekali datang ke masjid. Secara pendidikan, ia pun memiliki kemampuan di atas rata-rata.
 
(7)
Mudah ditebak. Pemabuk menang telak atas ketua DKM. RW pun dipimpin pemabuk. Pesta pora terjadi. Dangdutan. Hiburan malam. Layar tancap. Lomba gapleh. Tak lupa, lomba minuman khamr.
 
(8)
Anehnya. Sikap pengguna celana cangkring mengatakan. “Tetp saja. Dia pemimpin kita. Harus ditaati. Haram hukumnya berdemo atau memprotes!”
 
(9)
Sesekali ada keperluan perpanjang KTP, KK, izin RT-RW. Jamaah masjid kedua yang anti-Pemilu berpendapat. “Ini kan hadhoroh madaniyah. Tidak ada urusan! Kalau perlu, kita siap jadi pegawai RW-nya. Saya bekerja kok. Digaji bukan dari hasil mabuk dan judinya. Tapi dari keringat saya.”
 
(10)
Terus terang. Saya tidak qunut. Tapi saat memilih ketua RW. Saya akan pilih ketua DKM untuk jadi RW. Memilih bagian dari memberikan kesaksian dan akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Soal ada kekurangan dalam hal kecerdasan atau kapasitas. Semua bisa dikomunikasikan lewat jalur musyawarah.
 
(11)
Terus terang. Mengingatkan sosok ketua DKM yang jadi RW, jauh lebih mudah daripada mengingatkan pemabuk. Baru disindir saja sudah keluar bahasa kebun binatang dan teror fisik.
 
(12)
Bukankah hal ini terjadi di Jakarta dan Indonesia? Mari belajar berpikir sejenak. Kecerdasan Allah karuniakan untuk digunakan, bukan untuk ambigu dalam bersikap.

Pengkhianat Negeri

Pengkhianat Negeri
By: Nandang Burhanudin
****

(1)
“Suatu negeri akan hancur meskipun dia makmur.” Mereka berkata,” Bagaimana suatu negeri hancur sedangkan dia makmur?” tegas Amirul Mukminin, Umar bin Khatthab r.a.

(2)
Ia menjawab ,” Jika orang-orang yang penghianat menjadi petinggi dan harta dikuasai oleh orang-orang yang fasik.”

(3)
Menurut Jamaluddin Al-Afghani, “Pengkhianat negeri adalah dia yang menjadi penyebab terbukanya jalan bagi musuh untuk melangkahkan satu langkah, memasuki bumi pertiwi.”

(4)
Jika membuka celah bagi musuh melangkahkan satu langkah saja menginvasi negeri disebut pengkhianat, bagaimana dengan yang mendatangkan jutaan musuh, memberikan pekerjaan, mempermudah kepemilikan asset, bahkan membuka hak dwiwarga negara?

(5)
“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” – Bung Karno
(6)
“Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.” (Pidato HUT Proklamasi 1963 Bung Karno)

(7)
Kini, para pengkhianat negeri itu semuanya sudah nampak terang benderang. Teriakannya boleh jadi Pancasilais, tapi sebenarnya Komunis-Kapitalis-Zionis-Salibis.

(8)
Masalahnya siapa yang berani mengamputasi sifat-sifat pengkhianat itu? Sekali berkhianat, pengkhianat tidak akan bisa taubat. Apalagi melihat pemilik sah negeri ini digerus menjadi bangsa penjilat.

(9)
Tugas pewaris negeri adalah merebut posisi dan memperjuangkannya agar didedikasikan untuk perjuangan Tauhid, ketakwaan, serta kesentausaan rakyat banyak. Jangan lupakan, merebut kembali capital, modal, asset, kekayaan dari kaum fasik.

(10)
Jangan biarkan pengkhianatan atas negeri ini berlanjut hingga 2 periode kezhaliman. Doa terus kita panjatkan. Tapi perlawanan pun tidak boleh terhenti apalagi mati.

(11)
Kita benci kezhaliman atas nama dan agama manapun. Yang kita lawan kezhaliman, bukan person to person. Sebab orang boleh berganti, tapi kezhaliman akan mudah bangkit kembali. Ini saatnya kawan!

Ini Liqoku, Kok Gitu Taklimmu?

Ini Liqoku, Kok Gitu Taklimmu?
By: Nandang Burhanudin
****

(1)
Seseorang yang berdakwah harus memiliki ilmu tentang syariat Allah Ta’ala, sehingga dakwah yang dilakukannya tegak di atas landasan ilmu dan bashirah (hujjah yang nyata).

(2)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah –ketika menjelaskan surat Yusuf ayat ke-108 di atas- berkata bahwa ilmu yang dibutuhkan untuk berdakwah bukanlah ilmu syar’i (ilmu tentang apa yang akan didakwahkan) saja,

(3)
Akan tetapi juga mencakup ilmu tentang keadaan orang-orang yang akan didakwahi dan ilmu tentang metode yang paling tepat dan paling sesuai agar dakwah itu sampai kepada mereka. Inilah di antara bentuk hikmah dalam berdakwah. (Lihat Al-Qoulul Mufiid ‘alaa Kitaabit Tauhiid, 1/82, cet. Daarul ’Aqidah).

(4)
Derap langkah dakwah jika mengikuti Sunnah Rasul, harus ‘alaa rislik (pelan-pelan, gradual, bertahap). Kontennya menyeru pada Islam. Rasul bersabda,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ ، وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ ، فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ

(5)
”Bergeraklah perlahan-lahan sehingga kamu tiba di wilayah mereka. Kemudian ajaklah mereka masuk Islam. Beritahulah mereka tentang kewajiban yang harus mereka tunaikan. Demi Allah, sungguh jika Allah memberikan petunjuk kepada seseorang dengan perantara dirimu, itu lebih baik bagimu daripada unta yang merah-merah (unta yang paling bagus dan paling mahal).” (HR. Bukhari dan Muslim).

(6)
Karena kontennya seputar Islam, maka meliputi ‘uluum syar’iyyah, yang terbagi menjadi dua macam. Pertama, ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap orang. Seorang Muslim tidak boleh bodoh (tidak mengetahui) tentang ilmu tersebut. Contoh ilmu yang wajib adalah ilmu tentang rukun Islam, yaitu ilmu tentang dua kalimat syahadat, ilmu tentang shalat, zakat, puasa Ramadhan, dan berhaji ke baitullah. Maut tidak mau, Muslim harus mempelajarinya.

(7)
Kedua, ilmu tentang hukum-hukum syariat, yang dibutuhkan umat Islam secara keseluruhan, namun belum tentu dibutuhkan setiap orang. Contohnya adalah ilmu tentang hukum jual beli, hukum wakaf, warisan, wasiat, dan hukum nikah. Ilmu ini tidak wajib dipelajari oleh setiap orang. Apabila sudah ada sejumlah orang yang mempelajarinya, hal itu sudah cukup. Dengan ini, orang-orang yang telah mempelajari ilmu tersebut dapat diminta sebagai tempat bertanya.

(8)
Ketiga, ‘uluum insaaniyyah (humaniora) yang tidak bisa dilepaskan dari ajaran Islam. Ilmu humaniora terkait dengan kemaslahatan umum semisal: ilmu berkaitan dengan alam raya, ilmu tentang manusia, ilmu kesehatan, ilmu politik, ilmu geostrategis, ilmu sosial, ilmu mental, dll.

(9)
Liqo sejatinya bukan sekedar majlis taklim, tapi sebuah upaya untuk mengeratkan serak-serak jiwa dalam bingkai ukhuwwah (persaudaraan), menyatukan segenap potensi beragam dalam satu ikatan, berkumpul meraih cinta Allah, bersatu dalam dekapan dakwah Lillah wa Ilallah, berhimpun menolong agama Allah, dan berikhtiar menjalankan syariat Allah.

(10)
Liqo tarbawi tak lain upaya minimal kita mengikuti Sunnah Rasul, saat membina para sahabat generasi awal di Al-Arqam bin Abil Arqam. Lalu terbentuknya qaa’idah shulbah (kader-kader militan) Islam yang kemudian membentuk Muhajirin-Anshar dalam penegakan peradaban Islam.

(11)
Jika liqoat disebut bid’ah, jelas fitnah. Tapi kami tidak menganggap aneh, sebab itulah kerjaan juru dakwah BNPT, yang sejak lama membidik dan menyebut aktivitas tarbawi yang dikemas LDK atau LDKS disebut sebagai biang radikalisme.

(12)
Namun, jika liqoat dikritisi sebab cenderung dimanfaatkan pihak-pihak tak bertanggung jawab, maka kami menerimanya dengan lapang dada. Kami sadar, liqoaat yang sekarang berlangsung, cenderung kering ilmu dan hampa ruhiyah. Bahkan di beberapa tempat, ukhuwah tergerus oleh arogansi jabatan struktural dan rebutan posisi marhalah.

(13)
Kekurangan itu terus kami perbaiki. Sebab prinsip liqoat kami seperti yang dinasihatkan Imam Asy-Syafi’i;
Aku mencintai orang-orang sholeh meskipun aku bukan termasuk di antara mereka. Semoga bersama mereka aku bisa mendapatkan syafa’at kelak. Aku membenci para pelaku maksiat meskipun aku tak berbeda dengan mereka. Aku membenci orang yang membuang-buang usianya dalam kesia-siaan walaupun aku sendiri adalah orang yang banyak menyia-nyiakan usia.”

(14)
Ini liqo kami, kok begitu taklimmu?

Syaikh Mujahid dan Syaikh Anti Jihad

Syaikh Mujahid dan Syaikh Anti Jihad
By: Nandang Burhanudin
****
Ulama itu pewaris para nabi. Warisan para ulama adalah sikap hidup. Di era kontemporer warisan para ulama sangat beragam. Imam Al-Banna mewariskan Ikhwanul Muslimin yang antipenjajah dan sepanjang hidupnya tercatat manis dalam sejarah emas, sebagai mobilisator mujahidin plus kreator serangan terhadap Israel.

Ada juga Asy-SYahid Sayyid Quthb. Buku-bukunya menjadi nutrisi gizi terbaik bagi jiwa-jiwa muharrik, yang enggan diinjak-injak oleh penjajah. Terinspirasi dari karya beliau lahirlah Syaikh Al-Mubarakfuri, Syaikh Al-Qaradhawi, Syaikh Umar Tilmitsani, Syaikh Husaini. Semua sepakat; menolak berkompromi dengan penjajah.

Kini dari Bangladesh, jejak-jejak mujahid hakiki itu lahir. Dialah Syaikh Abdul Qadir Mala. Syaikh yang hari Kamis lalu digantung pemerintah sekuler Bangladesh. Hanya karena Syaikh Mala menolak berkompromi dengan pemerintah.

Perhatikan pesan monumental beliau dengan ulama yang antijihad dan hanya melahirkan buku-buku yang kontroversial, miskin makna, namun dianggap monumental dan spektakuler oleh pengikutnya. Syaikh Mala mengatakan berwasiat kepada putra-putrinya, “Sungguh aku adalah pemimpin kalian. Tapi jika pemerintah (Bangladesh) membunuhku dengan cara-cara yang tidak sesuai syariat dan tidak sesuai konsitutis, maka aku akan mati seperti kematian para syuhada. Saat itulah, hanya Allah yang akan menjadi Pemimpin kalian setelah aku menemui syahid. Allah Maha Terbaik dalam menjaga dan Maha Terbaik dalam memimpin.

Ketahuilah, aku dibunuh hanya karena diriku loyal terhadap gerakan Islam. Ketahuilah tak semua orang mampu meraih derajat syuhada. Aku merasa, syahidku adalah pemuliaan dan penghormatan Allah terhadapku. Sesuatu yang tidak bisa aku raih saat aku hidup. Ketika aku syahid, aku merasakah nikmatnya syahadah yang tidak akan ada kenimatan sebesar mati syahid.

Camkanlah, semua tetes darahku akan menjadi jaminan binasanya penguasa zhalim yang otoriter. Gerakan Islam akan semakin besar dan enerjik. Aku sama sekali tidak merasa khawatir dengan diriku, sebesar kekhawatiranku terhadap masa depan negeriku dan masa depan gerakan serta kebangkitan Islam di negeri ini (Bangladesh). Kini aku telah menyerahkan hidupku, sebagai tebusan bagi kesegaran gerakan Islam. Sungguh Allah akan menjadi saksi dari apa yang aku katakan.”

Adakah nasihat-nasihat menggelegar dari ulama corong penguasa atau ulama yang memilih berkompromi dengan penjajah? Yakinlah tidak!

Musibah Lanjut Musibah

Musibah Lanjut Musib

By: Nandang Burhanudin

*****

 

(1)

Tidaklah Islam dan umat Islam dihinakan, melainkan sebab pintu jihad atau perang sabil sudah disingkirkan.

 

(2)

Ruh mujahidin di negeri Muslim selalu dikawal IM di Timur Tengah, Jemaat Islami di Asia Tengah, mujahidin Chechnya di Eropa.

 

(3)

Lihat kondisi Mesir dan Bangladesh usai menghinakan IM dan Jemaat Islami? Kedua negeri menjadi Islamophobia.

 

(4)

Saat IM dihinakan UAE, di waktu yang sama mereka memuliakan Yahudi dan penyembah berhala. Sama halnya Mesir dan Teluk.

 

(5)

Sikap Bangladesh tak jauh beda. Sukses mengeksekusi Syaikh Muthiurrahman Nizhami tanggal 10 Mei 2016.

 

(6)

Kini, Bangladesh pula menjadi pelengkap penderitaan Muslim Rohingya, usai menutup perbatasannya untuk pengungsi.

 

(7)

Sama seperti negara Teluk yang menutup perbatasan untuk Syiria, Irak atau Mesir menutup Gaza di Palestina.

 

(8)

Ingat perkataan keturunan Lawrance Arab. “Kami memerangi semua Muslim di dunia, sedang mata kami fokus menaklukkan AlQuds Palestina.”

 

(9)

Ingat pula pesan emas Syaikh Muthiurran Nizhami, “Saya sekejap lagi akan menemui Rabbku di tiang gantungan. Tapi saya mempertanyakan sikap abai dan lalai umat 1 milyar! Jawaban apa yang akan kalian jawab kelak atas sikap diam membiarkan kezhaliman?”

 

(10)

Tidaklah Islamophobia menguat, disebabkan harakah Islamnya mengendur, mendengkur, atau hidup tak lagi akur dengan kawan sedulur.

 

(11)

Indonesia, jika harakah Islamnya terus melemah, maka kebatilan akan merajalela didukung ulama suu dan budak penguasa.

 

(12)

Buat apa mereformasi Indonesia di 1998, jika kita tak mampu membendung Islamophobia, bahkan gagal menutup tunas kebangkitan mereka.

 

(13)

“Jawaban apa yang akan kalian jawab kelak atas sikap diam membiarkan kezhaliman?” Akankah jabatan mentereng dan posisi struktural itu jadi jawaban?

 

Bertempur di Medan Hati

Bertempur di Medan Hati

By: Nandang Burhanudin

*****

(1)

Suatu ketika Umar bin Khatthab r.a. melakukan kunjungan tugas menginpeksi pasukan di garda tempur Damaskus Syam.

 

(2)

Panglima tempur jabhah Syam dipegang oleh Abu Ubaidah AlJarrah. Sosok sahabat yang dijuluki Penjaga Rahasia umat ini (kaatim as-sirri hadzihil ummah).

 

(3)

Saat makan siang tiba. Abu Ubaidah bertanya, “Wahai Amirul Mukmimin dimana Anda hendak makan siang. Bareng bersama prajurit atau bareng menikmati hidangan komandan lapangan?”

 

(4)

“Kita lihat dua-duanya.” Jawab Amirul Mukminin. Beliau takjub pas melihat hidangan prajurit tempur: daging, keju terbaik, dan madu. Lalu beliau pindah melihat hidangan para komandan; roti kering dan susu. “Benarlah Nabi yang menjulukimu penjaga rahasia umat ini”, tegas Umar.

 

(5)

Meniru kisah ideal sahabat, biasanya diambil yang pas dengan kepentingan. Jika tidak cocok dan bertentangan dengan kepentingan, kisah-kisah ideal disembunyikan. Jika pas, diobral gagah.

 

(6)

Model Abu Ubaidah yang memuliakan prajurit lapangan, hampir tidak ditemukan dalam perjuangan umat Islam kini, terlebih yang berjuang di medan politik. Mahmud Abbas misalnya, menghabiskan fasilitas mewah yang harus menjadi jatah rakyatnya.

 

(7)

Mungkin para pemimpin HAMAS di Gaza, bersikap sama rata sama gaya dengan mujahidin lapangan. Bertadhiyyah yang sama dengan tadhiyyah prajurit tempur. Sama-sama berjuang. Tidak mendoktrin prajurit berjuang, lalu komandan ber-uang.

 

(8)

Dalam kehidupan kita, spirit perjuangan pudar seiring dengan kemewahan fasilitas dan kewahan transferan. Saat itu, nasib prajurit hanya berakhir sebagai batu bata yang tak lama lagi dilupakan. Posisi komandan hanya dipisahkan kematian.

 

(9)

Kita merindu sosok Amirul Mukmini ln Umar bin Khatthab yang dalam segala kesibukannya aktif turun memotivasi prajurit tempur. Beliau tidak cukup menerima laporan di belakang meja, lalu pamer tongkat komando menakuti bawahan.

 

(10)

Kita merindu sosok Abu Ubaidah AlJarrah yang memuliakan prajurit tempur, mengalahkan dirinya. Sebab qiyadah melekat pada keteladanan dan perhatian, bukan pada jubah kebesaran posisi jabatan. Wallahu A’lam.

Menyelami Berkah Ormas Islam di Pilgub Jabar

Menyelami Berkah Ormas Islam di Pilgub Jabar

By: Nandang Burhanudin

******

 

(1)

“Para pemimpin terbaik paling mungkin ditemukan pada para pimpinan jemaat-jemaat agama besar, karena ia memiliki kemampuan yang mengejutkan dalam merekrut, mempertahankan, memberi inspirasi, menyatukan, membangun jaringan dan menggalang dana, termasuk menanamkan dan membangun kepercayaan”. (Peter F. Drucker)

 

(2)

“Jika suatu umat melalaikan agamanya, maka umat tersebut akan dikuasai bangsa-bangsa lain. Jika satu umat abai dengan  hal yang bisa mengangkatnya meraih puncak peradaban, maka umat tersebut akan jadi tawanan keburukan bangsa lain.” (Sultan Erdogan)

 

(3)

Pandangan 2 tokoh dari dua kutub berbeda semakin meneguhkan, bahwa komunitas Ormas tidak bisa diabaikan atau dipandang sebelah mata. NU KH. Agiel Siradj sudah bisa dibaca arahnya.  Persis, Muhammadiyah, PUI, AlIrsyad, akan berada di pilihan berbeda.

 

(4)

Berkaca di Pilgub Jabar 2008 dan 2013,  peran Ormas menggerakkan jamaahnya melalui media pengajian dan khutbah Jumat sangat signifikan. Sinergitas yang dibangun dengan Parpol (PKS, PAN, PBB) berbuah manis: Aher double winner.

 

(6)

Di 2008, Aher-Dede yang dianggap anak bawang, alhamdulillah dengan izin Allah, Hade menang sangat signifikan di 18 kota/kabupaten di Jawa Barat, yang rata-rata kemenangannya antara 36-58 % suara. Sedangkan  Aman hanya menang di 5 daerah yaitu Ciamis, Kuningan, Kab.Tasik, Sumedang, Subang. Dan Dai hanya menang di 3 Kabupaten yaitu Purwakarta, Indramayu dan Banjar.

 

(7)

Ternyata di Kokab yang menang itulah, pengaruh Ormas semisal PUI dan Muhammadiyah sangat mengakar dan menyebar. Plus kalangan NU non Gusdurian (biasanya pemilih PPP bukan PKB) menjadi penyumbang suara yang juga lumayan signifikan.

 

(8)

Model Pilgub Jabar ini diduplikasi Pilgub DKI Jakarta kemarin. Koalisi gemuk parpol pendukung Ahox, rontok di hadapan koalisi tulus ikhlas ormas Islam. Islam liljami’ wa Jakarta lil muslim menjadi tren. Ahox KO dengan selisih 20 %. Kemenangan yang menyakitkan 9 siluman dan genderewo berpangkat.

 

(9)

Aher pun pandai membalas jasa Ormas. Kendati kader PUI, Aher justru menjadi Bapak semua ormas Islam, tak terkecuali NU Gusdurian. Silaturahmi yang dijalin Aher pun sangat intens. Maka posisi Aher menjadi Ketua Pemenangan Pilgub Jabar, sejatinya membuka lebar bagi Ormas di Jabar.

 

(10)

Dedy Mizwar, Cagub seksi telah menunjukkan kelas narasinya. Berotak besar dan memiliki visi keumatan yang jelas, lugas, bernas. DPP PUI ada baiknya menjalin komunikasi dengan Demiz. Rekrut menjadi anggota kehormatan. Bukan demi uang, tapi demi memberi jalan terang agar Demiz tak dihantui dedemit yang menyesatkan.

Pilot dan Pramugara/i Pesawat Itu

Pilot dan Pramugara/i Pesawat Itu

By: Nandang Burhanudin

*****

 

(1)

2 minggu lalu, kami melakukan perjalanan dengan Saudia SV 815 Jakarta to Jeddah dan SV 816 Jeddah to Jakarta. Ada beberapa pengalaman.

 

(2)

Walaupun sama-sama satu perusahaan. Kami merasakan perlakuan dan sikap berbeda. Terutama pilot dan paramugara/i.

 

(3)

Pertama, saat boarding. Karena rombongan. Kami diwakili. Anehnya petugas darat tidak bisa membedakan calon penumpangnya.

 

(4)

Anak saya yang 9 bulan. Duduk di 50 J sendirian. Abinya di 47 H. Uminya di 40 E. Pasti bikin mumet. Pas komplain. Malah disuruh diam dan duduk.

 

(5)

Kedua, saat take off. Pilot nampak kasar. Kurang komunikatif. Terutama saat ada guncangan di tengah perjalanan.

 

(6)

Uniknya. Kru pesawat tidak memberikan hadiah cuma-cuma buat usia di bawah 3 tahun. Baru ngasih setelah diminta.

 

(7)

Ketiga, saat turun. Kami dibuat bingung. Kata kru pesawat. Tunggu dulu. Tapi giliran kita lama, eeh malah pasang wajah ketus.

 

(8)

Berbeda di penerbangan 816. Kami merasakan hal berbeda. Kru pesawat sangat kooperatif. Tidak mentang-mentang. Bahkan pilotnya pun, imformatif.

 

(9)

Saya dan keluarga tidak kenal siapa pilotnya. Kami tsiqoh 2000 % dan tawakal hanya kepada Allah. Namun dari 2 gaya pilot tadi, mana yang bikin tumakninah?

 

(10)

Kami pun paham. Kru pesawat itu adalah pekerjaan berat. Tapi, menyembunyikan ketegangan di balik senyum. Jauh menentramkan.

 

(11)

Sebagai penumpang. Kita tidak harus tahu banyak masalah pesawat,  rute penerbangan, musyawarah antar kru dan pilot co pilot.

 

(12)

Bagi kami. Yang penting sampai tujuan. Suguhan bergizi. Khidmat excellent. Soal ada guncangan. Kami tak berhak ikut rembug. Sebab kami terikat aturan harus pakai safety belt, melipat meja, menegakkan kursi.

 

(13)

Tapi. Minta tolong, kru pesawat jangan antikritik. Pahami latarbelakang penumpang. Berikan apa yang menjadi hak penumpang. Jangan bilang, pesawat ini tidak butuh anda. Anda yang butuh kami.

 

(14)

Sebab kalau penerbangan gak ada penumpang dan gak bayar tiket. Sebesar apapun perusahaan, akan bangkrut. Tengok Turkish Airlines. Kini jadi jawara Eropa dan dunia.

 

(15)

Perlakukan wajar saja, jika di antara kami berasal dari kampung. Gak ngerti kata PUSH…PULL..atau istilah Arab lain. Bimbing dengan bijak. Bukankah itu tugas kru pesawat.

 

(16)

Pilot juga jangan bilang kami sok tahu, kalau coba menerka ada apa di balik guncangan: petir kah? Angin kah? Atau ada serangan teror.

 

(17)

Nah pesan saya pada penumpang. Sabar. Duduk manis. Baca semua petunjuk perjalanan. Liat layar jangan hanya nonton hiburan. Satu lagi. Jangan berebutan.

 

(18)

  • Safety first. Sebab tak akan ada penerbangan yang menerlantarkan penumpangnya. Kecuali penerbangan yang abal-abal, tak punya misi NAIK…NAIK…

Tragedi Rab’ah yang Terlupakan

Tragedi Rab’ah yang Terlupakan
By: Nandang Burhanudin
*****
 
Dunia melupakan tragedi Rab’ah, 14 Agustus 2013. Tidak ada pengadilan HAM. Dunia Arab dan Islam terus dikoyak-koyak dengan ragam tragedi; Syiria, Palestina, Irak, Rohingya, Yaman. Dunia pun abai, ada seorang presiden hasil pemilu demokratis yang kini masih mendengkam di penjara As-Sisi. Semua sibuk sendiri-sendiri.
 
Saya kembali hadirkan kesaksian pelaku sejarah di tragedi Rab’ah II dan An-Nahdhah. Kesaksian dokter Bayad Fateema, Dokter Saksi Sejarah!
****
 
Rasanya jiwa ini tersayat, jika kisah terperinci seputar pembantaian Rab’ah tidak disampaikan. Biarlah saya siap meanggung risikonya, asalkan dunia tahu bahwa di Rab’ah ada genosida hanya karena perbedaan pandangan politik.
 
Saya adalah dokter jaga. Bertugas sebagai dokter bedah tulang. Saya baru bertugas sejak tragedi pembantaian shalat Shubuh di depan Mako Garda Republik, tentu sebelumnya saya pun aktif bergabung bersama gerakan antikudeta di Rab’ah.
 
Pada malam tragedi Rab’ah II, terdengar intruksi dan ancaman kepada seluruh dokter di RS Lapangan Rab’ah untuk meninggalkan RS. Mereka mengancam, jangan sia-siakan nyawa kalian! Segera pergi sebelum semua terlambat! Peringatan juga datang dari kawan-kawan dokter yang bertugas di RS militer. Salah satunya Fatimah. Menurutnya, akan ada peristiwa dan segeralah pergi! Aku pun menjawab, “Terimakasih atas peringatannya. Tapi, saya tidak akan mundur dan meninggalkan tempat tugas ini. Perjalanan hidupku sangat terkait erat dengan perjalanan hidup saudara-saudarku di lapangan.”
 
Di lapangan, saya temukan wajah kawan-kawan yang tidak saya kira sebelumnya, ternyata mereka juga menjadi relawan dalam keadaan genting .. super genting. Saya pun sadar, hidup saya sudah ada yang Maha Mengatur.
 
Fajar pun menyingsing. Usai shalat Shubuh, saya waspada saat rakaat kedua. Karena memang sudah 2 kali, tragedi pembantaian itu dilakukan saat rakaat kedua. Terbersit dalam pikiran, “Wah berarti peringatan tadi malam salah! Bisa-bisanya aja! Mungkin perang psikologis!”
 
Saat ini, rasa letih tak kuasa ditahan. Setelah semalaman bertugas, rasa ngantuk pun hinggap. “Ahh .. saya rehat dulu 2 jam. Semoga bisa jadi energi setelahnya!”, aku berguman dalam hati.
 
Namun, baru saja satu jam mata terlelap. Saya terbangun! Teriakan demonstran sangat ramai. Bahkan teleponku berdering nyaring. “Ada serangan … ada serangan … ada serangan!” Saya masih terkantung dan berucap, “Ah .. ndak ada apa-apa .. mungkin rumor!”
 
Saya pun terus larut dalam kantuk. Namun sebelumnya saya lihat akun twitter berbunyi. Saya baca, ada serangan dari arah Tiba Mall. Asap telah membumbung di Tiba Mall. Saya pun mencium bau mesiu. Saya pun siaga!
 
Saya diperintahkan mengenakan masker anti gas air mata dan gas beracun. Kami siap-siap menerima korban syuhada yang ditembak peluru tajam. Korban-korban pun berdatangan. Saya lihat banyak juga yang syahid dengan luka yang sangat besar, seakan bukan ditembak peluru tajam tapi peluru dengan diameter besar. Saya tak paham soal jenis senjata dan tidak pernah bekerja di RS militer. Tapi melihat lukanya sangat aneh. Otak-otaknya pecah berhamburan. Korban ada yang terpotong 20 cm. Bahkan kepala pecah, sedang isi kepala keluar. Ada juga yang disembelih dengan kondisi badan yang tercabik-cabik!
 
Korban terus berdatangan. Kami memberlakukan darurat! Semua ditangani dokter-dokter lapangan. Banyaknya korban yang tidak bisa ditangani, keberadaan ambulans sangat membantu untuk merujuk ke RS-RS. Namun jumlah dokter dengan korban yang tak berimbang, membuat kami harus memilih mana yang masih hidup dan mana yang sudah wafat. Saat itu, darah sudah membanjiri RS. Pembantaian itu benar-benar nyata dilakukan. Korban dipilih yang berada di dekat panggung orasi demonstran dekat Universitas Al-Azhar. Senjata yang digunakan adalah jenis senjata yang sangat mematikan.
 
Saya pun mati rasa. Dua jam kemudian saya baru tersadarkan saat bertemu dengan dokter lain. Mereka mengabarkan bahwa militer menembakkan gas air mata ke dalam RS. Beberapa dokter sudah menjadi korban. Kepanikan dalam RS tak bisa diindarkan. Sementara korban terus berdatangan. Malah banyak korban anak-anak yang dibunuh dengan kondisi leher patah, leher disembelih. Kami pun diperintahkan menutup jendela agar militer tidak lagi bisa menembakkan gas air mata.
 
Pada waktu yang sama, teman-teman dokter meminta bantuan kepadaku untuk mengurus korban di Tiba Mall! Mereka mengabari, bahwa pasukan khusus menangkap semua paramedis dan membiarkan korban berjatuhan tanpa perawatan. Saya tak bisa melupakan bagaimana korban luka benar-benar kehilangan otak-otaknya. Sungguh keadaan yang baru saya alami. Keadaan yang sangat sulit! Keadaan yang belum pernah dihadapi saat ujian praktik kedokteran! Namun melihat korban-korban, saya menyaksikan mereka sangat antusias mengangkat telunjuk dan mengucapkan syahadat siap bertemu dengan Allah Ta’ala.
 
Jumlah korban yang berdatangan membuat RS Rab’ah penuh. Akhirnya, mayat-mayat yang ada menjadi penopang bagi korban luka-luka yang masih hidup. Saat itu tiba-tiba terdengar suara tembakan dan teriakan prajurit teramat dekat. Saya merasa, RS pun akan menjadi target serangan. Betul! Di lantai atas, saya dengar Helikopter datang dan melemparkan gas air mata. Tak lama kemudian datang prajurit yang terjun dari helikopter. Mereka memeriksa tanda pengenal, menyita semua Memory Card kamera-TV-HP. Saya pun segera melemparkan HP setelah sebelumnya menyimpan memory card. Kemudian saya bergerak ke arah ruangan pers di samping ruangan saya.
 
Di ruangan pers RS Rab’ah, saya dapati korban-korban syuhada bergelimpangan! Pemandangan tragis! Hampir tak ada kata-kata yang pas untuk menggambarkannya! Kami pun akhirnya memisahkan para syuhada dengan yang terluka. Menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan!
 
Saat itu, terdengar bunyi “Tuk .. Tuk .. Tuk ..” ternyata gas beracun dilemparkan kepada kami. Saya pun pindah ke ruangan lain. Di sana saya bertemu dengan Abdullah Asy-Syaami, wartawan AlJazeera yang terkurung. Ia pun tak bisa lagi menyampaikan siarannya! Sinyal teramat jelek. Saya merasa, RS dilempari sesuatu. Ternyata gas air mata. Di luar teriakan terdengar, “Awas .. hati-hati RS diserang! Mereka akan menangkapi paramedis!” “Waduh … habis kita ini, pasti akan ditangkapi.” Saya buka jendela belakang, saya lihat di luar pasien berserakan dikerubuti keluarganya. Terbersit untuk melemparkan HP. Saya pun refleks melakukannya. Saya tuliskan nomor HP keluaga, sembari memberi isyarat agar yang menerima HP dan tas saya menghubungi nomor telepon yang sudah saya tulis.
 
Saya dengar suara sepatu, prajurit polisi dan tentara dengan pakaian serba hitam bersenjata lengkap datang. Benar, mereka memegang dan membentak-bentak, “Ikut keluar atau mau ikut terbaring bersama di sini!” Keluarga pasien di dalam teriak, “Ia itu dokter!” Tapi dengan kasar dan keras ia memaksa kami untuk keluar ruangan! Saya masih sempat meminta mereka untuk mengizinkan agar yang masih hidup dan terluka dikeluarkan juga. Namun mereka menolak! Mereka berkata, “Pilih mana, pergi atau ditembak kedua kaki kamu!”
 
Ketika saya keluar, saya lihat pemandangan mengerikan. Semua terbakar! Masjid, RS, hingga ruang pers. Seakan pemdangan Kairo tahun 50-an. Pemandangan yang saya lihat di filem-filem, lengkap suara musik-senjata-ledakan bom-ledakan gas. Saya dengar teriakan warga-warga yang menjadi korban, “Tolonglah dokter! Lakukan sesuatu!” Saat itulah aku merasakan doa, “Ya Allah aku berlindung kepada Engkaudari ketidakberdayaan dan kefakiran!” Belum melangkah untuk melakukan apapun. Terdengar suara lantang mikrophone, “Semuanya harus menyerah! Angkat tangan di atas kepala!” Saya teringat doa baginda Nabi saat dilempari batu di Tha’if, “Ya Allah, hamba mengadu kepada Engkau lemahnya kekuatan hamba, minimnya usaha hamba, dan ketidakmampuan hamba menolong manusia! Engkau adalah Tuhan orang-orang yang dilemahkan dan Engkau adalah Rabbku! Kepada siapa lagi hamba mengadu! Apakah kepada ayah yang jauh atau kepada musuh yang telah menguasai kami!”
 
Sungguh, tragedi Rab’ah dan An-Nahdhah bukanlah pertikaian politik. Bukan pula pembubaran demonstran! Di awal-awal, kami tak pernah mendengar peringatan untuk menyerah atau peringatan lainnya. Kami yakin tragedi Rab’ah adalah pembantaian! Atau apapun istilahnya! Karena saat perang saja, korban luka-luka mendapatkan hak khusus ke RS terdekat! Ini sama sekali tidak!
 
Apakah saat pertempuran berkecamuk dibolehkan membakar mayat? Dibolehkan membakar korban luka yang masih hidup? Sungguh saya lihat keesokan harinya, di Masjid Al-Iman korban syuhada dalam keadaan hangus terbakar! Ada yang terbakar seluruhnya! Ada mayat yang terbakar badannya saja! Saya masih bisa melihat mayat yang memancarkan aura ketakutan dan rasa sakit luar biasa!
 
Yang saya tulis adalah kisah hakiki! Benar-benar terjadi! Bukan filem karya Stephen Seagel atau filem Armageddon! Semua yang terjadi adalah: pemusnahan/genosida atau apapun istilahnya! Uniknya banyak yang buta mata hatinya, saat menuduh bahwa demonstran Rab’ah dan An-Nahdhah membawa senjata! Saya katakan kepada mereka, “Wahai orang buta hati, buta nurani, dan buta mata sekalian! Jika memang demonstran memiliki senjata, akankah terjadi pembantaian tersebut? Kalian benar-benar kehilangan akal!”
 
Terus terang, 1 minggu setelah tragedi itu! Saya lelah, letih, dan tak sudi lagi berdialog dengan orang-orang yang kehilangan nalar, mati akalnya, dan disfungsi mata dan penglihatan jiwanya. Saya berikan kesaksian ini kepada siapapun yang ingin memberikan sumbangsih, walaupun sumbangsih minimal berupa keterkejutan dengan apa yang terjadi.
 
Saya tidak akan menyampaikan apa yang membuat Allah murka.

© 2017 Nandang Burhanudin All Rights Reserved   

Theme Smartpress by Level9themes.