Nandang Burhanudin Pakar Peradaban Islam

Rohis, Teroris?

Rohis Teroris?
By: Nandang Burhanudin
*****

(1)
Nabi Muhammad di awal dakwahnya disebut pembuat onar, perusak kebhinekaan, radikalis, ekstrimis, diposisikan manusia aneh alias “goblok”.

(2)
Ja’far bin Abdul Muthallib pun dikejar hingga Habasyah. Tuduhannya dahsyat: kaum pemberontak, pembuat makar, pengadu domba.

(3)
Mush’ab bin Umair, Bilal, dll dituduh sebagai penebar hate speech, karena penyebaran dakwah yang massif dan intensif di tengah masyarakat Jahiliyah.

(4)
Veteran Perang Uhud, Badar, Khandaq, Hunain, dll pasti dituduh ekstrimis dan teroris. Tuduhan bukan hanya dari musyrikin, tapi kaum munafiqin.

(5)
Semua tuduhan di atas dialami para Ulama dan para pejuang saat melawan penjajah. Italia, Belanda, Portugal, Spanyol, Inggris, Perancis, AS, melakukannya.

(6)
Rohis memang teroris, tentu bagi rezim antek penjajah. Sebab dengan Rohis, siswa-siswi dan mahasiswa/i mengenal jatidiri keIslaman dan kecintaan pada tanah air.

(7)
Dengan Rohis, lahir cendekiawan muslim ahli fikir dan ahli dzikir. Cendekia bertakwa yang memesona di ibadah ritusl dan perjuangan sosial, budaya, ekonomi, politik, sains teknologi.

(8)
Dengan rohis, orang tua diuntungkan. SDM yang awalnya minim pemahaman dan pengalaman agama, berkah rohis malah menjadi militan dan spartan menjadi pejuang agama.

 

(9)

Rohis pula yang membimbing generasi muda menjadi generasi negeri yang menjada keseimbangan beragama dan bernegara. Rohis justru menyelamatkan generasi. Rohis menjadi penyeimbang dari gen pecundang dan terbuang.

 

(10)

Apakah ada aktivitas Rohis yang kontraproduktif? Jawabannya ada. Sisi negatif rohis hanya pada sistem manajerial dan backup dana yang cenderung cekak.

(12)

Andaikan ada penguasa yang concern meningkatkan kemampuan rohis mencetak generasi, patut didukung. Rohis diberi anggaran seperti klub sepakbola atau LSM ICW yang menggerus uang dengan sumbangsih kurang.

 

(12)

Nah, jika Menag Lukman Saifudin cenderung minus menilai rohis. Sebenarnya pak menteri sedang menampilkan psikologis pecundang: Susah melihat orang senang dan sebaliknya.

(13)

Psikologis Lukman, mewakili mentaliyas penjajah dan budak jabatan. Lembaga negara yang korup seperti Kemenag dan Kepolisian, sepatutnya meniru cara rohis membentuk generasi.

 

(14)

Aktivis rohis tidak ada yang melakukan pembunuhan atas nama tugas, sebagaimana tak pernah korup seperti para koruptor kakap negeri ini.

Takbir Keliling dan Kumandang Adzan di Hagia Shopia

Takbir Keliling dan Kumandang Adzan di Hagia Shopia
By: Nandang Burhanudin
*****

(1)
Jubir Kemenlu AS, Heather Nauert menyayangkan atas sikap pemerintah Turki yang membiarkan lantunan tilawah AlQuran di Hagia Shopia.

(2)
Seiring dengan AS, pemerintah Yunani menekan pemerintah Turki untuk menghentikan provokasi, dengan dilantunkannya adzan dan tilawah AlQuran, yang menurut Yunani, Hagia Shopia adalah warisan budaya dunia.

(3)
Di Jakarta, kendati kemudian dibolehkan, Kapolda Metro Jaya mendesak warga yang akan takbir keliling untuk membatalkannya. Selain dianggap mengganggu Kamtibmas, juga pemborosan. Oleh karena itu katanya, lebih baik dibelikan opor ayam.

 

(4)
Sebenarnya, apa yang membuat mereka ketakutan? Apakah murni terganggu dengan lantunan takbir dan tilawah AlQuran? Atau mereka ketakutan bahwa takbir dan adzan adalah sinyal kuat konsolidasi umat Islam?

(5)
Alasan nomor dua, alasan paling masuk akal. AS dan Yunani paham, jika adzan dan takbir bergema di Hagia Shopia dan takbir keliling semarak di Jakarta, jelas mempertegas denyut jihad umat Islam Turki dan Indonesia melawan kesewenangan.

(6)
Adapun alasan pertama, tidak bisa diterima. Terutama jika dikaitkan dengan kasus embargo Saudi, Emirat, Bahrain dan Mesir terhadap Qatar. Mengapa? Sebab keempat negara predator gerakan Islam pun, memiliki irama dan aroma takbir yang lebih syahdu, tapi minus gairah jihad.

(7)
Bayangkan, mereka menekan Qatar untuk menghentikan kerjasama militer dan menutup pangkalan militer Turki di Qatar yang baru diresmikan. Anehnya, sama sekali tidak menyinggung pangkalan AS di semua negara Teluk.

(8)
Jadi jelas nyata, takbir bukan hanya membiritkam setan-setan jin. Tapi mengompolkan setan-setan manusia, walau berjubah sekalipun. Terutama takbir yang bisa membangkitkan soliditas dan izzah umat.

(9)
Maka terus pekikkan takbir. Nyatakan dalam alutsista. Buktikan dengan modal dana untuk membeli saham semua negeri Islam yang sudah menjadikan Donald Trumph sebagai amirul muslimin. Apalagi hanya sekedar boneka pinokio, yang tak punya idealisme selain uang dan kekuasaan.

Asyiddaau ‘Alal Mukminiin

Asyiddaau ‘Alal Mukminiin
By: Nandang Burhanudin
*****

Di suatu hari bulan Ramadhan. Dalam syahdu shalat Zhuhur. Tetiba suara handphone seorang jamaah berbunyi kencang. Terdengar ringtone lagu yang teramat mengganggu. Usai shalat ia ditegur.

“Gimana kamu ini. Apa gak sadar lagi shalat. Suara ringtonemu mengganggu shalat. Sadar tidak. Kamu telah bermaksiat kepada Allah. Dosa besar tahu…!”

Jamaah lain mengerubuti. Si tertuduh sudah minta maaf. Ia khilaf men-turn off HPnya. Alasan yang lumrah namun malah dianggap mentah. Oknum jamaah shalat malah ada yang over, hampir saja terjadi cek cok.

Esok harinya. Ia tidak ke masjid. “Kapok”, gerutunya. Ia memilih ke kafe Syisha. Asik nonton sepakbola. Hingga suatu kali. Ia menjatuhkan arang pembakar syisha dan mengenai karpet.

Pegawai kafe menhampiri. “Hati-hati pak. Awas kena baju bapak. Biar saya bereskan dan bapak bisa pindah ke kursi yang lain”, ujarnya lembut.
****

Dua perlakuan berbeda di dua tempat berbeda. Pertama, terjadi di masjid. Rumah Allah. Tapi sikap kasar oknum jamaah membuat calon tamu Allah, lari. Kedua, di kafe. Tempat lahwun wa la’ibun. Tapi perilaku karyawannya “menyejukkan” dan membuat betah.

Ramadhan sudah yang ke 1437 dalam kalender hijriah. Tapi perilaku oknum jamaah masjid bikin gerah suasana. Ribut soal doa buka puasa. Heboh soal formasi tarawih. Hingga ribut soal hukum ceramah tarawih.

Hal menyakitkan adalah lontaran bid’ah, maksiat, dosa besar, mungkar. Lalu mengklaim diri dan kelompoknya paling shahih dan paling Sunnah. Seakan surga sudah menjadi kavling dan Sunnah sudah hak prerogatif.

Padahal Allah saja memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun di hadapan Fir’aun dengan perkataan yang lemah lembut. Idzhabaa ilaa Fir’auna innahu thagaa Faquulaa lahu qaulan layyinan.

Anehnya. Dalil yang sama digunakan untuk sepenuhnya taat pada pemimpin walau zhalim. Tapi mengapa kepada personal dan sosial, kerasnya bikin darah kering terkuras.

Saya tidak anti Sunnah. Tapi cara mensosialisasikan Sunnah dengan cara yang jauh dari Sunnah, adalah bid’ah paling mengancam syariat. Apalah arti sebuah sunnah tapi minus rahmah dan kering ukhuwwah? Waspadalah.

Saldo Cinta untuk Kader Dakwah

Saldo Cinta untuk Kader Dakwah

By: Nandang Burhanudin

*****

 

Suatu hari dalam pertempuran Qaadisiyah, Sa’d bin Abi Waqqaash komandan tempur yang diutus Khalifah Umar bin Khatthab mengalami sakit. Saat rehat, Sa’d didatangi oleh Abu Mihjan. Sosok yang dikenal penagih arak dan penyair ulung. Hal yang memaksa Sa’d mengikat Abu Mihjan. Sa’d pun menugaskan Khaalid bin ‘Urfuthah untuk memimpin pasukan kuda.

 

Ketika perang berkecamuk. Abu Mihjan bersenandung; “Cukuplah duka cita itu, karena jatuhnya kuda diterjang tombak. Sementara aku, tak kuasa melepaskan diri yang terikat kuat belenggu.”

 

Abu Mihjan berkata kepada Bintu Khashafah, istri Sa’d bin Abi Waqqaash, “Tolong lepaskanlah belenggu ini. Aku berjanji padamu, jika Allah menyelamatkanku dalam perang ini, aku akan kembali kemari hingga aku masukkan kedua kakiku ini ke dalam ikatan. Namun jika aku terbunuh, maka kalian akan terbebas dariku.”

 

Istri Sa’d kemudian melepaskan Abu Mihjan tepat pada saat perang tengah berkecamuk. Tanpa pikir panjang, Abu Mihjan langsung melompat ke atas kuda milik Sa’d yang dinamakan Al-Balqaa’. Ia sambar tombak yang ada di dekatnya. Sejurus kemudian meluncur ke medan tempur. Menerjang. Menyasar. Menebas setiap musuh dan memorakporandakan barisan mereka.

 

Kaum muslimin berdecak kagum. “Lelaki itu bagai malaikat!” Sa’d yang keluar melihat sosok gagah berani bertanya-tanya, “Lompatan kuda perang tersebut mirip seperti lompatan Al-Balqaa’, dan tebasan-tebasanpenunggangnya mirip seperti Abu Mihjan! Namun bukankah Abu Mihjan sedang terikat?”

 

Ketika Abu Mihjan selesai menghancurkan barisan musuh, ia pun kembali ke dalam tahanan. Lantas memenuhi janji, memasukkan kedua kakinya kembali ke dalam ikatan. Melihat hal demikian, Bintu Khashafah langsung mengkhabarkan kepada suaminya. Sa’d berkata, “Demi Allah, pada hari ini aku tidak akan mendera seorang lelaki yang Allah telah menguji kaum muslimin atas kedua tangannya pada segala hal yang pernah menyusahkan mereka,” dan Sa’d pun membebaskan Abu Mihjan.

 

Ber-ikrarlah Abu Mihjan, “Sungguh, aku dahulu pernah meminum khamr yang mana karena kebiasaanku inilah ditegakkan hukuman had padaku, maka sekarang aku membersihkan diriku darinya. Dan kini Sa’d memperkenankan diriku (terbebas dari hukuman had), maka demi Allah, aku tidak akan meminum khamr lagi selama-lamanya!” [Al-Mushannaf 11/520, no. 34309]

****

 

Kisah di atas meneteskan inspirasi bagi kita, umat yang diperintahkan Allah untuk selalu Siaga I.

 

1. Abu Mihjan pasti tidak termasuk kader inti jamaah dakwah saat itu. Tapi kepiawaian dan keberaniannya, tak menghalangi dirinya meberikan kontribusi terbaik. Poinnya: distribusi tugas berjuang tidak dilihat dari wala’ (loyalitas), tapi dari kafaah (kapasitas). Terlebih saat kondisi genting.

 

2. Sa’d menjadi jelmaan komandan, murabbi, yang tidak defensif. Membuka dialog, bahkan tidak berlebihan menghukum Abu Mihjan. Kaidah: “Kader dakwah adalah asset”, membuat Abu Mihjan tersentuh jiwa baiknya. Jelajahnya menghentakkan pasukan muslim sepanjang masa.

 

3. Abu Mihjan cermin dari kader yang tahu diri. Kontribusi yang unggul tak membuatnya jumawa. Ia kembali memilih taat pada garis komando Sa’d. Mengikat diri, bukti komitmen pada janji.

 

Sa’d dan Abu Mihjan sangat dibutuhkan gerakan Islam di Indonesia saat ini. Sa’d sosok yang mampu membaca fenomena di balik peristiwa. Memaksimalkan prajurit. Tak banyak berkeluh apalagi baper. Sedang Abu Mihjan sosok yang andai ada, akan mampu memorakporandakan barisan Sekuler, Liberal, Komunis, Islamphobia. Mereka jumawa sebab tak ada lawan tanding. Semua dibuat merinding.

Habieb Riziq dan Sebab Kemenangan Umat

Habieb Riziq dan Sebab Kemenangan Umat
By: Nandang Burhanudin
****
 
(1)
Kemenangan demi kemenangan umat ISlam generasi sahabat, membuat para jenderal dan komandan Persia-Romawi keheranan. “Apa resepnya?” pikir mereka.
 
(2)
Ratusan intel beragam profesi dikirim, menggali informasi apa yang membuat umat ISlam unggul di segala level peperangan.Dalam waktu tak lama, Islam mengepung Eropa.
 
(3)
Akhirnya, mereka sepakat bahwa umat ISlam unggul disebabkan: Kualitas hablum minallah generasi Sahabat, di atas rerata umat Islam kebanyakan. Sebagaimana mereka memiliki akhlak yang unggul di masanya.
 
(4)
“Di malam hari, mereka laksana rahib. Di siang hari, mereka adalah prajurit. Seandainya anak raja mereka mencuri, hukum potong tangan diberlakukan. Jika zina, hukum had tegas dilakukan. Supremasi hukum benar-benar terlaksana.”
 
(5)
“Kami melihat mereka seperti kaum yang bagi mereka kematian lebih dicintai daripada kehidupan. Tawadhu bagi mereka lebih dicintai daripada keangkuan.”
 
(6)
“Tak seorang pun di antara mereka yang ambisius menguasai dunia. Mereka duduk di atas tanah. Mereka makan di atas tunggangan. Amir mereka, sama seperti anggota biasa lainnya. Tak nampak beda antara kalangan elit dan kalangan alit di antara mereka. Tak ada tuan dan tak nampak budak.”
 
(7)
Jika shalat tiba, tak seorangpun terlambat. Mereka mencuci sisi-sisi anggota tubuh dengan air. Mereka khusyuk menjalankan shalat. Apakah laporan ini cukup untuk mengungkap rahasia kehebatan mereka?”
 
(8)
Kemenangan umat di Pilgub Jakarta, boleh jadi anugerah dari Allah atas kepemimpinan tulus seorang Habieb Riziq dan alim ulama mukhlis lainnya. Tapi umat tidak boleh lengah, sebab para penyamun sudah siap menyalip di tikungan dan melibas di tanjakan.
 
(9)
 
Para pejuang, qiyadah, tokoh umat generasi Sahabat tidak takut diinteli. Sebab mereka memiliki modal ikhlas berjuang Lillah. Semoga spirit sahabat itu dapat kita teladani. Toch tak ada yang abadi di dunia ini.
 
http://nandang.me/2017/05/

Habieb Riziq dan Sebab Kemenangan Umat

Habieb Riziq dan Sebab Kemenangan Umat
By: Nandang Burhanudin
****

(1)
Kemenangan demi kemenangan umat ISlam generasi sahabat, membuat para jenderal dan komandan Persia-Romawi keheranan. “Apa resepnya?” pikir mereka.

(2)
Ratusan intel beragam profesi dikirim, menggali informasi apa yang membuat umat ISlam unggul di segala level peperangan.

(3)
Akhirnya, mereka sepakat bahwa umat ISlam unggul disebabkan: Kualitas hablum minallah generasi Sahabat, di atas rerata umat Islam kebanyakan. Sebagaimana mereka memiliki akhlak yang unggul di masanya.

(4)
“Di malam hari, mereka laksana rahib. Di siang hari, mereka adalah prajurit. Seandainya anak raja mereka mencuri, hukum potonga tangan diberlakukan. jika zina, hukum had tegas dilakukan. Supremasi hukum benar-benar terlaksana.”

(5)
“Kami melihat mereka seperti kaum yang bagi mereka kematian lebih dicintai daripada kehidupan. Tawadhu bagi mereka lebih dicintai daripada keangkuan.”

(6)
“Tak seorang pun di antara mereka yang ambisius menguasai dunia. Mereka duduk di atas tanah. Mereka makan di atas tunggangan. Amir mereka, sama seperti anggota biasa lainnya. Tak nampak beda antara kalangan elit dan kalangan alit di antara mereka. Tak ada tuan dan tak nampak budak.”

(7)
Jika shalat tiba, tak seorangpun terlambat. Mereka mencuci sisi-sisi anggota tubuh dengan air. Mereka khusyuk menjalankan shalat. Apakah laporan ini cukup untuk mengungkap rahasia kehebatan mereka?”

(8)
Kemenangan umat di Pilgub Jakarta, boleh jadi anugerah dari Allah atas kepemimpinan tulus seorang Habieb Riziq. Tapi umat tidak boleh lengah, sebab para penyamun sudah siap menyalip di tikungan dan melibas di tanjakan.

(9)

Para pejuang, qiyadah, tokoh umat generasi Sahabat tidak takut diinteli. Sebab mereka memiliki modal ikhlas berjuang Lillah. Semoga spirit sahabat itu dapat kita teladani. Toch tak ada yang abadi di dunia ini.

Islam, Tak Kenal Menyerah

Islam, Tak Kenal Menyerah
By: Nandang Burhanudin
*****

(1)
Sedari awal, Islam (Nabi dan umatnya) selalu menjadi target beragam serangan brutal, sadis, tidak manusia. Islam membuktikan, bukan hanya bisa bertahan. 380 berhala di sekliling Ka’bah dihancurkan. Islam bukan hanya mampu melawan, tapi melakukan ekspansi lebih luas lagi.

(2)
Di awal risalah, Islam berhadapan dengan Kaum Musyrik Quraisy. Abu Jahal, Abu Lahab. Teror fisik, mental, fitnah, hingga embargo terjadi. Di Madinah, Islam berhadapan dengan koalisi Musyrik, Yahudi, Nasrani. Tak lupa, peran kaum munafik, merusak dari dalam menggunting lipatan.

(3)
Semua penentangan itu, hanya melahirkan sosok-sosok kepahlawanan dan terbentuknya tatanan sosial keumatan. Madinah tunduk. Makkah takluk. Rasul wafat. Era Khulafaur Rasyidin dimulai. Gejolak murtad bangkit di wilayah Bahrain saat ini. Puncaknya, bermunculan nabi-nabi palsu, wahyu palsu, hingga tata cara ibadah palsu.

(4)
Pembunuhan Amirul Mukminin Umar bin Khatthab, Utsman bin Affan, lahirnya kaum Khawarij, hingga konflik internal. Tapi Islam tetap jaya, malah bisa menaklukkan Persia, Syam, Mesir, dan Jazirah Arab. Islam head to head dengan imperium Romawi.

(5)
Masa Bani Umayyah dimulai. Serangan materi, kehidupan glamour, jihad melawan perut dan syahwat semakin berat. Tapi ekspansi Islam tak kenal henti. Terus menyebar dan mengakar.

(6)
Bani Abbasiyah melanjutkan estafeta perjuangan. Di masa ini, Islam harus berhadapan dengan filsafat, kaum zindiq, ilhad. Saking hebatnya, ada yang ragu, apakah Islam bisa tetap eksis! Nyatanya, Islam semakin merambah Eropa.

(7)
Islam pasti akan unggul dan tidak ada yang mengungguli. Allah Penjamin dan Al-Qur’an dan Sunnah, petunjuk yang tak akan pernah lekang oleh waktu dan zaman. Islam tidak menyerah dan tidak akan kalah.

(8)
Tidak ada musuh Islam yang kuat. Yang ada, adalah ketika umat Islam lemah dan abai dengan risalah. Allah menurunkan beragam ujian, targetnya menguatkan barisan Islam dan membangkitkan ruh jihad umat Islam.

(9)
Inonesia kini mengalami tahun duka cita. Tapi kita tak mengira, 7 juta Muslim bersatu di tengah guyuran hujan Ibu Kota melawan arogansi Ahox dengan elegan. Aksi 212 gerakan fenomenal, sekaligus esensial.

(10)
Yakinlah, kita tidak akan terprovokasi apapun yang dilakukan kepolisian. Justru rakyat semakin paham, ada hal yang belum tuntas dari reformasi 1998: menata ulang aparat, agar menjadi penyayom masyarakat. Bukan jadi budak konglomerat dan antek pejabat.

(11)

Yakinlah pula! Islam akan berjaya, kini dan nanti! Islam hanya perlu jiwa-jiwa bersih yang mampu melawan dan menyingkirkan kemunafikan berlabel Islam!

Cahaya Lilin VS Cahaya Tauhid

Cahaya Lilin VS Cahaya Tauhid

By: Nandang Burhanudin

******

(1)
Maraknya simpati pro Ahox, adalah sinyal: soliditas ahli maksiat dan kekufuran, melawan api tauhid umat. Sedangkan, beberapa pimpinan daerah menggambarkan perselingkuhan kepentingan. Plus menegaskan suasana keimanan, jika ia seorang Muslim.

(2)
Al-Quran menegaskan, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan.” (Al-Anfal: 36)

(3)
Target mereka, mematikan cahaya Allah Ta’ala. Cahaya tauhid.  Menghambat dan menghancurkan dakwah Islam. “Mereka  hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.”

(4)
Apa yang harus dilakukan para pejuang 212, 411? Muhasabah. Introspeksi. Evaluasi.

(5)
Di perang Qadisiyah. Utusan Sa’ad bin Abi Waqqash r.a. datang menghadap Amirul Mukminin Umar bin Khatthab, mengabarkan kemenangan umat Islam di Qadisiyah.

(6)
Umar langsung sujud syukur. Setelah itu mengangkat kepala, lantas bertanya, “Kapan pertempuran dimulai” “Sebelum Dhuha”, jawab utusan. “Kapan kemenangan diraih?” “Sebelum Maghrib”.

(7)
Umar bin Khatthab menangis hingga membasahi janggutnya. “Wahai Amirul Mukminin, kemenangan yang kami kabarkan kepada Anda. Mengapa Anda menangis?”

(8)
“Demi Allah. Kebatilan tidak akan pernah sesolid itu menghadapi Al-Haq. Hal ini terjadi, bisa jadi karena dosa yang aku atau kalian lakukan! Kita adalah kaum yang tidak meraih kemenangan hanya dengan jumlah dan perbekalan. Kita menang, karena sedikitnya dosa dan banyaknya dosa-dosa musuh-musuh kita. Ketika dosa kita sama dengan mereka, maka kemenangan tergantung jumlah dan peralatan perang.”

(9)
Ramadhan, kesempatan para pejuang umat untuk bertahannuts! Setelah itu kobarkan terus perlawanan menumbangkan kebatilan dimanapun dan apapun konsekwensinya! Membakar lilin bisa kita baca; keputusasaan Bani Serbet dan Bani Pinokio, sebab rencana menguasai Jakarta dan insya Allah Jawa Barat terhenti! Allahu Akbar!

Pemusar Gelombang Peradaban

Pemusar Gelombang Peradaban
By:Nandang Burhanudin
******

(1)
Sejarah mencatat, selalu ada pemeran sejarah yang tulus ikhlas sebagai spesialis pemadam kebakaran.

(2)
Saat negeri terbakar. Organisasi atau jamaah diberangus hangus. Pemadam kebakaran itu bangkit, menyelamatkan.

(3)
Indonesia punya M. Natsir. Mesir punya Imam Al-Banna. Dulu ada Shalahuddin Al-Ayyubi, Qutz. Zaman para nabi tercatat rapih satu persatu.

(4)
Penyelamat, akal-nalar mereka sangat matang. Pemikirannya cermat. Paham mana maslahat, mana muslihat.

(5)
Ciri paling menonjol adalah: spirit merealiasikan kemaslahatan umum, rela mengorbankan kemaslahatan personal.

(6)
Ciri lainnya, ia relakan dirinya menjadi jembatan kesuksesan orang lain. Jembatan dengan segala maknanya.

(7)
Ikhlas berbagi sumber mata air, sumber penghidupan, sumber ma’isyah. Tidak dihold sendiri dan kroninya. Perhatikan surat Asy-Sy’ara: 155.

(8)
Lain halnya dengan tipe biangkerok. Fir’aun contoh yang tegas disebutkan dalam Al-Qur’an. Kuasa dan kewenangan, digunakan pamer keangkuhan.

(9)
Fasis, rasis, hegemonis. “Aku lho penguasa Mesir saat ini? Semua aku yang ngatur. Sadarkah kalian?” ujaran keangkuhan Fir’aun yang selalu muncul sepanjang zaman.

(10)
Gaya Fir’aun: Ditopang kesombongan. Menyingkirkan para pengeritik. Menghalalkan darah dan kehormatan ditumpahkan. Merangkul penjilat dan taat buta.

(11)
Sebagai orang awam, kita selalu dikagetkan: tersingkirnya para mukhlishin dan para jembatan kesuksesan yang dikenal sebagai pemusar gelombang peradaban.

(12)
Tetiba bermunculan ke atmosfir, nama-nama yang tak kenal menyapa atau berkirim salam, kecuali sekedar pencitraan dan kepentingan sesaat.

Pejuang 212, Tak Boleh Lelah!

Pejuang 212, Tak Boleh Lelah!
By: Nandang Burhanudin
*****

(1)
Jika perasaan yang jadi ukuran, semua kita akan kesal, marah, kecewa, murka, terutama melihat sikap Polri dan negara yang tidak lagi berempati dengan rakyat pribumi Muslim.

(2)
Ketidakadilan dan kesewenangan dipertontonkan, mencolok mata, menyayat jiwa. Jangan tanya soal supremasi hukum, perlakuan sama di depan hukum untuk seorang Ahox dan kalangan Tionghoa lainnya.

(3)
Tapi, inilah titik krusial ujiannya. Sekaligus menjadi pembeda, antara mujahidin 411, 212, 303, 505 dengan kalangan upahan projok-prohok, maupun mereka yang membela kemaksiatan. Penyebabnya adalah:

(4)
Pertama: Pejuang aksi 212, adalah Muslim yang telah tersemat akidah tauhid. Akidah murni, mulia, agung, luhur, beradab. Akidah yang menghargai nalar, rasa. Bahkan akidah yang mengarahkan umatnya untuk bersikap elegan dan anti kekerasan, kecuali terpaksa.

(5)
Kedua; rerata pelaku aksi adalah kalangan Muslim taat, multazim. Banyak juga dari kalangan awam, memang. Tapi tanpa dukungan Muslim taat, semua aksi tak akan pernah bisa bertahan hingga keringat terakhir.

(6)
Ketiga; secara kematangan mental, pendukung aksi Muslim pembela Al-Qur’an adalah mereka yang sangat matang. Tidak mudah terprovokasi, fokus pada masalah inti. Jangan tanya para prohok-projok, yang rerata pemabuk.

(7)
Keempat: Keikhlasan dalam berjuang, murni niat karena Allah. Tak mengharap subsidi siapapun. Biaya hampir seluruhnya dari kantong masing-masing. Ikhlas yang membuat para pejuang itu, tak kenal lelah dan kalah.

(8)
Jika pejuang aksi 212 adalah radikal, ya! Tapi radikal dalam arti positif. Bukan radikal negatif yang diharapkan Tito dan jajarannya. Radikal, sebab mereka memahami apa yang harus diperjuangkan. Perjuangan yang berbeda dengan Tito tentunya.

(9)
Jadi kawan, jangan pernah lengah apalagi lelah. Indonesia tanpa kalangan radikalis militan, telah lama dilelang dan tinggal nama. Atas izin Allah, ada Buniyani, HRS, dan GNPF. Mari jangan berhenti berjuang, walau Gubernur Jakarta sudah dipegang Anies-Sandi.

© 2017 Nandang Burhanudin All Rights Reserved   

Theme Smartpress by Level9themes.