Nandang Burhanudin Pakar Peradaban Islam

Menghargai Guru Ngaji

Menghargai Guru Ngaji
(Kenangan Ustadz Nasir Haris almarhum)
By: Nandang Burhanudin
****

(1)
“Ana 13 kali jatuh dari motor, saat dibonceng mengisi acara mahasiswa.” Kisah almarhum Ustadz Nasir Haris suatu waktu.

(2)
Beliau sempat 6 bulan lalu bersilaturahmi. Mengajak “besanan”. Sayangnya putri saya, masih 1 SMP.

(3)
Bagi saya. Sosok Ustad Nasir Haris, sosok tawadhu’. Pernah mengageni penjualan Mushaf AlBurhan di Jogya.

(4)
Kembali ke poin 1. Saya selalu menolak bepergian dengan motor. Mengendarai ataupun dibonceng. Kecuali jarak dekat.

(5)
Bukan manja. Tapi lebih pada safety. Selain kesiapan panitia dalam menginisiasi agenda dakwah.

(6)
Terngiang celoteh salah seorang teman. “Kepala Ustaz itu berharga. Tukang dagang sama pengurus partai banyak dan mudah dicari. Sementsara ustadz dengan kedalaman ilmu dan pahaman manhaj, mahal investasinya.”

(7)
13 kali jatuh adalah surprise. Mike Tyson saja gak sempat jatuh sebanyak itu, padahal di kanvas tinju.

(8)
Jadi kembali menseriuskan agenda optimalisasi SDM Syariah. Caranya memposisikannya lebih manusiawi.

(9)
Guru-guru dakwah bukan da’i bertarif jutaan. Bukan pula pencari fasilitas mewah. Tapi memanusiakannya tentu wajar dan lumrah.

(10)
Contohlah penyikapan jamaah NU kepada Kiai. Menurut sebagian orang berlebihan. Tapi ikraaman dan takriiman, patut diacungi jempol.

(11)
Saya mendoakan. Almarhum Ustadz Nasir Haris diterima sebagai pejuang kebajikan. Berhak meraih ampunan dan rahmat Allah.

Cerita Cinta

Cerita Cinta
By: Nandang Burhanudin
*****

(1)
Alkisah, ada ustadz yang tak kuat menahan linangan air mata, ketika menyaksikan anak dari anggota grupnya menangis ingin sepeda.

(2)
Sang abi yang miskin, tak mampu membelikan sepeda. Ia hanya bisa manahan air mata, sembari sesekali menarik air liur, saking pasrahnya.

(3)
Minggu depannya, sang ustadz membawakan sepeda. Sebulan kemudian baru diketahui, sepeda itu adalah milik putranya yang ia hadiahkan untuk anak anggota grupnya.

(4)
Seandainya ada kesibukan, maka kesibukan paling utama adalah menjadi advokat dan fasilitator bagi hajat publik.

(5)
“Aku berjalan memenuhi hajat saudaraku, lebih aku cintai daripada i’tikafku di Masjidku ini selama satu bulan.” (Hadis Hasan dishahihkan Al Albani)

(6)
“Carilah aku pada orang-orang lemah kalian, karena sesungguhnya kalian hanya diberi rejeki dan pertolongan dengan berbuat baik kepada orang-orang lemah di antara kalian. (Musnad Ahmad, 20738)

(7)
KH. Hilmi Aminudin menyebutnya dengan istilah mata rantai kerja sosial, karena individualistik bertentangan dengan fitrah sosial manusia.

(8)
Jauh-jauh hari, pendiri jamaah terbesar abad 21 Ikhwanul Muslimin, yang kini disebut teroris oleh pelaku teror dan perampok sejati menegaskan.

(9)
“Wahai Ikhwan … apakah kalian siap sedia untuk berlapar-lapar sampai rakyat kebanyakan dalam keadaan kenyang?”

(10)
“Apakah kalian siap untuk begadang hingga larut malam agar rakyat kebanyakan bisa pulas tidur?”

(11)
“Apakah kalian siap sedia untuk larut dalam letih hingga rakyat kebanyakan dapat istirahat penuh?”

(12)
“Apakah kalian siap sedia untuk menjemput kematian agar manusia kebanyakan terus bisa hidup?”

(13)
Jika terhadap hajat publik sifatnya seperti di atas, apatah lagi dengan sesama saudara yang terikat doa robithah.

(14)
Semoga cerita itu masih ada. Nir cinta akan diisi curiga.

Belajar dari Kaum Agamis Turki

Belajar dari Kaum Agamis Turki
By: Nandang Burhanudin
****

(1)
“Mengapa saya ikut memilih di Pemilu 10 November 2015?” Tulis seorang aktivis yang mengakui tidak pernah ikut Pemilu selama era demokrasi Turki.

(2)
Karena baginya, demokrasi bukan jalan untuk menerapkan syariat Islam. Apalagi membangkitkan era kejayaan khilafah Islam.

(3)
Namun. Ia mengungkapkan. Pemilu 10 November 2015 adalah Pemilu penentu. Apakah Turki akan kembali ke era perang saudara dan konflik berkepanjangan?

(4)
Ia paham bahwa Kaum Kemalis yang didukung kalangan Liberal, Sekuler, Komunis mengelola negara dengan gaya premanisme dan menebar kebencian.

(5)
Ia paham bahwa Turki sebagai negara adalah benteng yang wajib dikuasai oleh kalangan Islamis. Terlebih kaum mudanya.

(6)
Ia paham, Turki 10 tahun lalu, istri Erdogan yang berhijab dilarang memasuki istana. Militer mewajibkan syarat seorang Presiden adalah sekuler.

(7)
Ia paham, Turki 7 tahun lalu, AKP hampir saja dibubarkan ketika akan menghapus larangan berhijab/berjilbab di kampus-kampus.

(8)
Ia paham, 5 tahun lalu, kalangan Kurdi hampir saja memerdekakan diri setelah mendapat angin segar dan dukungan logistik berlimpah.

(9)
Namun dengan kecerdikannya, AKP secara bertahap menyelesaikan masalah-masalah krusial di masyarakat Turki. Cobalah lihat fakta saat ini!

(10)
Jadi jika ada kalangan yang tetap keras kepala dan menjadi pegiat Golput di saat-saat genting. Yakinlah, ia tak paham keadaan!

(11)
Bisa jadi. Ia menikmati saat Liberal, Sekuler, Islamphobia bernafsu mengangkangi negeri-negeri Muslim. Lalu kekuasaan diserahkan kepada mereka.

(12)
Bisa jadi. Kurang ngaji atau ngajinya tanpa mengkaji. Jikapun mengkaji tak sampai pada intisari. Jika sampai intisari ia pun tak mengerti. Jika mengerti ia tak memiliki energi.

(13)
Tepat yang dikatakan Erbakan. Umat Islam yang tak peduli dengan politik. Maka ia akan dikuasai pemimpin politik yang tidak peduli kepada Islam dan umatnya.

(14)
Lalu, apakah kalangan Agamis Muslim di Indonesia akan terus membiarkan Indonesia dan Jakarta dikangkangi penguasa yang tak peduli kepada Islam dan umatnya?

(15)
Jawabannya, seberapa besar kesadaran untuk menginfakkan suara seikhlas mungkin kepada calon Muslim berintegritas. Jika kemudian ada salah, belajarlah kepada kalangan agamis Turki, mereka menghukum tanpa pernah mematikan.

Menyikapi Pelanggaran

Menyikapi Pelanggaran
By: Nandang Burhanudin
****

(1)
Al Qur’an way of life yang tak kering dengan hikmah. Al Qur’an merangkum seluruh pelajaran untuk pedoman umat manusia sepanjang zaman. Cukup dengan Al Qur’an, kita paham kehidupan.

(2)
Di antara keajaiban Al Qur’an, merinci segala pelanggaran Bani Israel. Entitas umat yang banyak menerima kitab-shuhuf, tapi perilakunya mirip keledai yang memikul bejibun ilmu.

(3)
Misalnya surat Al A’raf: 163-166. Salah satu hukum dan peraturan kaum Yahudi yaitu libur pada hari Sabtu. Pada hari ini mereka tidak boleh melakukan pekerjaan apapun, selain melakukan pekerjaan peribadi dan ibadah kepada Allah Swt.

(4)
Namun watak Yahudi hobi melakukan tipu muslihat, mengakali aturan. Penduduk di tepi pantai ini menyusun satu cara untuk menangkap ikan tanpa harus melanggar hukum Allah. Sebab ujian Allah, ikan-ikan muncul ke permukaan justru di hari Sabtu.
(5)
Mereka membuat petak-petak semacam kolam di tepi pantai. Dengan cara ini mereka tetap beribadah sementara ikan-ikan yang berdatangan di hari Sabtu akan terjebak dan tidak dapat keluar dari kolam-kolam tersebut. Sehari setelahnya, ikan-ikan itu akan ditangkap.

(6)
Nah, hebatnya Al Qur’an mencantumkan ikhtiar sekelompok Bani ISrael di negeri tersebut untuk mengingatkan dan mencegah kaum Yahudi terjerumus pada akal bulus dan pelanggaran yang tidak lagi dianggap dosa, hingga susah untuk bertaubat.

(7)
Ayat 164 Allah berfirman, “Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.” (7: 164)

(8)
Ada kelompok pelanggar aturan الفرقة العاصية, dan penguasa pelanggar aturan paling sering dan akut. Ada kelompok yang cuek bebek, الفرقة المعتزلة، biasanya kelompok intifa’, cari aman, dan tentunya mengail di air keruh. Lalu ada kelompok yang mengingatkan-melarang, الفرقة الثالثة الناهية: biasanya termarjinalkan dan sering dicap macam-macam.

(10)
Ahlul qaryah adalah entitas kecil. Sepadan dengan ormas, orpol, jamaah, atau kelompok arisan. Pelanggaran dengan mengakali aturan, AD/ART, adalah biang dari mengakali konstitusi negara.

(11)
Pilihan kita, apakah bersama kelompok pelanggar, atau menjadi kelompok cari aman, atau memilih menjadi kelompok yang mengingatkan. Semua pilihan ada konsekwensi. Itulah pilihan perjuangan!

(12)
Saya lebih memilih menjadi kelompok yang mengingatkan, supaya: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabb, Allah Ta’ala.” Kisruh dan pelanggaran, kecil apalagi besar, tidak boleh dibiarkan. Terutama pelanggaran para tetua, yang seringkali memainkan pisau hukum; tajam ke bawah tumpul ke atas.

 

Belajar Mengelola Perbedaan dari Mr. Erdogan dan Mr. Daud Oglu

Belajar Mengelola Perbedaan dari Mr. Erdogan dan Mr. Daud Oglu
By:Nandang Burhanudin
*****

(1)
Soal perbedaan gaya, ternyata menimpa AKP di Turki.

(2)
Gaya Erdogan yang instruktif, ada kecenderungan otoritarian, dan kemungkinan abusif jika tanpa kendali.

(3)
Berbeda dengan gaya penggantinya, PM Daud Oglo. Gaya beliau cenderung kalem, pilihan katanya ilmiah, diksinya tertata dan hati-hati.

(4)
Kedua gaya lahir dari latarbelakang berbeda. Erdogan adalah seorang praktisi bisnis, orang pergerakan, dan sukses mengawal birokrasi sejak usia muda.

(5)
Daud Oglu adalah seorang akademis murni, bergelar guru besar, dosen luar biasa, mahir 5 bahasa asing. Walau keduanya sama-sama lahir dari desa dan dari kalangan menengah biasa.

(6)
Keduanya memiliki kesamaan dalam hal: wawasan terbuka, moralitas, integritas, dan kapasitas. Erdogan secara praktek lebih unggul, karena aral melintang di lapangan.

(7)
Namun gayanya yang meledak-ledak itulah, yang selalu membuat merah kuping. Obama, Shimon Peres, Ban Ki Moon, As-Sisi, Raja Emirat, Kanselir Jerman, PM Italia, pernah merasakannya.

(8)
Maka Erdogan menjadi target pihak Barat. Salah satu targetnya, membenturkan Erdogan dengan Daud Oglu. Seakan mengangkat Oglu, demi menjatuhkan Erdogan.

(9)
Barat berusaha menyusupkan kader-kader Tamarrud (pembangkang, anti) Erdogan di AKP. Kesalahan Erdogan dicari-cari, hingga dituduh diktator dan anti kebebasan berpendapat.

(10)
Erdogan paham dan tegaskan, jika AS kampiun demokrasi. Berapa jumlah penghina Obama yang dipenjara dibanding penghina Erdogan?

(11)
Erdogan murka saat AS menyadap jalur komunikasinya. Pun murka, saat perwakilan konsuler negara-negara Barat hadir dalam persidangan awal soal pelanggaran jurnalistik.

(12)
Tak lupa, Erdogan memberi ruang seluas-luasnya untuk Daud Oglu. Dwitunggal yang sulit digoyang setidaknya untuk saat ini.

(13)
Jadi jurus menghindari konspirasi dan konflik internal adalah: Fokus pada misi, visi, dan cita-cita perjuangan AKP untuk apa didirikan dan apa yang dilakukan kini saat berkuasa.

(14)
Lalu melimpahcurahkan hasil kerja dan kinerja untuk seluruh rakyat tanpa kecuali, sembari menahan diri untuk sekadar menikmati fasilitas halal yang berlebihan.

(15)
Jangan lupa, fokus Erdogan dan Oglu untuk menjaga postur kader-kader AKP agar tidak terjadi jomplang: obisitas kesejahteraan di satu sisi dan muntaber kemiskinan di sisi lain.

(16)
Erdogan dan Oglu bersatu dalam satu kata: kader-kader AKP adalah tulang punggung perjuangan. Tidak boleh dianggap sebelah mata. Diberikan ruang. Tidak ada monopoli pihak-pihak tertentu. Lalu aturan partai dijalankan.

(17)
Maka kita lihat, upaya Barat memecah belah kongsi Erdogan dan Oglu sia-sia. Soliditas keduanya sulit ditandingi partai Islam manapun di dunia. Plus, kepemimpinan Erdogan yang penuh hamasah dikawal dengan gaya Oglu yang penuh hikmah.

(18)
Partai politik yang tidak siap dikritisi, lebih baik jadi yayasan keluarga. Sebab Erdogan dan Oglu memiliki prinsip: AKP bukan parpol 5 tahunan, yang hadir pas ada kampanye Pilpres atau Pileg.

(19)
Tapi AKP adalah partai yang disiapkan untuk membina generasi, menyiapkan endurance perjuangan hingga di tahun 2023, terlaksana cita-cita Turki menjadi Numero Uno, di tahun 2053 The United State of Turkey berdiri. Lalu di tahun 2067, Khilafah.

(20)
Terlalu sayang pelajaran Mr. Erdogan dan Mr. Oglu, hanya sekadar cerita dalam lagu-lagu yang tak punya tangga nada dan irama. Semoga jadi pelajaran.

Tak Malu Mengaku Salah

Tak Malu Mengaku Salah
By: Nandang Burhanudin
*****

Sunnatullah. Manusia tempat salah dan dosa. Tapi manusia juga, terpilih menjadi khalifah. Berksh dari akhlak mulia menjadi mahkota. Salah dan keliru adalah hal lumrah. Tapi enggan mengakui khilaf, justru belenggu. Efeknya tidak hanya di dunia. Tapi di akhirat kelak.

Alkisah. Malaikat serentak melakukan penolakan terhadap kalangan yang hendak datang ke al-Haudh (telaga Rasulullah di surga). Penyebabnya, dikarenakan dahulu di dunia, mereka termasuk kalangan yang bersikukuh untuk berpegang pada kekeliruan, kesalahan dan kesesatan. Hal ini ditunjukkan dalam hadits, ketika para malaikat memberikan alasan kepada Nabi,

إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ، وَلَمْ يَزَالُوا يَرْجِعُونَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ، فَأَقُولُ: أَلَا سُحْقًا، سُحْقًا

“Mereka telah mengganti-ganti (ajaranmu) sepeninggalmu” maka kataku: “Menjauhlah sana… menjauhlah sana (kalau begitu)” [Shahih. HR. Ibnu Majah].

Nabi saw. bahkan mendoakan kecelakaan kepada mereka yang enggan melakukan introspeksi. Gengsi melakukan koreksi. Sigap menerima kebenaran yang ada di depan mata.

Muhasabah atau evaluasi diri merupakan cara mengoreksi diri. Tandanya menerima sikap rujuk dari kemaksiatan dan kekeliruan dalam suatu pendapat dan perbuatan.

Suami istri yang memilih bercerai dan enggan rujuk. Cermin mengutamakan sikap tafarrud (egosentris) daripada tajarrud (menyingkirkan emosional). Suatu kelompok yang bertikai, padahal dulu satu lingkaran perjuangan. Tanda ketidakdewasaan sikap. Apalagi jika menjadikan keputusan pengadilan sebagai ketetapan. Bukankah hukum AlQuran kebenaran yang dipegang?

Lalu mengapa susah sekali berdamai, mengedepankan muhasabah daripada menebar wabah penyakit dari akar hingga pucuk dedaunan? Mengapa tak introspeksi, bahwa yang berguguran di medan kebajikan bukan hanya ranting, daun, dan akar rumput. Tapi juga batang pohon yang nampak gagah tapi goyah, yang tak sadar digerogoti rayap?

Ada beberapa sebab, seorang pasangan suami istri atau kelompok organisasi susah rujuk dan muhasabah.

Pertama, menutup diri dari saran pihak lain. Mengeleminasi syuuro. Menolak mediasi. Menjadikan tongkat komando sebagai jurus sakti.

Seorang dapat terbantu untuk mengevaluasi diri dengan bermusyawarah bersama rekan dengan niat untuk mencari kebenaran. Imam Bukhari mengeluarkan suatu riwayat yang menceritakan usul Umar kepada Abu Bakar radhiallahu anhuma untuk mengumpulkan AlQuran. Tatkala itu Abu Bakar menolak usul tersebut. Namun Umar terus mendesak beliau dan mengatakan bahwa hal itu merupakan kebaikan. Pada akhirnya Abu Bakar pun menerima dan mengatakan,

فَلَمْ يَزَلْ عُمَرُ يُرَاجِعُنِي فِيهِ حَتَّى شَرَحَ اللَّهُ لِذَلِكَ صَدْرِي، وَرَأَيْتُ الَّذِي رَأَى عُمَرُ

“Umar senantiasa membujukku untuk mengevaluasi pendapatku dalam permasalahan itu, hingga Allah melapangkan hatiku dan akupun berpendapat sebagaimana pendapat Umar” [HR. AlBukhari].

Abu Bakar tidak bersikukuh dengan pendapatnya ketika terdapat usulan yang lebih baik. Kedudukan beliau yang lebih tinggi tidaklah menghalangi untuk menerima kebenaran dari pihak yang memiliki pendapat berbeda.

Kedua, tidak lagi mementingkan persahabatan dengan rekan yang shalih.

Salah satu sarana bagi seorang muslim untuk tetap berada di jalan yang benar adalah meminta rekan yang shalih untuk menasehati dan mengingatkan kekeliruan kita, meminta masukannya tentang solusi terbaik bagi suatu permasalahan, khususnya ketika orang lain tidak lagi peduli untuk saling mengingatkan. Bukankah selamanya pendapat dan pemikiran kita tidak lebih benar dan terarah daripada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, padahal beliau bersabda,

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ، أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ، فَإِذَا نَسِيتُ فَذَكِّرُونِي

“Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian. Aku lupa sebagaimana kalian lupa. Oleh karenanya, ingatkanlah aku ketika diriku lupa.” [HR. AlBukhari].

Ketika budaya saling menasehati dan mengingatkan tertanam dalam perilaku kaum mukminin, maka seakan-akan mereka itu adalah cermin bagi diri kita yang akan mendorong kita berlaku konsisten. Oleh karena itu, dalam menentukan jalan dan pendapat yang tepat, kita harus berteman dengan seorang yang shalih. Kita jangan mengalihkan pandangan kepada maddahin (kalangan penjilat) yang justru tidak akan mengingatkan akan kekeliruan saudaranya.

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِالْأَمِيرِ خَيْرًا جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ صِدْقٍ، إِنْ نَسِيَ ذَكَّرَهُ، وَإِنْ ذَكَرَ أَعَانَهُ

“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi diri seorang pemimpin/pejabat, maka Allah akan memberinya seorang pendamping/pembantu yang jujur yang akan mengingatkan jika dirinya lalai dan akan membantu jika dirinya ingat” [Shahih. HR. Abu Dawud].

Contoh nyata akan hal ini disebutkan dalam kisah al-Hur bin Qais, orang kepercayaan Umar bin Khaththab radhiallahu anhu. Pada saat itu, Umar murka dan hendak memukul Uyainah bin Husn karena bertindak kurang ajar kepada beliau, maka Al-Hur berkata kepada Umar,

يَا أَمِيرَ المُؤْمِنِينَ، إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {خُذِ العَفْوَ وَأْمُرْ بِالعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الجَاهِلِينَ} [الأعراف: 199] ، وَإِنَّ هَذَا مِنَ الجَاهِلِينَ، «وَاللَّهِ مَا جَاوَزَهَا عُمَرُ حِينَ تَلاَهَا عَلَيْهِ، وَكَانَ وَقَّافًا عِنْدَ كِتَابِ اللَّهِ»

“Wahai amir al-Mukminin, sesungguhnya Allah ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya, “Berikan maaf, perintahkan yang baik dan berpalinglah dari orang bodoh.” Sesungguhnya orang ini termasuk orang yang bodoh”. Perawi hadits ini mengatakan, “Demi Allah Umar tidak menentang ayat itu saat dibacakan karena ia adalah orang yang senantiasa tunduk terhadap al-Quran.” [HR. AlBukhari].

Betapa banyak kezhaliman dapat dihilangkan dan betapa banyak tindakan yang keliru dapat dikoreksi ketika rekan yang shalih menjalankan perannya.

Ketiga, tidak terbuka untuk melakukan muhasabah.

Ibarat pisau. Tumpul ke atas. Tajam ke bawah. Padahal di antara bentuk muhasabah paling efektif an-naqd ad-dzaati (mengkritisi diri sendiri). Terutama untuk keputusan yang menyangkut hajat publik. Apalagi keputusan yang dipandang bisa membuat kegaduhan dan memecah persatuan ukhuwwah.

Diriwayatkan dari Maimun bin Mihran, beliau berkata,

لَا يَكُونُ العَبْدُ تَقِيًّا حَتَّى يُحَاسِبَ نَفْسَهُ كَمَا يُحَاسِبُ شَرِيكَهُ

“Hamba tidak dikatakan bertakwa hingga dia mengoreksi dirinya sebagaimana dia mengoreksi rekannya” [HR. Tirmidzi]

Rujuk. Berdamai. Mengakui kesalahan. Bukanlah aib. Justru jika dilakukan, niscaya orang dan organisasi yang melaksanakannya akan berunung. Bukankah di materi tingkat dasar diajarkan. Sosok yang kuat bukan yang main hadang dan main tendang. Tapi sosok yang kuat, yang mampu mengontrol emosi jiwa. Sebab musibah sebenarnya adalah ketika terus-menerus melakukan kekeliruan.

Ini Liqoku, Kok Gitu Taklimmu?

Ini Liqoku, Kok Gitu Taklimmu?
By: Nandang Burhanudin
****

(1)
Seseorang yang berdakwah harus memiliki ilmu tentang syariat Allah Ta’ala, sehingga dakwah yang dilakukannya tegak di atas landasan ilmu dan bashirah (hujjah yang nyata).

(2)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah –ketika menjelaskan surat Yusuf ayat ke-108 di atas- berkata bahwa ilmu yang dibutuhkan untuk berdakwah bukanlah ilmu syar’i (ilmu tentang apa yang akan didakwahkan) saja,

(3)
Akan tetapi juga mencakup ilmu tentang keadaan orang-orang yang akan didakwahi dan ilmu tentang metode yang paling tepat dan paling sesuai agar dakwah itu sampai kepada mereka. Inilah di antara bentuk hikmah dalam berdakwah. (Lihat Al-Qoulul Mufiid ‘alaa Kitaabit Tauhiid, 1/82, cet. Daarul ’Aqidah).

(4)
Derap langkah dakwah jika mengikuti Sunnah Rasul, harus ‘alaa rislik (pelan-pelan, gradual, bertahap). Kontennya menyeru pada Islam. Rasul bersabda,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ ، وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ ، فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ

(5)
”Bergeraklah perlahan-lahan sehingga kamu tiba di wilayah mereka. Kemudian ajaklah mereka masuk Islam. Beritahulah mereka tentang kewajiban yang harus mereka tunaikan. Demi Allah, sungguh jika Allah memberikan petunjuk kepada seseorang dengan perantara dirimu, itu lebih baik bagimu daripada unta yang merah-merah (unta yang paling bagus dan paling mahal).” (HR. Bukhari dan Muslim).

(6)
Karena kontennya seputar Islam, maka meliputi ‘uluum syar’iyyah, yang terbagi menjadi dua macam. Pertama, ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap orang. Seorang Muslim tidak boleh bodoh (tidak mengetahui) tentang ilmu tersebut. Contoh ilmu yang wajib adalah ilmu tentang rukun Islam, yaitu ilmu tentang dua kalimat syahadat, ilmu tentang shalat, zakat, puasa Ramadhan, dan berhaji ke baitullah. Maut tidak mau, Muslim harus mempelajarinya.

(7)
Kedua, ilmu tentang hukum-hukum syariat, yang dibutuhkan umat Islam secara keseluruhan, namun belum tentu dibutuhkan setiap orang. Contohnya adalah ilmu tentang hukum jual beli, hukum wakaf, warisan, wasiat, dan hukum nikah. Ilmu ini tidak wajib dipelajari oleh setiap orang. Apabila sudah ada sejumlah orang yang mempelajarinya, hal itu sudah cukup. Dengan ini, orang-orang yang telah mempelajari ilmu tersebut dapat diminta sebagai tempat bertanya.

(8)
Ketiga, ‘uluum insaaniyyah (humaniora) yang tidak bisa dilepaskan dari ajaran Islam. Ilmu humaniora terkait dengan kemaslahatan umum semisal: ilmu berkaitan dengan alam raya, ilmu tentang manusia, ilmu kesehatan, ilmu politik, ilmu geostrategis, ilmu sosial, ilmu mental, dll.

(9)
Liqo sejatinya bukan sekedar majlis taklim, tapi sebuah upaya untuk mengeratkan serak-serak jiwa dalam bingkai ukhuwwah (persaudaraan), menyatukan segenap potensi beragam dalam satu ikatan, berkumpul meraih cinta Allah, bersatu dalam dekapan dakwah Lillah wa Ilallah, berhimpun menolong agama Allah, dan berikhtiar menjalankan syariat Allah.

(10)
Liqo tarbawi tak lain upaya minimal kita mengikuti Sunnah Rasul, saat membina para sahabat generasi awal di Al-Arqam bin Abil Arqam. Lalu terbentuknya qaa’idah shulbah (kader-kader militan) Islam yang kemudian membentuk Muhajirin-Anshar dalam penegakan peradaban Islam.

(11)
Jika liqoat disebut bid’ah, jelas fitnah. Tapi kami tidak menganggap aneh, sebab itulah kerjaan juru dakwah BNPT, yang sejak lama membidik dan menyebut aktivitas tarbawi yang dikemas LDK atau LDKS disebut sebagai biang radikalisme.

(12)
Namun, jika liqoat dikritisi sebab cenderung dimanfaatkan pihak-pihak tak bertanggung jawab, maka kami menerimanya dengan lapang dada. Kami sadar, liqoaat yang sekarang berlangsung, cenderung kering ilmu dan hampa ruhiyah. Bahkan di beberapa tempat, ukhuwah tergerus oleh arogansi jabatan struktural dan rebutan posisi marhalah.

(13)
Kekurangan itu terus kami perbaiki. Sebab prinsip liqoat kami seperti yang dinasihatkan Imam Asy-Syafi’i;
Aku mencintai orang-orang sholeh meskipun aku bukan termasuk di antara mereka. Semoga bersama mereka aku bisa mendapatkan syafa’at kelak. Aku membenci para pelaku maksiat meskipun aku tak berbeda dengan mereka. Aku membenci orang yang membuang-buang usianya dalam kesia-siaan walaupun aku sendiri adalah orang yang banyak menyia-nyiakan usia.”

(14)
Ini liqo kami, kok begitu taklimmu?

Syaikh Mujahid dan Syaikh Anti Jihad

Syaikh Mujahid dan Syaikh Anti Jihad
By: Nandang Burhanudin
****
Ulama itu pewaris para nabi. Warisan para ulama adalah sikap hidup. Di era kontemporer warisan para ulama sangat beragam. Imam Al-Banna mewariskan Ikhwanul Muslimin yang antipenjajah dan sepanjang hidupnya tercatat manis dalam sejarah emas, sebagai mobilisator mujahidin plus kreator serangan terhadap Israel.

Ada juga Asy-SYahid Sayyid Quthb. Buku-bukunya menjadi nutrisi gizi terbaik bagi jiwa-jiwa muharrik, yang enggan diinjak-injak oleh penjajah. Terinspirasi dari karya beliau lahirlah Syaikh Al-Mubarakfuri, Syaikh Al-Qaradhawi, Syaikh Umar Tilmitsani, Syaikh Husaini. Semua sepakat; menolak berkompromi dengan penjajah.

Kini dari Bangladesh, jejak-jejak mujahid hakiki itu lahir. Dialah Syaikh Abdul Qadir Mala. Syaikh yang hari Kamis lalu digantung pemerintah sekuler Bangladesh. Hanya karena Syaikh Mala menolak berkompromi dengan pemerintah.

Perhatikan pesan monumental beliau dengan ulama yang antijihad dan hanya melahirkan buku-buku yang kontroversial, miskin makna, namun dianggap monumental dan spektakuler oleh pengikutnya. Syaikh Mala mengatakan berwasiat kepada putra-putrinya, “Sungguh aku adalah pemimpin kalian. Tapi jika pemerintah (Bangladesh) membunuhku dengan cara-cara yang tidak sesuai syariat dan tidak sesuai konsitutis, maka aku akan mati seperti kematian para syuhada. Saat itulah, hanya Allah yang akan menjadi Pemimpin kalian setelah aku menemui syahid. Allah Maha Terbaik dalam menjaga dan Maha Terbaik dalam memimpin.

Ketahuilah, aku dibunuh hanya karena diriku loyal terhadap gerakan Islam. Ketahuilah tak semua orang mampu meraih derajat syuhada. Aku merasa, syahidku adalah pemuliaan dan penghormatan Allah terhadapku. Sesuatu yang tidak bisa aku raih saat aku hidup. Ketika aku syahid, aku merasakah nikmatnya syahadah yang tidak akan ada kenimatan sebesar mati syahid.

Camkanlah, semua tetes darahku akan menjadi jaminan binasanya penguasa zhalim yang otoriter. Gerakan Islam akan semakin besar dan enerjik. Aku sama sekali tidak merasa khawatir dengan diriku, sebesar kekhawatiranku terhadap masa depan negeriku dan masa depan gerakan serta kebangkitan Islam di negeri ini (Bangladesh). Kini aku telah menyerahkan hidupku, sebagai tebusan bagi kesegaran gerakan Islam. Sungguh Allah akan menjadi saksi dari apa yang aku katakan.”

Adakah nasihat-nasihat menggelegar dari ulama corong penguasa atau ulama yang memilih berkompromi dengan penjajah? Yakinlah tidak!

Musibah Lanjut Musibah

Musibah Lanjut Musib

By: Nandang Burhanudin

*****

 

(1)

Tidaklah Islam dan umat Islam dihinakan, melainkan sebab pintu jihad atau perang sabil sudah disingkirkan.

 

(2)

Ruh mujahidin di negeri Muslim selalu dikawal IM di Timur Tengah, Jemaat Islami di Asia Tengah, mujahidin Chechnya di Eropa.

 

(3)

Lihat kondisi Mesir dan Bangladesh usai menghinakan IM dan Jemaat Islami? Kedua negeri menjadi Islamophobia.

 

(4)

Saat IM dihinakan UAE, di waktu yang sama mereka memuliakan Yahudi dan penyembah berhala. Sama halnya Mesir dan Teluk.

 

(5)

Sikap Bangladesh tak jauh beda. Sukses mengeksekusi Syaikh Muthiurrahman Nizhami tanggal 10 Mei 2016.

 

(6)

Kini, Bangladesh pula menjadi pelengkap penderitaan Muslim Rohingya, usai menutup perbatasannya untuk pengungsi.

 

(7)

Sama seperti negara Teluk yang menutup perbatasan untuk Syiria, Irak atau Mesir menutup Gaza di Palestina.

 

(8)

Ingat perkataan keturunan Lawrance Arab. “Kami memerangi semua Muslim di dunia, sedang mata kami fokus menaklukkan AlQuds Palestina.”

 

(9)

Ingat pula pesan emas Syaikh Muthiurran Nizhami, “Saya sekejap lagi akan menemui Rabbku di tiang gantungan. Tapi saya mempertanyakan sikap abai dan lalai umat 1 milyar! Jawaban apa yang akan kalian jawab kelak atas sikap diam membiarkan kezhaliman?”

 

(10)

Tidaklah Islamophobia menguat, disebabkan harakah Islamnya mengendur, mendengkur, atau hidup tak lagi akur dengan kawan sedulur.

 

(11)

Indonesia, jika harakah Islamnya terus melemah, maka kebatilan akan merajalela didukung ulama suu dan budak penguasa.

 

(12)

Buat apa mereformasi Indonesia di 1998, jika kita tak mampu membendung Islamophobia, bahkan gagal menutup tunas kebangkitan mereka.

 

(13)

“Jawaban apa yang akan kalian jawab kelak atas sikap diam membiarkan kezhaliman?” Akankah jabatan mentereng dan posisi struktural itu jadi jawaban?

 

Bertempur di Medan Hati

Bertempur di Medan Hati

By: Nandang Burhanudin

*****

(1)

Suatu ketika Umar bin Khatthab r.a. melakukan kunjungan tugas menginpeksi pasukan di garda tempur Damaskus Syam.

 

(2)

Panglima tempur jabhah Syam dipegang oleh Abu Ubaidah AlJarrah. Sosok sahabat yang dijuluki Penjaga Rahasia umat ini (kaatim as-sirri hadzihil ummah).

 

(3)

Saat makan siang tiba. Abu Ubaidah bertanya, “Wahai Amirul Mukmimin dimana Anda hendak makan siang. Bareng bersama prajurit atau bareng menikmati hidangan komandan lapangan?”

 

(4)

“Kita lihat dua-duanya.” Jawab Amirul Mukminin. Beliau takjub pas melihat hidangan prajurit tempur: daging, keju terbaik, dan madu. Lalu beliau pindah melihat hidangan para komandan; roti kering dan susu. “Benarlah Nabi yang menjulukimu penjaga rahasia umat ini”, tegas Umar.

 

(5)

Meniru kisah ideal sahabat, biasanya diambil yang pas dengan kepentingan. Jika tidak cocok dan bertentangan dengan kepentingan, kisah-kisah ideal disembunyikan. Jika pas, diobral gagah.

 

(6)

Model Abu Ubaidah yang memuliakan prajurit lapangan, hampir tidak ditemukan dalam perjuangan umat Islam kini, terlebih yang berjuang di medan politik. Mahmud Abbas misalnya, menghabiskan fasilitas mewah yang harus menjadi jatah rakyatnya.

 

(7)

Mungkin para pemimpin HAMAS di Gaza, bersikap sama rata sama gaya dengan mujahidin lapangan. Bertadhiyyah yang sama dengan tadhiyyah prajurit tempur. Sama-sama berjuang. Tidak mendoktrin prajurit berjuang, lalu komandan ber-uang.

 

(8)

Dalam kehidupan kita, spirit perjuangan pudar seiring dengan kemewahan fasilitas dan kewahan transferan. Saat itu, nasib prajurit hanya berakhir sebagai batu bata yang tak lama lagi dilupakan. Posisi komandan hanya dipisahkan kematian.

 

(9)

Kita merindu sosok Amirul Mukmini ln Umar bin Khatthab yang dalam segala kesibukannya aktif turun memotivasi prajurit tempur. Beliau tidak cukup menerima laporan di belakang meja, lalu pamer tongkat komando menakuti bawahan.

 

(10)

Kita merindu sosok Abu Ubaidah AlJarrah yang memuliakan prajurit tempur, mengalahkan dirinya. Sebab qiyadah melekat pada keteladanan dan perhatian, bukan pada jubah kebesaran posisi jabatan. Wallahu A’lam.

© 2017 Nandang Burhanudin All Rights Reserved   

Theme Smartpress by Level9themes.