Nandang Burhanudin Pakar Peradaban Islam

Tragedi Rab’ah yang Terlupakan

Tragedi Rab’ah yang Terlupakan
By: Nandang Burhanudin
*****
 
Dunia melupakan tragedi Rab’ah, 14 Agustus 2013. Tidak ada pengadilan HAM. Dunia Arab dan Islam terus dikoyak-koyak dengan ragam tragedi; Syiria, Palestina, Irak, Rohingya, Yaman. Dunia pun abai, ada seorang presiden hasil pemilu demokratis yang kini masih mendengkam di penjara As-Sisi. Semua sibuk sendiri-sendiri.
 
Saya kembali hadirkan kesaksian pelaku sejarah di tragedi Rab’ah II dan An-Nahdhah. Kesaksian dokter Bayad Fateema, Dokter Saksi Sejarah!
****
 
Rasanya jiwa ini tersayat, jika kisah terperinci seputar pembantaian Rab’ah tidak disampaikan. Biarlah saya siap meanggung risikonya, asalkan dunia tahu bahwa di Rab’ah ada genosida hanya karena perbedaan pandangan politik.
 
Saya adalah dokter jaga. Bertugas sebagai dokter bedah tulang. Saya baru bertugas sejak tragedi pembantaian shalat Shubuh di depan Mako Garda Republik, tentu sebelumnya saya pun aktif bergabung bersama gerakan antikudeta di Rab’ah.
 
Pada malam tragedi Rab’ah II, terdengar intruksi dan ancaman kepada seluruh dokter di RS Lapangan Rab’ah untuk meninggalkan RS. Mereka mengancam, jangan sia-siakan nyawa kalian! Segera pergi sebelum semua terlambat! Peringatan juga datang dari kawan-kawan dokter yang bertugas di RS militer. Salah satunya Fatimah. Menurutnya, akan ada peristiwa dan segeralah pergi! Aku pun menjawab, “Terimakasih atas peringatannya. Tapi, saya tidak akan mundur dan meninggalkan tempat tugas ini. Perjalanan hidupku sangat terkait erat dengan perjalanan hidup saudara-saudarku di lapangan.”
 
Di lapangan, saya temukan wajah kawan-kawan yang tidak saya kira sebelumnya, ternyata mereka juga menjadi relawan dalam keadaan genting .. super genting. Saya pun sadar, hidup saya sudah ada yang Maha Mengatur.
 
Fajar pun menyingsing. Usai shalat Shubuh, saya waspada saat rakaat kedua. Karena memang sudah 2 kali, tragedi pembantaian itu dilakukan saat rakaat kedua. Terbersit dalam pikiran, “Wah berarti peringatan tadi malam salah! Bisa-bisanya aja! Mungkin perang psikologis!”
 
Saat ini, rasa letih tak kuasa ditahan. Setelah semalaman bertugas, rasa ngantuk pun hinggap. “Ahh .. saya rehat dulu 2 jam. Semoga bisa jadi energi setelahnya!”, aku berguman dalam hati.
 
Namun, baru saja satu jam mata terlelap. Saya terbangun! Teriakan demonstran sangat ramai. Bahkan teleponku berdering nyaring. “Ada serangan … ada serangan … ada serangan!” Saya masih terkantung dan berucap, “Ah .. ndak ada apa-apa .. mungkin rumor!”
 
Saya pun terus larut dalam kantuk. Namun sebelumnya saya lihat akun twitter berbunyi. Saya baca, ada serangan dari arah Tiba Mall. Asap telah membumbung di Tiba Mall. Saya pun mencium bau mesiu. Saya pun siaga!
 
Saya diperintahkan mengenakan masker anti gas air mata dan gas beracun. Kami siap-siap menerima korban syuhada yang ditembak peluru tajam. Korban-korban pun berdatangan. Saya lihat banyak juga yang syahid dengan luka yang sangat besar, seakan bukan ditembak peluru tajam tapi peluru dengan diameter besar. Saya tak paham soal jenis senjata dan tidak pernah bekerja di RS militer. Tapi melihat lukanya sangat aneh. Otak-otaknya pecah berhamburan. Korban ada yang terpotong 20 cm. Bahkan kepala pecah, sedang isi kepala keluar. Ada juga yang disembelih dengan kondisi badan yang tercabik-cabik!
 
Korban terus berdatangan. Kami memberlakukan darurat! Semua ditangani dokter-dokter lapangan. Banyaknya korban yang tidak bisa ditangani, keberadaan ambulans sangat membantu untuk merujuk ke RS-RS. Namun jumlah dokter dengan korban yang tak berimbang, membuat kami harus memilih mana yang masih hidup dan mana yang sudah wafat. Saat itu, darah sudah membanjiri RS. Pembantaian itu benar-benar nyata dilakukan. Korban dipilih yang berada di dekat panggung orasi demonstran dekat Universitas Al-Azhar. Senjata yang digunakan adalah jenis senjata yang sangat mematikan.
 
Saya pun mati rasa. Dua jam kemudian saya baru tersadarkan saat bertemu dengan dokter lain. Mereka mengabarkan bahwa militer menembakkan gas air mata ke dalam RS. Beberapa dokter sudah menjadi korban. Kepanikan dalam RS tak bisa diindarkan. Sementara korban terus berdatangan. Malah banyak korban anak-anak yang dibunuh dengan kondisi leher patah, leher disembelih. Kami pun diperintahkan menutup jendela agar militer tidak lagi bisa menembakkan gas air mata.
 
Pada waktu yang sama, teman-teman dokter meminta bantuan kepadaku untuk mengurus korban di Tiba Mall! Mereka mengabari, bahwa pasukan khusus menangkap semua paramedis dan membiarkan korban berjatuhan tanpa perawatan. Saya tak bisa melupakan bagaimana korban luka benar-benar kehilangan otak-otaknya. Sungguh keadaan yang baru saya alami. Keadaan yang sangat sulit! Keadaan yang belum pernah dihadapi saat ujian praktik kedokteran! Namun melihat korban-korban, saya menyaksikan mereka sangat antusias mengangkat telunjuk dan mengucapkan syahadat siap bertemu dengan Allah Ta’ala.
 
Jumlah korban yang berdatangan membuat RS Rab’ah penuh. Akhirnya, mayat-mayat yang ada menjadi penopang bagi korban luka-luka yang masih hidup. Saat itu tiba-tiba terdengar suara tembakan dan teriakan prajurit teramat dekat. Saya merasa, RS pun akan menjadi target serangan. Betul! Di lantai atas, saya dengar Helikopter datang dan melemparkan gas air mata. Tak lama kemudian datang prajurit yang terjun dari helikopter. Mereka memeriksa tanda pengenal, menyita semua Memory Card kamera-TV-HP. Saya pun segera melemparkan HP setelah sebelumnya menyimpan memory card. Kemudian saya bergerak ke arah ruangan pers di samping ruangan saya.
 
Di ruangan pers RS Rab’ah, saya dapati korban-korban syuhada bergelimpangan! Pemandangan tragis! Hampir tak ada kata-kata yang pas untuk menggambarkannya! Kami pun akhirnya memisahkan para syuhada dengan yang terluka. Menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan!
 
Saat itu, terdengar bunyi “Tuk .. Tuk .. Tuk ..” ternyata gas beracun dilemparkan kepada kami. Saya pun pindah ke ruangan lain. Di sana saya bertemu dengan Abdullah Asy-Syaami, wartawan AlJazeera yang terkurung. Ia pun tak bisa lagi menyampaikan siarannya! Sinyal teramat jelek. Saya merasa, RS dilempari sesuatu. Ternyata gas air mata. Di luar teriakan terdengar, “Awas .. hati-hati RS diserang! Mereka akan menangkapi paramedis!” “Waduh … habis kita ini, pasti akan ditangkapi.” Saya buka jendela belakang, saya lihat di luar pasien berserakan dikerubuti keluarganya. Terbersit untuk melemparkan HP. Saya pun refleks melakukannya. Saya tuliskan nomor HP keluaga, sembari memberi isyarat agar yang menerima HP dan tas saya menghubungi nomor telepon yang sudah saya tulis.
 
Saya dengar suara sepatu, prajurit polisi dan tentara dengan pakaian serba hitam bersenjata lengkap datang. Benar, mereka memegang dan membentak-bentak, “Ikut keluar atau mau ikut terbaring bersama di sini!” Keluarga pasien di dalam teriak, “Ia itu dokter!” Tapi dengan kasar dan keras ia memaksa kami untuk keluar ruangan! Saya masih sempat meminta mereka untuk mengizinkan agar yang masih hidup dan terluka dikeluarkan juga. Namun mereka menolak! Mereka berkata, “Pilih mana, pergi atau ditembak kedua kaki kamu!”
 
Ketika saya keluar, saya lihat pemandangan mengerikan. Semua terbakar! Masjid, RS, hingga ruang pers. Seakan pemdangan Kairo tahun 50-an. Pemandangan yang saya lihat di filem-filem, lengkap suara musik-senjata-ledakan bom-ledakan gas. Saya dengar teriakan warga-warga yang menjadi korban, “Tolonglah dokter! Lakukan sesuatu!” Saat itulah aku merasakan doa, “Ya Allah aku berlindung kepada Engkaudari ketidakberdayaan dan kefakiran!” Belum melangkah untuk melakukan apapun. Terdengar suara lantang mikrophone, “Semuanya harus menyerah! Angkat tangan di atas kepala!” Saya teringat doa baginda Nabi saat dilempari batu di Tha’if, “Ya Allah, hamba mengadu kepada Engkau lemahnya kekuatan hamba, minimnya usaha hamba, dan ketidakmampuan hamba menolong manusia! Engkau adalah Tuhan orang-orang yang dilemahkan dan Engkau adalah Rabbku! Kepada siapa lagi hamba mengadu! Apakah kepada ayah yang jauh atau kepada musuh yang telah menguasai kami!”
 
Sungguh, tragedi Rab’ah dan An-Nahdhah bukanlah pertikaian politik. Bukan pula pembubaran demonstran! Di awal-awal, kami tak pernah mendengar peringatan untuk menyerah atau peringatan lainnya. Kami yakin tragedi Rab’ah adalah pembantaian! Atau apapun istilahnya! Karena saat perang saja, korban luka-luka mendapatkan hak khusus ke RS terdekat! Ini sama sekali tidak!
 
Apakah saat pertempuran berkecamuk dibolehkan membakar mayat? Dibolehkan membakar korban luka yang masih hidup? Sungguh saya lihat keesokan harinya, di Masjid Al-Iman korban syuhada dalam keadaan hangus terbakar! Ada yang terbakar seluruhnya! Ada mayat yang terbakar badannya saja! Saya masih bisa melihat mayat yang memancarkan aura ketakutan dan rasa sakit luar biasa!
 
Yang saya tulis adalah kisah hakiki! Benar-benar terjadi! Bukan filem karya Stephen Seagel atau filem Armageddon! Semua yang terjadi adalah: pemusnahan/genosida atau apapun istilahnya! Uniknya banyak yang buta mata hatinya, saat menuduh bahwa demonstran Rab’ah dan An-Nahdhah membawa senjata! Saya katakan kepada mereka, “Wahai orang buta hati, buta nurani, dan buta mata sekalian! Jika memang demonstran memiliki senjata, akankah terjadi pembantaian tersebut? Kalian benar-benar kehilangan akal!”
 
Terus terang, 1 minggu setelah tragedi itu! Saya lelah, letih, dan tak sudi lagi berdialog dengan orang-orang yang kehilangan nalar, mati akalnya, dan disfungsi mata dan penglihatan jiwanya. Saya berikan kesaksian ini kepada siapapun yang ingin memberikan sumbangsih, walaupun sumbangsih minimal berupa keterkejutan dengan apa yang terjadi.
 
Saya tidak akan menyampaikan apa yang membuat Allah murka.

Ukhuwwah Sang Landak

Ukhuwwah Sang Landak
By: Nandang Burhanudin
*****

Kita tahu landak berduri. Tajam. Mematikan. Tapi kita tak tahu. Ternyata dalam kondisi ekstrim dingin. Konon landak saling mendekat, menghangatkan tubuhnya.

Landak dihadapkan pada 2 pilihan. Tetap berjauhan. Namun rawan diterjang kematian. Atau mereka saling mendekatkan. Sakit memang. Tapi sakit yang tidak mematikan.

Pun demikian kita yang bukan makhluk setengah malaikat. Ada saat-saat ketika kita berjarak. Ruang itulah yang mematikan. Celah yang bisa dirasuki setan, jin dan manusia.

Sebaliknya. Ketika kita berdekatan. Kehangatan hadir mengisi relung jiwa hingga tulang belulang. Namun keakraban itu acap mendatangkan gap, mispersepsi, salah paham. Selama tidak mematikan. Rasa sakit itu justru menyehatkan.

Ketahuilah. Berharap meraup kawan tanpa cacat. Siap-siap kecewa berat. Mencari jalinan ukuwwah tanpa keluh kesah. Siap-siap gelisah. Kecewa. Sakit. Tersinggung. Semua lumrah.

Kita tak boleh lari. Sebab lari dari masalah cermin kita belum dewasa. Apalagi berbuat sesuka hati, seiring tongkat kuasa yang diselewengkan menjadi komando penentu hitam putih seseorang.

Berkaca pada landak. Tusukan durinya nan tajam. Justru menguatkan. Landak tahu. Jalin keselamatan dari cuaca dan situasi ekstrim, bukan dengan mencari aman. Tapi merasakan nyaman setiap duri kasih sayang.

Ukhuwwah landak mencengangkan!

Kader Dakwah Sebenarnya!

Kader Dakwah Sebenarnya!
By: Nandang Burhanudin
*****

(1)
Di beberapa tempat, ada saja kader dengan grup binaan berlimpah. Suami istri seakan berlomba menorehkan prestasi terbaik untuk dakwah dan jama’ah.

(2)
Tipe-tipe kader dakwah yang terus menebar rekah-rekah bunga harapan. Tak terseret pusaran konflik elit yang kekanak-kanakan.

(3)
Ia tahu, di sebuah provinsi Timur Indonesia, ada persaingan hebat dua bersaudara biologis dan ideologis; berebut kursi gubernur.

(4)
Ia tahu, sindir menyindir di medsos kalangan elit, membuka rahasia menebar aib. Konon dulu adalah amniyyah!

(5)
Ia tahu, amal jama’i tidak terealiasi dalam bentuk sharing (berbagi lebih), apalagi itsar (berbagi serpih) pada saudaranya.

(6)
Ia tahu, bukan dari kabar burung. Sebab Hud Hud kini telah terkurung dalam sangkar persepsi dan penjara paradigma.

(7)
Tapi ia tak berhenti! Ia tak memilih keluar! Ia tak memilih oposisi! Sebab ia lelah karena Lillah, bukan cari ghanimah!

(8)
Kalangan alitis (akar rumput) di jamaah dakwah merupakan elemen terbesar! Mereka tak terjamah berkah ukhuwah apalagi jabatan berlimpah!

(9)
Ia bukan sosok yang di satu waktu memegang 7-9 jabatan strategis sekaligus, lalu tak malu berteriak amal jama’i!

(10)
Ia sadar, dirinya hanya anak bawang dalam dakwah. Hadirnya tak mengganjilkan atau menggenapkan! Tapi ia tetap spartan!

(11)
Ia enggan berebut kue, sebab baginya rezeki telah Allah atur. Syukuri apa yang ada. Di saat yang lain berbagi Alphard.

(12)
Ia sabar dalam shalat, walau hidupnya pucat. Di saat yang lain melesat, hingga abai untuk menengok walau sesaat.

(13)
Kala ada, ia tak kuat hati untuk mengajak makan bersama. Hidangan terbaik menjadi cita rasa. Kita bersaudara!

(14)
Saat mendengar prahara dan tragedi menimpa, ia tak kuasa menahan linangan air mata. Sedih berbalut duka! Kok bisa?

(15)
Ia kini tetap berharap, sesama saudara janganlah memelihara luka. Ia berharap, damai itu kembali menjadi aura agar jaya.

(16)
Siapa dia? Dia adalah anda yang tetap setia demi mengatakan pada dunia, harapan itu masih ada!

Tidak Ada ISlam Moderat!

Tidak Ada ISlam Moderat!
By: Nandang Burhanudin
****

(1)
Entah karena tak berdaya, umat Islam selalu diteror horor “Islam teroris atau teroris ISlam.” Tentu teroris ala pemahaman

Barat; yaitu siapapun yang bangkit melawan, dicap teroris.

(2)
Muncullah kemudian, Islam moderat! Tentu dalam pemahaman Barat; “Islam yang pasrah menyerah kepada penjajah. Tunduk dan

siap membayar upeti, berbakti sepenuh jiwa kepada Barat.

(3)
Ingat, Islam teroris dan ISlam moderat itu aslinya tidak ada. Dua istilah yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah

Rasulullah. Islam ya Islam, Islam yang kasih sayang dan Islam yang tegas melawan!

(4)
Islam yang Allah firmankan rahmatan lil’aalamin adalah Islam yang juga menyuruh kita untuk memerangi angkara murka, melawan

kezaliman, menghukum diktator, walau jiwa raga taruhannya.

(5)
Islam yang menjuluki umatnya sebagai umat wasathiyyah, juga adalah Islam yang menyuruh umatnya bersiap menebar ketakutan

pada musuh hingga musuh takluk atau menyerah masuk Islam.

(6)
Islam yang saat Fathu Makkah tegas pada kebijakan, “Pergilah, kalian semua bebas!” adalah Islam yang juga tegas memerintahkan,”Berperanglah walau kalian harus berelantung di Kiswah Ka’bah!”

(7)
Islam yang siap berdamai dalam bingkai saling percaya, adalah Islam yang juga mengusir Yahudi Bani Quraizhah yang jelas-jelas berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.

(8)
Islam yang menyuruh menimba ilmu pada kaum kafir, adalah Islam yang juga menggulung kaum kafir di banyak pertempuran seperti dilakukan Sultan Sulaiman Al-Qanuni atau Sultan Muhammad Al-Fatih.

(9)
Islam yang mewajibkan memuliakan tamu dan tetangga, apapun agama dan keyakinannya. Juga Islam yang mengharuskan melawan siapapun yang sudah berani menginjak kehormatan Islam dan keluarganya.

(10)
Islam betul-betul menjaga keseimbangan, bukan Islam yang bertaqiyyah atau berubah-ubah laksana bunglon disesuaikan kondisi dan situasi. Islam yang tegas tidak beringas. Islam yang berani tidak tega hati.

(11)
Islam model Abu Bakar Shiddiq adalah sama dengan Islamnya model Umar. Islam semodel Musailamah atau Abdullah bin Ubay, justru bukan bagian dari Islam.

(12)
Tengoklah, kaum kafir berani menginjak-injak kehormatan Islam di negeri mayoritas Muslim. Sebab umat Islamnya disuruh moderat, pasrah, menyerah, tak berkutik walau sudah dicabik-cabik.

(13)
Terus berbenah! KAum kafir tak bisa menghargai kita, kecuali umat Islam memiliki power perkasa! Kaum kafir tak akan percaya pada retorika, mereka hanya paham pada kekuatan suara dan senjata.

(14)

Ayo lantang bersuara!

Syaikh Mujahid dan Syaikh Anti Jihad

Syaikh Mujahid dan Syaikh Anti Jihad
By: Nandang Burhanudin
****
Ulama itu pewaris para nabi. Warisan para ulama adalah sikap hidup. Di era kontemporer warisan para ulama sangat beragam. Imam Al-Banna mewariskan Ikhwanul Muslimin yang antipenjajah dan sepanjang hidupnya tercatat manis dalam sejarah emas, sebagai mobilisator mujahidin plus kreator serangan terhadap Israel.

Ada juga Asy-SYahid Sayyid Quthb. Buku-bukunya menjadi nutrisi gizi terbaik bagi jiwa-jiwa muharrik, yang enggan diinjak-injak oleh penjajah. Terinspirasi dari karya beliau lahirlah Syaikh Al-Mubarakfuri, Syaikh Al-Qaradhawi, Syaikh Umar Tilmitsani, Syaikh Husaini. Semua sepakat; menolak berkompromi dengan penjajah.

Kini dari Bangladesh, jejak-jejak mujahid hakiki itu lahir. Dialah Syaikh Abdul Qadir Mala. Syaikh yang hari Kamis lalu digantung pemerintah sekuler Bangladesh. Hanya karena Syaikh Mala menolak berkompromi dengan pemerintah.

Perhatikan pesan monumental beliau dengan ulama yang antijihad dan hanya melahirkan buku-buku yang kontroversial, miskin makna, namun dianggap monumental dan spektakuler oleh pengikutnya. Syaikh Mala mengatakan berwasiat kepada putra-putrinya, “Sungguh aku adalah pemimpin kalian. Tapi jika pemerintah (Bangladesh) membunuhku dengan cara-cara yang tidak sesuai syariat dan tidak sesuai konsitutis, maka aku akan mati seperti kematian para syuhada. Saat itulah, hanya Allah yang akan menjadi Pemimpin kalian setelah aku menemui syahid. Allah Maha Terbaik dalam menjaga dan Maha Terbaik dalam memimpin.

Ketahuilah, aku dibunuh hanya karena diriku loyal terhadap gerakan Islam. Ketahuilah tak semua orang mampu meraih derajat syuhada. Aku merasa, syahidku adalah pemuliaan dan penghormatan Allah terhadapku. Sesuatu yang tidak bisa aku raih saat aku hidup. Ketika aku syahid, aku merasakah nikmatnya syahadah yang tidak akan ada kenimatan sebesar mati syahid.

Camkanlah, semua tetes darahku akan menjadi jaminan binasanya penguasa zhalim yang otoriter. Gerakan Islam akan semakin besar dan enerjik. Aku sama sekali tidak merasa khawatir dengan diriku, sebesar kekhawatiranku terhadap masa depan negeriku dan masa depan gerakan serta kebangkitan Islam di negeri ini (Bangladesh). Kini aku telah menyerahkan hidupku, sebagai tebusan bagi kesegaran gerakan Islam. Sungguh Allah akan menjadi saksi dari apa yang aku katakan.”

Adakah nasihat-nasihat menggelegar dari ulama corong penguasa atau ulama yang memilih berkompromi dengan penjajah? Yakinlah tidak!

*****

Hanya di AlQuds

Hanya di AlQuds

By: Nandang Burhanudin

*****

 

(1)

Dunia tuli. Buta. Bisu. Tak berperasaan.

 

(2)

AlQuds berjuang sendirian. HAM tak dipedulikan.

 

(3)

AlQuds hampir saja dilupakan. Andai tak ada kepahlawanan.

 

(4)

Di AlQuds, kematian bukan sekedar nasyid bertautan.

 

(5)

Siapapun yang melawan, dihempaskan kematian.

 

(6)

Tapi kematian syahid, yang teramat dirindukan.

 

(7)

Hingga jasad syuhada Palestina tetap menjadi incaran.

 

(8)

Syuhada menjadi rebutan, untuk diselamatkan atau di-petieskan.

 

(9)

Yahudi mengejar mayat para syuhada untuk penelitian.

 

(10)

Diteliti gen jihad hingga kualitas otak hingga tulang belulang.

 

(11)

Anak muda AlQuds jelas bagian dari keajaiban.

 

(13)

Lahir, bermain, lalu wafat tanpa sempat dimandikan.

 

(14)

Ibunya pun tak sempat menatap apalagi memberi kecupan.

 

Penutupan AlAqsha dan Serial Kepahlawanan Palestina

Penutupan AlAqsha dan Serial Kepahlawanan Palestina

By: Nandang Burhanudin

(Kepala Hubungan Luar Negeri DPP PUI)

*****

(1)

Andai saja tidak ada aksi keluarga Jabarin, nyawa 1.5 milyar umat Islam telah bertekuk lutut di hadapan Zionis. Sebelumnya, ada pengklaim ulama yang menista mujahidin pembela AlAqsha.

(2)

3 orang anak muda, kembali menorehkan sejarah kepahlawanan Palestina membela AlAqsha, mewakili umat semilyar setengah.

(3)

Umat yang hampir saja dikagetkan oleh pembukaan hubungan diplomatik negara utama Teluk, setelah sibuk mengbargo negara Qatar yang paling depan membela Palestina.

(4)

Umat yang hanya meributkan soal pelarangan shalat Jumat, lalu sibuk menggelar aksi demo Jumat Ghadhab, membawa spanduk, setelah itu lelap kembali dalam pelukan mimpi.

(5)

3 anak muda mengirim pesan kepada dunia Islam, bahwa tengah terjadi penghancuran AlAqsha secara besar-besaran. PENGHANCURAN, pelarangan shalat Jumat hanya simbol.

(6)

Penghancuran yang berlangsung lama dengan menggunakan bahan kimia, mengikis bawah tanah AlAqsha dan ambruknya hanya masalah waktu.

(7)

Pesan kedua, mereka ingin menunjukkan perlawanan Palestina masih bergelora. Rakyat Palestina di AlQuds menolak komando Abbas yang telah memperdagangkan AlAqsha.

(8)

Abbas, sejak kasus penutupan AlQasha, 6 hari lamanya ia diam dan malah jalan-jalan ke China. Selama 30 menit siaran pers dengan Presiden China, Abbas tak bersuara soal AlAqsha.

(9)

Pesan ketiga, mereka menyampaikan pada dunia Islam bahwa pertahanan Israel rapuh. Setelah intifadhah pisau yang diaborsi PLO, rakyat Palestina bangkit kembali.

(10)

Bangkit menembus pertahanan Israel di AlQuds yang berlipat. Mereka mampu membunuh militer Israel, dan masuk membawa senjata tanpa terdeteksi.

(11)

Pesan Keempat, yakinlah bahwa secanggih apapun alutsista Israel, tapi yang paling penting adalah Who is behind the gun. AlQuran sudah menegaskan masalah ini, Zionis pengecut.

(12)

Di demonstrasi selama sepekan, semua menyerukan HAMAS untuk bangkit lagi melawan. Padahal baru saja, HAMAS dan IM difatwakan teroris.

(13)

Pesan kelima, aksi kepahlawanan keluarga Jabarin menghentak para politikus Israel dan Donald Trump. Tentu tamparan keras bagi Jordania, Mesir, Saudi, dan dunia Arab.

(14)

Seminggu sebelum aksi. Para pejabat UAE dan beberapa oknum Saudi, menyerukan rakyat Palestina untuk menghabisi HAMAS, kami akan banjiri dengan dollar.

(15)

Dollar bukan tidak penting. Tapi izzah dan menjaga tempat suci umat Islam jauh lebih penting. Itulah serial kepahlawanan yang ditulis darah dan dipahat pengorbanan jiwa raga.

(16)

Pesan yang hanya bisa ditangkap Muslim generasi AlMaidah 54, bukan Muslim penghamba uang dan jabatan. Bukan pula generasi yang rajin mengaji, tapi tak lagi peduli dengan misi menyelamatkan AlAqsha.

(17)

Allahu Akbar! Celakalah manusia yang baru saja berfatwa, mati karena membela AlAqsha bukan mati fii sabilillah. Makanlah fatwamu tuan!

Rohis, Teroris?

Rohis Teroris?
By: Nandang Burhanudin
*****

(1)
Nabi Muhammad di awal dakwahnya disebut pembuat onar, perusak kebhinekaan, radikalis, ekstrimis, diposisikan manusia aneh alias “goblok”.

(2)
Ja’far bin Abdul Muthallib pun dikejar hingga Habasyah. Tuduhannya dahsyat: kaum pemberontak, pembuat makar, pengadu domba.

(3)
Mush’ab bin Umair, Bilal, dll dituduh sebagai penebar hate speech, karena penyebaran dakwah yang massif dan intensif di tengah masyarakat Jahiliyah.

(4)
Veteran Perang Uhud, Badar, Khandaq, Hunain, dll pasti dituduh ekstrimis dan teroris. Tuduhan bukan hanya dari musyrikin, tapi kaum munafiqin.

(5)
Semua tuduhan di atas dialami para Ulama dan para pejuang saat melawan penjajah. Italia, Belanda, Portugal, Spanyol, Inggris, Perancis, AS, melakukannya.

(6)
Rohis memang teroris, tentu bagi rezim antek penjajah. Sebab dengan Rohis, siswa-siswi dan mahasiswa/i mengenal jatidiri keIslaman dan kecintaan pada tanah air.

(7)
Dengan Rohis, lahir cendekiawan muslim ahli fikir dan ahli dzikir. Cendekia bertakwa yang memesona di ibadah ritusl dan perjuangan sosial, budaya, ekonomi, politik, sains teknologi.

(8)
Dengan rohis, orang tua diuntungkan. SDM yang awalnya minim pemahaman dan pengalaman agama, berkah rohis malah menjadi militan dan spartan menjadi pejuang agama.

 

(9)

Rohis pula yang membimbing generasi muda menjadi generasi negeri yang menjada keseimbangan beragama dan bernegara. Rohis justru menyelamatkan generasi. Rohis menjadi penyeimbang dari gen pecundang dan terbuang.

 

(10)

Apakah ada aktivitas Rohis yang kontraproduktif? Jawabannya ada. Sisi negatif rohis hanya pada sistem manajerial dan backup dana yang cenderung cekak.

(12)

Andaikan ada penguasa yang concern meningkatkan kemampuan rohis mencetak generasi, patut didukung. Rohis diberi anggaran seperti klub sepakbola atau LSM ICW yang menggerus uang dengan sumbangsih kurang.

 

(12)

Nah, jika Menag Lukman Saifudin cenderung minus menilai rohis. Sebenarnya pak menteri sedang menampilkan psikologis pecundang: Susah melihat orang senang dan sebaliknya.

(13)

Psikologis Lukman, mewakili mentaliyas penjajah dan budak jabatan. Lembaga negara yang korup seperti Kemenag dan Kepolisian, sepatutnya meniru cara rohis membentuk generasi.

 

(14)

Aktivis rohis tidak ada yang melakukan pembunuhan atas nama tugas, sebagaimana tak pernah korup seperti para koruptor kakap negeri ini.

Takbir Keliling dan Kumandang Adzan di Hagia Shopia

Takbir Keliling dan Kumandang Adzan di Hagia Shopia
By: Nandang Burhanudin
*****

(1)
Jubir Kemenlu AS, Heather Nauert menyayangkan atas sikap pemerintah Turki yang membiarkan lantunan tilawah AlQuran di Hagia Shopia.

(2)
Seiring dengan AS, pemerintah Yunani menekan pemerintah Turki untuk menghentikan provokasi, dengan dilantunkannya adzan dan tilawah AlQuran, yang menurut Yunani, Hagia Shopia adalah warisan budaya dunia.

(3)
Di Jakarta, kendati kemudian dibolehkan, Kapolda Metro Jaya mendesak warga yang akan takbir keliling untuk membatalkannya. Selain dianggap mengganggu Kamtibmas, juga pemborosan. Oleh karena itu katanya, lebih baik dibelikan opor ayam.

 

(4)
Sebenarnya, apa yang membuat mereka ketakutan? Apakah murni terganggu dengan lantunan takbir dan tilawah AlQuran? Atau mereka ketakutan bahwa takbir dan adzan adalah sinyal kuat konsolidasi umat Islam?

(5)
Alasan nomor dua, alasan paling masuk akal. AS dan Yunani paham, jika adzan dan takbir bergema di Hagia Shopia dan takbir keliling semarak di Jakarta, jelas mempertegas denyut jihad umat Islam Turki dan Indonesia melawan kesewenangan.

(6)
Adapun alasan pertama, tidak bisa diterima. Terutama jika dikaitkan dengan kasus embargo Saudi, Emirat, Bahrain dan Mesir terhadap Qatar. Mengapa? Sebab keempat negara predator gerakan Islam pun, memiliki irama dan aroma takbir yang lebih syahdu, tapi minus gairah jihad.

(7)
Bayangkan, mereka menekan Qatar untuk menghentikan kerjasama militer dan menutup pangkalan militer Turki di Qatar yang baru diresmikan. Anehnya, sama sekali tidak menyinggung pangkalan AS di semua negara Teluk.

(8)
Jadi jelas nyata, takbir bukan hanya membiritkam setan-setan jin. Tapi mengompolkan setan-setan manusia, walau berjubah sekalipun. Terutama takbir yang bisa membangkitkan soliditas dan izzah umat.

(9)
Maka terus pekikkan takbir. Nyatakan dalam alutsista. Buktikan dengan modal dana untuk membeli saham semua negeri Islam yang sudah menjadikan Donald Trumph sebagai amirul muslimin. Apalagi hanya sekedar boneka pinokio, yang tak punya idealisme selain uang dan kekuasaan.

Asyiddaau ‘Alal Mukminiin

Asyiddaau ‘Alal Mukminiin
By: Nandang Burhanudin
*****

Di suatu hari bulan Ramadhan. Dalam syahdu shalat Zhuhur. Tetiba suara handphone seorang jamaah berbunyi kencang. Terdengar ringtone lagu yang teramat mengganggu. Usai shalat ia ditegur.

“Gimana kamu ini. Apa gak sadar lagi shalat. Suara ringtonemu mengganggu shalat. Sadar tidak. Kamu telah bermaksiat kepada Allah. Dosa besar tahu…!”

Jamaah lain mengerubuti. Si tertuduh sudah minta maaf. Ia khilaf men-turn off HPnya. Alasan yang lumrah namun malah dianggap mentah. Oknum jamaah shalat malah ada yang over, hampir saja terjadi cek cok.

Esok harinya. Ia tidak ke masjid. “Kapok”, gerutunya. Ia memilih ke kafe Syisha. Asik nonton sepakbola. Hingga suatu kali. Ia menjatuhkan arang pembakar syisha dan mengenai karpet.

Pegawai kafe menhampiri. “Hati-hati pak. Awas kena baju bapak. Biar saya bereskan dan bapak bisa pindah ke kursi yang lain”, ujarnya lembut.
****

Dua perlakuan berbeda di dua tempat berbeda. Pertama, terjadi di masjid. Rumah Allah. Tapi sikap kasar oknum jamaah membuat calon tamu Allah, lari. Kedua, di kafe. Tempat lahwun wa la’ibun. Tapi perilaku karyawannya “menyejukkan” dan membuat betah.

Ramadhan sudah yang ke 1437 dalam kalender hijriah. Tapi perilaku oknum jamaah masjid bikin gerah suasana. Ribut soal doa buka puasa. Heboh soal formasi tarawih. Hingga ribut soal hukum ceramah tarawih.

Hal menyakitkan adalah lontaran bid’ah, maksiat, dosa besar, mungkar. Lalu mengklaim diri dan kelompoknya paling shahih dan paling Sunnah. Seakan surga sudah menjadi kavling dan Sunnah sudah hak prerogatif.

Padahal Allah saja memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun di hadapan Fir’aun dengan perkataan yang lemah lembut. Idzhabaa ilaa Fir’auna innahu thagaa Faquulaa lahu qaulan layyinan.

Anehnya. Dalil yang sama digunakan untuk sepenuhnya taat pada pemimpin walau zhalim. Tapi mengapa kepada personal dan sosial, kerasnya bikin darah kering terkuras.

Saya tidak anti Sunnah. Tapi cara mensosialisasikan Sunnah dengan cara yang jauh dari Sunnah, adalah bid’ah paling mengancam syariat. Apalah arti sebuah sunnah tapi minus rahmah dan kering ukhuwwah? Waspadalah.

© 2017 Nandang Burhanudin All Rights Reserved   

Theme Smartpress by Level9themes.