Nandang Burhanudin Pakar Peradaban Islam

Konflik Saudi, Awal Middle East Baru

Konflik Saudi, Awal Middle East Baru
By: Nandang Burhanudin
****

(1)
Kita harus cemburu atas segala rekayasa sosial dan rekayasa strategis yang dilakukan Yahudi Salibis internasional terhadap dunia Islam.

(2)
Sikap reaktif kita selalu berkaitan dengan cangkang, permukaan, tampilan luar, atau asap yang memedihkan mata dan menyesakkan pernafasan kita.

(3)
Namun, semua tak menyentuh substansi, inti masalah, bahkan fenomena di balik berita. Akhirnya kita ribut dan rela mati untuk laa syai’, abai dengan “syai'”

(4)
Kemunculan Muhammad bin Salman, ternyata delah direkayasa sejak 1993 oleh Shimon Peres dalam bukunya The New Middle East.

(5)
Arab Springs, membuka jalan pelengseran Mubarak dan pemusnahan Ikhwanul Muslimin. Mubarak dianggap penghambat. IM ancaman.

(6)
Naiknya As-Sisi, penyerahan 2 pulau Mesir ke Saudi Arabia, pemusnahan wilayah Refah Mesir, penguasaan mutlak atas Gurun Sinai.

(7)
Munculnya ISIS, perang Syiria, kudeta di Turki (walau gagal), hingga embargo atas Qatar. Semua adalah test the water ala Zionis.

(8)
Bisa dikatakan, makar Zionis 85 % sukses. Tersisa suksesi Ben Salman. Maka rencana Israel Raya akan mulus bebas hambatan.

(9)
New Middle East yang akan terbangun adalah: Palestina-Jordania-Israel akan membentuk zona kawasan khusus. Kontrol sepenuhnya dimiliki Israel.

(10)
Zona regional akan dibentuk antara Saudi-Mesir-Israel, menjadi negara yang borderless, alias tanpa batasan baik udara, darat, laut.

(11)
Zona ekonomi, akan menghubungkan Dar Bidha Maroko hingga Israel-Latakia-Turki dengan kereta api supercepat. Terbentuklah kawasan mirip UE.

(12)
Zona pertahanan keamanan, akan muncul NATO versi Timur Tengah yang dikomando Israel tentunya, sebagai kekuatan superpower.

(13)
Targetnya? 2027 versi Israel dan 2030 versi Saudi Arabia. Adakah yang bisa melawan?
(14)
Turki jika konsisten dengan 2023-nya, dan AKP masih berkuasa, bisa jadi akan menjadi penghambat serius laju Israel.

(15)
Indonesia, sangat tergantung di 2019 dan 2024. Siapa pengendali Indonesia? Jika pribumi tak berkutik, China mengangkangi Indonesia.

(16)
Wallahu A’lam.

Belajar Menang dari AKP, Mustahil?

Belajar Menang dari AKP, Mustahil?
By: Nandang BUrhanudin
*****

(1)
Menakjubkan. Hanya dalam 4 bulan, AKP sukses meraup 4 juta suara. Catatan: bukan suara floating mass. Tapi suara yang di Pemilu Juni memilih CHP dan MHP.

(2)
41 % di Pemilu Juni, lalu menembus angka 51 % di Pemilu November. Kemenangan yang disikapi dengan sikap tawadhu. Sikap yang sama ditempuh, saat gagal menang telak di Pemilu Juni.

(3)
AKP di bawah Daud Oglo, langsung evaluasi. Memahami keinginan pemilih! Lalu melakukan reformasi internal. Soliditas itu harus berkualitas. Tidak sekedar soliditas yang cadas. Tak mampu membuat kader tumbuh kembang.

(4)
Ya. Di muktamar AKP 12 September lalu. AKP membuat keputusan strategis. Mengubah AD/ART Partai yang membatasi masa bakti kader AKP berkhidmat di parlemen dan eksekutif dari 2 periode saja, menjadi boleh dicalonkan kembali.

(5)
Keputusan yang mengakomodir tokoh-tokoh AKP yang telah mengakar dan merakyat di masyarakat. Kader yang sekian lama menjadi magnet suara, berkah pengabdian dan pelayanan selama menjadi pejabat publik.

(6)
Keputusan selanjutnya adalah; agenda kampanye dibuat sedetail mungkin dan menyentuh hajat mendasar di setiap daerah. AKP mengubah jargon muluk kampanye, menjadi bahasa standar yang mudah dipahami.

(7)
Contohnya: Proyek mercusuar Turki, target pencapaian ekonomi, romantisme sejarah Turki, amandemen UU. Semua tidak lagi menjadi topik propaganda kampanye.

(8)
AKP lebih memilih tema mendasar: penambahan gaji dan peningkatan uang pensiunan; perbaikan pengupahan; renovasi asrama mahasiswa; pengubahan UMR; kemudahan pinjaman untuk program pengembangan ekonomi kaum muda.

(9)
AKP pun berani lepas dari bayang-bayang nama besar Erdogan. Daud Oglo tampil dan berkeliling ke seantero negeri. Kebijakan ini sangat mengesankan kader-kader AKP, bahwa AKP bukan hegemoni perorangan tapi milik bersama.

(10)
Pertanyaannya, siapakah yang bisa mengikuti langkah AKP di Indonesia? Banyak yang berharap, PKS salah satunya. Harapan yang tidak dilarang. Hanya Imam Asy-Syafi’i berpesan: Manzilatul Imam minar-ra’iyyah kamanzilatil waliyy minal

yatiim.

(11)
Kedudukan seorang pemimpin di hadapan rakyat/bawahan/kader seperti kedudukan wali bagi anak yatim. Erdogan, Daud Oglo, dan pemimpin-pemimpin AKP telah melakukan ini. Bahkan sudah menjadi karakter.

(12)
Turun ke bawah, tidak hanya di ruang ber-AC dengan fasilitas wah. Menyentuh psikologis kader dengan sentuhan seorang wali terhadap anak yatim. Melindungi, mengayomi, melayani. Dilakukan tanpa basa-basi.

(13)
AKP melahirkan nama besar. Tapi nama besar tidak menjadi pemilik dominan AKP. Panglima gerakan AKP adalah “Di manapun adzan berkumandang, di situlah tanah air kami.”

(14)
AKP mengedepankan keutuhan keluarga kadernya. Tradisi keluarga Turki di bulan Ramadhan, dijadikan momentum untuk meneguhkan sumpah setia suami terhadap istri (keluarga) dan istri terhadap suami (keluarga).

(15)
AKP merangkul tanpa memukul. Mengevaluasi tanpa mengebiri. Mendisiplinkan tanpa plin-plan. Fokus berjuang tanpa rakus. Benar-benar al-bait addaakhili (rumah internal) dibenahi hingga tak lagi bernanah.

(16)
Kader AKP tak lagi sibuk sekedar koar-koar! Mereka menerima setiap kritik dengan lapang dada. Setiap kritik konstruktif dijadikan panduan, untuk tidak lagi melakukan kesalahan yang sama.

(17)
AKP adalah partainya manusia yang kental dengan sentuhan manusiawi. Bukan partai robot. Bukan pula partai malaikat. Cita rasa manusiawi ini yang membuat loyalitas kader AKP, berkualitas.

(18)

AKP inklusif. Kader-kadernya heterogen. Namun semua satu dalam bahasa universal; menyapa dan menempa, meraba dan merasa, membela dan membawa, nyata beramal dan beramal nyata.

(19)

Nampaknya, kini AKP menjadi rujukan dunia Islam. Suka atau tidak suka, AKP memberi prestasi nyata di 13 tahun pertama. Bandingkan dengan partai yang lebih dulu ada. Nampak kesulitan walau sekedar keluar dari kubangan dialiktika dan propaganda.

Bangkitlah…! Dari Kelemahan yang Selalu Berulang

Bangkitlah…! Dari Kelemahan yang Selalu Berulang

Seorang Doktor dari salah satu universitas di Maroko menuliskan sebuah status yang cukup menghenyak hati. Bunyi status tersebut dalam Bahasa Arab yang artinya, “Kebatilan itu tidak akan pernah menang, kecuali jika disisipi sedikit bagian dari kebenaran. Sedangkan Al-Haq tidak akan bersembunyi, kecuali ia bercampur dengan sedikit kebatilan.”

Sebagai aktivis dakwah Ilallah, akhir-akhir ini kita diajak muhasabah sebenar-benar muhasabah. Kita tak mungkin berhenti berjuang, hanya karena himpitan beban berat ujian atau karena berada di atas angin kemenangan. Kita pun tak mungkin mundur ke belakang, larut dalam debat berkepanjangan. Karena “Sekali layar terkembang, Pantang surut ke belakang!”Ketika suatu keputusan telah bulat, maka seharusnya tidak ada lagi keragu-raguan di dalamnya. Jalani, terjang gelombang dan badai kehidupan yang menghadang sebagai konsekuensi. Tiada penyesalan!! Karena hidup adalah tanggungjawab atas setiap pilihan yang sudah diputuskan.
Oleh karena itu, bila ada ujian atau kesulitan, baginda Rasul dan salafusshalih selalu mengintruksikan untuk mengevaluasi derap langkah perjalanan. Khawatir Al-Haq yang sedang kita perjuangkan, disusupi kebatilan, walau dalam kadar yang menurut kita ringan tapi menurut Allah tidak dimaafkan. Bagi aktivis dakwah, cukuplah menjadi aib saat kita “berpuas hati” atas sedikit prestasi, padahal jalan perjuangan masih terjal dan panjang. Abu Tamam berkata, “Tak ada aib manusia yang aku lihat sebagai aib, seperti patah semangatnya orang-orang yang mampu meraih kesempurnaan.”
Karena kita adalah partai dakwah dan lahir dari rahim tarbiyah, maka wajar bila PKS dihadapkan pada tuntutan yang melebihi tuntutan kepada partai-partai lain:
1. Bagi masyarakat yang berafiliasi kepada gerakan Islam, wajar bila mempertanyakan peran dakwah amar makruf PKS di parlemen dan di pemerintahan. Walau uniknya, beberapa dari mereka yang mengkritisi bersikap GOLPUT dan enggan memberikan partisipasi, walau hanya dengan memberikan suara. Padahal, contoh elemen Salafy di Mesir. Mereka memutuskan untuk terjun aktif, memobilisasi massa, menjadi partner koalisi dengan Moursi (IM), namun mereka tetap kritis untuk kebijakan-kebijakan yang dirasa merugikan umat Islam. Salafy Mesir berpikir, Moursi (IM) adalah “saudara dekat” yang masih bisa tersentuh dengan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dan nasihat Rasul. Tentu mendukungnya jauh lebih baik daripada bersikap PASIF, berpangku tangan, mengkritik keadaan dan membiarkan negara diurusi kaum sekuler-liberal-muslim ambigu yang selama ini berlindung di bawah ketiak rezim Mubarak.
2. Bagi masyarakat awam, wajar bila mereka menuntut PKS konsisten dengan pengabdian. Mereka meminta dua saja: Public Fasilities yang memadai: Jalan-jalan lulus, bebas banjir; dan Publik Services yang optimal: pendidikan-kesehatan normal, harga stabil, dan layanan yang tidak bertele-tele. Terserah PKS dengan gubernurnya atau walikotanya mau mengaji tiap waktu, memberi nasihat tiap jam. Bagi awam yang penting perut kenyang, jalan-jalan lancar, usaha tak ada halangan. Titik.
Sebagai dakwah yang tidak lagi sekedar duduk melingkar dalam forum-forum tarbiyah di pojok-pojok masjid. Sejatinya, peringatan dari saudara-saudara pergerakan Islam manapun: harus diterima sebagai nasihat. Pahit getir nasihat, adalah menyehatkan. Tentu PKS bisa memfilter, mana nasihat yang tulus mana yang akal bulus. Mana nasihat yang ikhlas, mana nasihat yang penting asal puas. Mana kritik membangunkan, mana kritik yang membingungkan.
Sebagai partai yang tidak lagi berjuang mengurusi batasan ET dan jumlah kader yang banyak dengan kesolidan yang teruji di lapangan dan dana yang seluas langit dan bumi, maka PKS harus menekankan kepada kader-kader yang DITUGASKAN menjadi anggota dewan level Pusat ataupun daerah, para menteri, gubernur, walikota/bupati untuk fokus mengurusi HAJAT hidup khalayak. Mundur menjadi pengurus di PKS untuk fokus bekerja sebagai pejabat publik, harus diimbangi dengan kerja-kerja nyata yang manfaatnya dirasakan publik. Untuk Public Fasilities, kader-kader PKS harus siap ZERO Corruption. Sedangkan untuk Public Services, saatnya secara radikal mengganti pejabat-pejabat eselon I, II, dan PNS yang tidak sepandangan dengan misi dan visi besar PKS.
=> STOP fenomena memperkaya diri. Karena ketika saat ada kasus korupsi, yang kena getahnya adalah seluruh kader. Nasib kader yang di bawah, dilecehkan dan terus menerus dihujat atas perbuatan yang tidak dilakukan. Hingga ada sindiran, “Qiyadah yang berak, kader di bawah yang sibuk nyebokin.”
=> STOP fenomena Job What. Yaitu ketika menjabat, bingung menentukan skala prioritas pekerjaan. Tengoklah pemimpin-pemimpin besar, ia selalu disibukkan dengan agenda-agenda besar. Karena seorang gubernur/walikota/bupati yang ditunggu oleh masyarakat bukan kelihaian berkhutbah, ceramah, atau kepandaian tilwah … tapi yang ditunggu adalah nilai-nilai materi yang kasat mata, dirasakan, dan terbukti!
=> STOP fenomena Narsis. Karena ternyata tak sedikit para gubernur/bupati/walikota yang ditugaskan PKS, sibuk studi S2-S3, di saat pendidikan Dasar masyarakatnya belum tercapai! Padahal ia terpilih menjadi gubernur/walikota/bupati hasil dari jerih payah kader-kader di bawah. Mereka rela kehujanan, ikhlas kepanasan. Kampanye dor to dor, dengan ongkos sendiri, modal kaos sendiri, hingga bekal konsumsi sendiri. Kader-kader yang hingga kini tak pernah meminta jatah PNS, jatah APBD. Kader-kader yang ikhlas berjuang karena Allah, agar PKS semakin besar dan besar dan besar! Hingga Islam dan umatnya berjaya, bukan sekedar retorika belaka!
Ujian yang menimpa PKS, jangan dianggap remeh dan jangan dianggap lumrah. Sebab 7 % suara nasional, merupakan suara harapan yang insya Allah akan berlipat kali ganda, jika kita tidak terjebak kepada lobang kesalahan berkali-kali. Kita hanya bisa berdoa, ya Rabb, sebagaimana doa yang disampaikan Abu Salamah yang saya ubah, “”Ya Allah, kurniakanlah kepada agenda-agenda dakwah kami, sesudah ramainya kasus ini sistem dan pejuang yang lebih baik, yang tidak akan menyengsarakan dan menyakiti umat-Mu ya Rabb. Bersihkan kami dari benalu niat dan benalu lainnya. Karena kami tak ingin terperosok ke dalam kelemahan yang berulang.”
Bandung, 24/05/13; 7:52

Logika Sederhana

Logika Sederhana
By: Nandang Burhanudin
****
(1)
Jika ada persaingan. Tentukan sikap anda. Ilustrasi: Ketua DKM bersain dengan Pemabuk dalam memperebutkan kursi ketua RW.
 
(2)
Jumlah jamaah masjid, ada 10 orang. Harapannya mendukung ketua DKM. Sedangkan pemabuk, sudah menggadang-gadang calon pendukung: sama-sama 10 orang, terdiri dari pemilik prostitusi, bandar narkoba, penjual minuman keras, mucikari, dan tentunya bandar judi.
 
(3)
Apa yang terjadi?
 
(4)
Jamaah masjid tidak solid. Satu sama lain mengundurkan diri:
1. 2 orang beralasan, ketua DKM calon RW saat jadi imam Shubuh melakukan qunut Shubuh. Sedangkan 2 orang ini menganut fiqh tidak qunut Shubuh.
 
2. 2 orang beralasan, ketua DKM kalau pakai celana atau sarung, selalu menutupi mata kaki. Sementara mereka selalu mengangkat celana-sarungnya di atas mata kaki.
 
3. 2 orang beralasan, demokrasi bukan dari Islam. Sistem yang terbaik sistem khilafah. Masa iya ketua DKM disandingkan dengan pemabuk.
 
(5)
Anehnya. Dalam suatu sebaran tulisan. Ada yang menuliskan pendapat seperti ini; “Ahli maksiat, lebih baik daripada ahli bid’ah!” ada lagi yang menulis begini; “Pemabuk lebih cerdas dan lebih sadar. Juga nampaknya sederhana. Tapi kami tetap tidak memilihnya!”
 
(6)
Selebaran tadi cukup mempengaruhi 2 orang jamaah masjid. Sebab memang, si pemabuk sesekali datang ke masjid. Secara pendidikan, ia pun memiliki kemampuan di atas rata-rata.
 
(7)
Mudah ditebak. Pemabuk menang telak atas ketua DKM. RW pun dipimpin pemabuk. Pesta pora terjadi. Dangdutan. Hiburan malam. Layar tancap. Lomba gapleh. Tak lupa, lomba minuman khamr.
 
(8)
Anehnya. Sikap pengguna celana cangkring mengatakan. “Tetp saja. Dia pemimpin kita. Harus ditaati. Haram hukumnya berdemo atau memprotes!”
 
(9)
Sesekali ada keperluan perpanjang KTP, KK, izin RT-RW. Jamaah masjid kedua yang anti-Pemilu berpendapat. “Ini kan hadhoroh madaniyah. Tidak ada urusan! Kalau perlu, kita siap jadi pegawai RW-nya. Saya bekerja kok. Digaji bukan dari hasil mabuk dan judinya. Tapi dari keringat saya.”
 
(10)
Terus terang. Saya tidak qunut. Tapi saat memilih ketua RW. Saya akan pilih ketua DKM untuk jadi RW. Memilih bagian dari memberikan kesaksian dan akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Soal ada kekurangan dalam hal kecerdasan atau kapasitas. Semua bisa dikomunikasikan lewat jalur musyawarah.
 
(11)
Terus terang. Mengingatkan sosok ketua DKM yang jadi RW, jauh lebih mudah daripada mengingatkan pemabuk. Baru disindir saja sudah keluar bahasa kebun binatang dan teror fisik.
 
(12)
Bukankah hal ini terjadi di Jakarta dan Indonesia? Mari belajar berpikir sejenak. Kecerdasan Allah karuniakan untuk digunakan, bukan untuk ambigu dalam bersikap.

Pengkhianat Negeri

Pengkhianat Negeri
By: Nandang Burhanudin
****

(1)
“Suatu negeri akan hancur meskipun dia makmur.” Mereka berkata,” Bagaimana suatu negeri hancur sedangkan dia makmur?” tegas Amirul Mukminin, Umar bin Khatthab r.a.

(2)
Ia menjawab ,” Jika orang-orang yang penghianat menjadi petinggi dan harta dikuasai oleh orang-orang yang fasik.”

(3)
Menurut Jamaluddin Al-Afghani, “Pengkhianat negeri adalah dia yang menjadi penyebab terbukanya jalan bagi musuh untuk melangkahkan satu langkah, memasuki bumi pertiwi.”

(4)
Jika membuka celah bagi musuh melangkahkan satu langkah saja menginvasi negeri disebut pengkhianat, bagaimana dengan yang mendatangkan jutaan musuh, memberikan pekerjaan, mempermudah kepemilikan asset, bahkan membuka hak dwiwarga negara?

(5)
“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” – Bung Karno
(6)
“Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.” (Pidato HUT Proklamasi 1963 Bung Karno)

(7)
Kini, para pengkhianat negeri itu semuanya sudah nampak terang benderang. Teriakannya boleh jadi Pancasilais, tapi sebenarnya Komunis-Kapitalis-Zionis-Salibis.

(8)
Masalahnya siapa yang berani mengamputasi sifat-sifat pengkhianat itu? Sekali berkhianat, pengkhianat tidak akan bisa taubat. Apalagi melihat pemilik sah negeri ini digerus menjadi bangsa penjilat.

(9)
Tugas pewaris negeri adalah merebut posisi dan memperjuangkannya agar didedikasikan untuk perjuangan Tauhid, ketakwaan, serta kesentausaan rakyat banyak. Jangan lupakan, merebut kembali capital, modal, asset, kekayaan dari kaum fasik.

(10)
Jangan biarkan pengkhianatan atas negeri ini berlanjut hingga 2 periode kezhaliman. Doa terus kita panjatkan. Tapi perlawanan pun tidak boleh terhenti apalagi mati.

(11)
Kita benci kezhaliman atas nama dan agama manapun. Yang kita lawan kezhaliman, bukan person to person. Sebab orang boleh berganti, tapi kezhaliman akan mudah bangkit kembali. Ini saatnya kawan!

Menyelami Berkah Ormas Islam di Pilgub Jabar

Menyelami Berkah Ormas Islam di Pilgub Jabar

By: Nandang Burhanudin

******

 

(1)

“Para pemimpin terbaik paling mungkin ditemukan pada para pimpinan jemaat-jemaat agama besar, karena ia memiliki kemampuan yang mengejutkan dalam merekrut, mempertahankan, memberi inspirasi, menyatukan, membangun jaringan dan menggalang dana, termasuk menanamkan dan membangun kepercayaan”. (Peter F. Drucker)

 

(2)

“Jika suatu umat melalaikan agamanya, maka umat tersebut akan dikuasai bangsa-bangsa lain. Jika satu umat abai dengan  hal yang bisa mengangkatnya meraih puncak peradaban, maka umat tersebut akan jadi tawanan keburukan bangsa lain.” (Sultan Erdogan)

 

(3)

Pandangan 2 tokoh dari dua kutub berbeda semakin meneguhkan, bahwa komunitas Ormas tidak bisa diabaikan atau dipandang sebelah mata. NU KH. Agiel Siradj sudah bisa dibaca arahnya.  Persis, Muhammadiyah, PUI, AlIrsyad, akan berada di pilihan berbeda.

 

(4)

Berkaca di Pilgub Jabar 2008 dan 2013,  peran Ormas menggerakkan jamaahnya melalui media pengajian dan khutbah Jumat sangat signifikan. Sinergitas yang dibangun dengan Parpol (PKS, PAN, PBB) berbuah manis: Aher double winner.

 

(6)

Di 2008, Aher-Dede yang dianggap anak bawang, alhamdulillah dengan izin Allah, Hade menang sangat signifikan di 18 kota/kabupaten di Jawa Barat, yang rata-rata kemenangannya antara 36-58 % suara. Sedangkan  Aman hanya menang di 5 daerah yaitu Ciamis, Kuningan, Kab.Tasik, Sumedang, Subang. Dan Dai hanya menang di 3 Kabupaten yaitu Purwakarta, Indramayu dan Banjar.

 

(7)

Ternyata di Kokab yang menang itulah, pengaruh Ormas semisal PUI dan Muhammadiyah sangat mengakar dan menyebar. Plus kalangan NU non Gusdurian (biasanya pemilih PPP bukan PKB) menjadi penyumbang suara yang juga lumayan signifikan.

 

(8)

Model Pilgub Jabar ini diduplikasi Pilgub DKI Jakarta kemarin. Koalisi gemuk parpol pendukung Ahox, rontok di hadapan koalisi tulus ikhlas ormas Islam. Islam liljami’ wa Jakarta lil muslim menjadi tren. Ahox KO dengan selisih 20 %. Kemenangan yang menyakitkan 9 siluman dan genderewo berpangkat.

 

(9)

Aher pun pandai membalas jasa Ormas. Kendati kader PUI, Aher justru menjadi Bapak semua ormas Islam, tak terkecuali NU Gusdurian. Silaturahmi yang dijalin Aher pun sangat intens. Maka posisi Aher menjadi Ketua Pemenangan Pilgub Jabar, sejatinya membuka lebar bagi Ormas di Jabar.

 

(10)

Dedy Mizwar, Cagub seksi telah menunjukkan kelas narasinya. Berotak besar dan memiliki visi keumatan yang jelas, lugas, bernas. DPP PUI ada baiknya menjalin komunikasi dengan Demiz. Rekrut menjadi anggota kehormatan. Bukan demi uang, tapi demi memberi jalan terang agar Demiz tak dihantui dedemit yang menyesatkan.

Pilot dan Pramugara/i Pesawat Itu

Pilot dan Pramugara/i Pesawat Itu

By: Nandang Burhanudin

*****

 

(1)

2 minggu lalu, kami melakukan perjalanan dengan Saudia SV 815 Jakarta to Jeddah dan SV 816 Jeddah to Jakarta. Ada beberapa pengalaman.

 

(2)

Walaupun sama-sama satu perusahaan. Kami merasakan perlakuan dan sikap berbeda. Terutama pilot dan paramugara/i.

 

(3)

Pertama, saat boarding. Karena rombongan. Kami diwakili. Anehnya petugas darat tidak bisa membedakan calon penumpangnya.

 

(4)

Anak saya yang 9 bulan. Duduk di 50 J sendirian. Abinya di 47 H. Uminya di 40 E. Pasti bikin mumet. Pas komplain. Malah disuruh diam dan duduk.

 

(5)

Kedua, saat take off. Pilot nampak kasar. Kurang komunikatif. Terutama saat ada guncangan di tengah perjalanan.

 

(6)

Uniknya. Kru pesawat tidak memberikan hadiah cuma-cuma buat usia di bawah 3 tahun. Baru ngasih setelah diminta.

 

(7)

Ketiga, saat turun. Kami dibuat bingung. Kata kru pesawat. Tunggu dulu. Tapi giliran kita lama, eeh malah pasang wajah ketus.

 

(8)

Berbeda di penerbangan 816. Kami merasakan hal berbeda. Kru pesawat sangat kooperatif. Tidak mentang-mentang. Bahkan pilotnya pun, imformatif.

 

(9)

Saya dan keluarga tidak kenal siapa pilotnya. Kami tsiqoh 2000 % dan tawakal hanya kepada Allah. Namun dari 2 gaya pilot tadi, mana yang bikin tumakninah?

 

(10)

Kami pun paham. Kru pesawat itu adalah pekerjaan berat. Tapi, menyembunyikan ketegangan di balik senyum. Jauh menentramkan.

 

(11)

Sebagai penumpang. Kita tidak harus tahu banyak masalah pesawat,  rute penerbangan, musyawarah antar kru dan pilot co pilot.

 

(12)

Bagi kami. Yang penting sampai tujuan. Suguhan bergizi. Khidmat excellent. Soal ada guncangan. Kami tak berhak ikut rembug. Sebab kami terikat aturan harus pakai safety belt, melipat meja, menegakkan kursi.

 

(13)

Tapi. Minta tolong, kru pesawat jangan antikritik. Pahami latarbelakang penumpang. Berikan apa yang menjadi hak penumpang. Jangan bilang, pesawat ini tidak butuh anda. Anda yang butuh kami.

 

(14)

Sebab kalau penerbangan gak ada penumpang dan gak bayar tiket. Sebesar apapun perusahaan, akan bangkrut. Tengok Turkish Airlines. Kini jadi jawara Eropa dan dunia.

 

(15)

Perlakukan wajar saja, jika di antara kami berasal dari kampung. Gak ngerti kata PUSH…PULL..atau istilah Arab lain. Bimbing dengan bijak. Bukankah itu tugas kru pesawat.

 

(16)

Pilot juga jangan bilang kami sok tahu, kalau coba menerka ada apa di balik guncangan: petir kah? Angin kah? Atau ada serangan teror.

 

(17)

Nah pesan saya pada penumpang. Sabar. Duduk manis. Baca semua petunjuk perjalanan. Liat layar jangan hanya nonton hiburan. Satu lagi. Jangan berebutan.

 

(18)

  • Safety first. Sebab tak akan ada penerbangan yang menerlantarkan penumpangnya. Kecuali penerbangan yang abal-abal, tak punya misi NAIK…NAIK…

3 Kekuatan Memenangkan Pilgub Jabar

3 Kekuatan Memenangkan Pilgub Jabar
By: Nandang Burhanudin
******

(1)
Di tulisan kemarin, saya menyebut bahwa memenangkan anasir kebajikan di Pilgub Jabar adalah fardhu ‘ain: melekat pada jiwa setiap Muslim yang cinta Islam dan Indonesia.

(2)
Eksponen ABI 411, 212 yang berjumlah jutaan, cukup menggerakkan ruh-ruh perlawanan terhadap anarkisme keburukan. Selamatkan Jabar, untuk Indonesia selamat.

(3)
Mereka adalah kalangan terdidik, mukhlis, mukhlas dan tak memiliki tendensi politik selain mendorong penguasa agar mampu menghadirkan Syariat Allah dalam kehidupan.

(4)
The silent power. Tidak dikomando parpol tertentu. Steril dari taklimat ormas tertentu. Murni yang diperjuangkan, membela Islam dan menjaga izzah umat Islam di hadapan musuh.

(5)
Itulah kekuatan utama yang harus diresapi Cagub-Cawagub, meneguhkan Jabar paling tidak sama seperti yang dilakukan Aher, gubernur dari PKS.

(6)
Kekuatan selanjutnya adalah kekuatan relawan alias kader-kader PKS. Relawan yang seringkali tidak masuk dalam ongkos politik. Tapi selalu jadi suplemen yang menyegarkan.

(7)
Silahkan hitung ongkos politik Pilgub Jabar. Sekedar dana untuk fee saksi di 75.000 TPS, sudah belasan milyar. Khas untuk kader PKS, Calon hanya bermodal salaman.

(8)
Kader PKS juga rerata adalah aktivis kemanusiaan yang dekat dengan kaum kecil alias kaum marjinal. Tabungan kebaikan para relawan itulah yang membuat Calon tak perlu susah payah pasang iklan puluhan milyar.

(9)
Relawan PKS siap jadi penyambung lidah, sumber informasi, bahkan mengadvokasi. Hal yang mustahil dilakukan Cagub-Cawagub. Relawan PKS ujung tombak dan lebih sering juga menjadi ujung tombok.

(10)
Jadi kalau begitu, apa kerja Cagub-Cawagub? Fokuslah memperjuangkan narasi keumatan, supremasi hukum, keadilan sosial. Lalu perjelas sikap soal Meikarta, hak pribumi, dan jangan biarkan Jabar jadi pusat Kristenisasi.

(11)
Itu saja. Mudah kan? Sisanya, alumni 411, 212 dan relawan PKS siap berjibaku memperjuangkan. Ketahuilah, takdir kemenangan itu dekat.

Tn. Erdogan, Walikota yang Melegenda

Tn. Erdogan, Walikota yang Melegenda

By: Nandang Burhanudin

*****

 

(1)

Tahun 1993, puncak gunung sampah itu meledak. Istambul menjadi kota bau. Area kota Umrania benar-benar tak layak disebut kota. Bau sampah tercium sampai jauh.

 

(2)

Setahun kemudian, Tn. Erdogan terpilih menjadi walikota Istanbul. Tanpa orasi klemar-klemer, Tn. Erdogan sukses menata Istanbul menjadi wahana surga.

 

(3)

5 tahun kemudian, area Umrania menjadi pusat perbankan nasional. Gedung-gedung tersusun rapih. Saat ini Umrania menjadi pusat bisnis mahal di Istanbul.

 

(4)

Prestasi Tn. Erdogan berbuah manis. Rakyat Turki mengganjarnya dengan kemenangan partai berhaluan Islam AKP dan didapuk memimpin Turki tahun 2002.

 

(5)

Kini elektabilitas Tn. Erdogan mencapai 67.6 % dan AKP nya meraih 46.7 %. Capaian suara yang tak bisa disamai partai liberalis sekularis. AKP di 16 tahun 16 Agustus kemarin banjir pujian.

 

(6)

Sukses Tn. Erdogan menjadi platform bagi seluruh walikota, gubernur, menteri AKP di seluruh Turki: menang untuk menjadi pelayan, bukan cenayang yang hobi pencitraan.

 

(7)

Mobil pejabat setingkat walikota, gubernur, menteri acap dipakai rakyat biasa. Tentu saat mereka mengadukan keluhan di hotline yang salah satunya terhubung langsung dengan Tn. Erdogan.

 

(8)

Tak perlu moneypolitic saat kampanye atau pencoblosan. Sebab semua pejabat sudah menggelontorkan APBN untuk melindungi dan melayani rakyat. Gratisss! Listrik, gas, RS, pendidikan, yansos.

 

(9)

AKP adalah partai Islam yang tidak sekedar jjalan taat dan tsiqoh, atau kebingungan menentukan arah partai. Step by step raihan perjuangan dicapai, nyaris tanpa sikut-sikat-sakit-sekat.

 

(10)

Balas budi rakyat Turki untuk Tn. Erdogan dan AKP adalah pengorbanan jiwa raga menentang aksi kudeta militer Juli 2016. Loyalitas rakyat buah dari integritas dan jejaring kesuksesan yang nyata dan terasa.

 

(11)

Kesuksesan AKP kini sering jadi cerita dunia Arab dan dunia Islam. Tapi ruang keterbacaan sebatas pada retorika untuk melahirkan diktator gaya baru yang minus prestasi.

 

(12)

Bravo Tn. Erdogan! Maafkan kami di Indonesia baru jualan slogan! Anda jadi legenda!

Gerakan Islam dan Perang Generasi Keempat

Gerakan Islam dan Perang Generasi Keempat
By: Nandang Burhanudin
****

(1)
Prof DR Roger Graudi, seorang filsuf Marxis Perancis yang telah menjadi Muslim menegaskan soal fenomena perang generasi keempat.

(2)
Menurutnya, perang Zero Capital alias Nol Modal akan digerakkan Barat untuk menghancurkan Islam dan umat Islam.

(3)
Cirinya: umat Islam saling terlibat konflik, lalu belanja persenjataan, lalu saling bunuh. Kemudian meminta Barat untuk menghentikan perang. Barat jelas menolak.

(4)
Perang nol modal, Barat sama sekali tidak mengalami kerugian. Malah mereka mendapatkan keuntungan berlipat dari bisnis senjata. Setelah itu mereka pula yang menikmati hasil.

(5)
Tengok perang di Syiria. Koalisi yang dipimpin Saudi kalah. Demikian halnya perang Saudi di Yaman. Saudi pun menyerah. Saudi makin malu dengan gagalnya mengembargo Qatar.

(6)
Saya menyebutnya, perang kesia-siaan. Ujungnya, Trump meraup ratusan milyar dollar dari bisnis persenjataan yang digunakan untuk membunuhi sesama bangsa sendiri.

(7)
Di kancah perpolitikan tanah air, nampaknya operasi generasi keempat ini masih canggih. Tengoklah cara mereka menghancurkan parpol berbasis massa Islam di Indonesia misalnya.

(8)
PPP, PKB, PAN, juga PKS. Mereka masuk menyusupkan agennya yang kemudian aktif menciptakan perpecahan. Sasaran ribut. Lalu meminta pengadilan menyelesaikan.

(9)
Kisruh di Golkar, PPP adalah contoh hangat. Ujungnya mudah ditebak. Kekuatan parpol tersebut goyah. KMP bubar. Lalu satu sama lain saling berlomba menjadi penjilat.

(10)
Galak terhadap internal umat. Husnuzhan pada eksternal adalah bukti kesuksesan perang generasi keempat. Teluk minus Qatar sangat galak pada HAMAS, tapi adem pada Israel.

(11)
Rerata perang generasi keempat sukses memunculkan rezim-rezim diktator, yang tak boleh disentuh kritik atau evaluasi. Baginya negara dan organisasi adalah warisan darah biru. Orang lain hanya penumpang.

(12)
Kesuksesan itu disebabkan terciptanya suasana risk averse, takut mengambil resiko. Nyaman berada di Comfort Zone. Semua berada di posisi safety player. Terlena pujian, lupa persiapan.

(13)
Alasannya apalagi kalau bukan hubbud dunya wakarahiyatul maut. AsSisi dan Jokowi nyaris tanpa perlawanan. Tapi Emir Tamim dan Tn. Erdogan memilih bangkit melawan.

(14)
Melawan atau tidak, ujung-ujungnya dihabisi. Percayalah, mereka tidak akan pernah membiarkan gerakan Islam membesar. Kisaran 2-7 % toleransi yang mereka berikan.

(15)
Jadi bagi gerakan Islam, sepatutnya menyiapkan diri; kenali musuhmu sebelum mengebiri saudaramu. Jika tak kenal musuh, siap-siap saja dipermainkan musuh.

 

 

© 2017 Nandang Burhanudin All Rights Reserved   

Theme Smartpress by Level9themes.