Nandang Burhanudin Pakar Peradaban Islam

At-Tansiq Ad-Da’wi dan Kemenangan Pilgub Jabar


At-Tansiq Ad-Da’wi dan Kemenangan Pilgub Jabar
By: Nandang Burhanudin
*****

(1)
Dakwah Islam, sejak awal menjadikan al-wifaq al-‘aam (konsolidasi umum) sebagai target. Toleran, penuh maaf, dan inklusif.

(2)
Jika merujuk peristiwa “Fatẖu Makkah” yang dilakukan Rasulullah bersama elemen umat, perlu 21 tahun menaklukkannya.

(3)
Makkah sejak lama menjadi markas orang-orang musyrik jahiliyah. Seluruh elemen, baik kalangan elit maupun alit turut serta.

(4)
Euforia keberhasilan tak terhindari. Ada sekelompok kecil sahabat yang memekikkan slogan “al-yaum yaum al-malhamah”, hari ini adalah hari penumpahan darah”.

(5)
Nabi Muhammad melarang beredarnya slogan tersebut dan menggantinya dengan slogan “al-yaum yaum al-marhamah”, hari ini adalah hari kasih sayang.

(6)
Akhirnya peristiwa pembebasan kota Makkah dapat terwujud tanpa insiden berdarah. Fathu Makkah menjadi momen pemaafan umum. Pencapaian peradaban tinggi sejarah manusia.

(7)
Suksesi Fathu Makkah, tidak ujung-ujug sim salabim dengan sekedar menengadahkan doa. Rasul dan para sahabat menempunya, dengan tebusan jiwa raga.

(8)
Pertama, jelas karunia Allah dan kesungguhan Rasulullah dalam memperjuangkan dakwah Ilallah, bukan sekedar meraih tahta atau meraup keuntungan harta.

(9)
Kedua, konsolidasi dan kesamaan visi komandan tertinggi hingga prajurit akar rumput, dan kalangan simpatisan. Merangkul tanpa memukul.

(10)
Ketiga, dukungan rakyat kecil yang termarjinalkan kaum kafir Quraisy. Kaum marjinal yang tertutup dari segala akses ekonomi dan keadilan.

(11)
Fathu Makkah sudah terjadi. Tantangan juru dakwah di depan mata adalah Fathu Jabar dan Fathu Indonesia. Kita harus aktif. Kepentingannya menyelamatkan Islam.

(12)
Maka tugas elit menghentikan euforia dendam al-yaum yaumul malhamah, menjadi al-yaum yaumul marhamah. Membuang angkara dendam, sikap angkuh. Pasang kuping. Pasang mata!

(13)
Fathu Jabar tak bisa sendirian. Perlu booster online dan offline. Tetaplah komitmen dalam dakwah! Di sini, di jalan ini! Jalan cinta tanpa kesumat dendam.

(14)
Itu dengan catatan, jika Jabar dan Indonesia masih dianggap penting untuk dimenangkan. Jika tidak, teruslah tebar agitasi dan peluk erat organisasi, seakan milik sendiri.

Erdogan dan Strategi Kedaulatan

Erdogan dan Strategi Kedaulatan

By: Nandang Burhanudin

*****

 

(1)

“Umat yang makan bukan dari hasil yang mereka tanam. Bersandang bukan dari apa yang mereka produksi. Dipastikan menjadi bangsa boneka yang mudah didikte.”

 

(2)

“Pemimpin yang gampang melecehkan ajaran agama. Tidak peduli pada akidah. Maka dipastikan, ia pemimpin cacat yang menghinakan agama dan rakyatnya.”

 

(3)

Nampaknya. Petuah bijak Arab klasik di atas, menjadi inspirasi seorang pemimpin visiomer, Presiden Erdogan. Dalam benaknya terpajang cita-cita besar: membangkitkan kejayaan Islam dan umatnya.

 

(4)

Islam itu unggul dan tidak ada yang mengungguli. Itu sudah takdir Allah. Namun Allah Ta’ala menekankan kejayaan umat, sangat tergantung pada perubahan paradigma dan keseriusan dalam kerja nyata.

 

(5)

Kini. Atas kebijakannya. Erdogan menjadi sorotan dunia. Terutama pasca kegagalan kudeta atas dirinya. Media Barat dan sunia Islam yang pro Sekuler-Liberal-Islamphobia, menjadi corong pengaburan fakta.

 

(6)

Koran-koran Mesir, UAE, dan Indonesia ramai-ramai memuat kehidupan Erdogan dan Aminah Erdogan berbasis pada tulisan di harian Telegraph,,The Independent, atau Times.

 

(7)

Isinya seputar kehidupan “borju”, gurita bisnis, dan tentunya keganasan korupsi. Semua sudah dibantah Erdogan dan menantang untuk head to head di pengadilan, baik lokal Turki atau internasional.

 

(8)

Tentu target tulisan itu, bukan mencari kebenaran. Tapi menargetkan pembusukan karakter terhadap sosok pemimpin yang sulit dikalahkan di arena demokrasi atau kotak suara.

 

(9)

Rakyat Turki sudah berada di posisi kecerdasan di atas rata-rata. Hal ini pula yang menyemangati Erdogan untuk melakukan “pembersihan” terhadap anasir kudeta di militer, yudikatif, eksekutif, pendidikan, dan sosial.

 

(10)

Erdogan saya yakin tidak akan bertindak sekejam Barat atau pelaku kudeta. Erdogan dengan kejeniusan dan kedewasaan berpolotik, tentu memahami langkah taktis strategis membungkam kudeta dan pendukungnya.

 

(11)

Soal ini akan dipaparkan kemudian. Satu hal yang pasti. Erdogan sedang “ngebut” merealisasikan kedaulatan Turki di bidang militer, pertanian, energi, obat-obatan, pangan, dan industri.

 

(12)

Erdogan berprinsip. Jika model AsSisi dan Jokowi saja yang melelang asset negara, bisa ngebut dan berkejaran dengan waktu. Maka dirinya harus lebih cepat lagi. Diharapkan. Saat 2023. Mesir dan Indonesia sudah berubah rezim ke arah yang lebih baik.

Salafy VS Fikroh Sesat Ikhwanul Muslimin (?)

Salafy VS Fikroh Sesat Ikhwanul Muslimin (?)
By: Nandang Burhanudin
****

(1)
Kebencian oknum-oknum Salafy/Wahabi kepada IM telah dicatat dalam banyak buku. Selain tuduhan sesat, khawarij, kini tuduhan tambahan: IM biang teroris. Pertanyaannya, jika sesat, cikal bakal teroris dan khawarij. Apa makna undangan dan pertemuan istimewa antara Raja Abdul Aziz pendiri Saudi Arabia dengan Imam Hasan Al-Banna tahun 1936 dan tahun 1948 M?

(2)
Jika fikroh sesat, mengapa Raja Adul Aziz melakukan kunjungan khusus kepada semua anggota IM tahun 1945 di Alexandria. Pertemuan kolosal di stadion Olimpyc Alexandria. Raja Abdul Aziz diperlakukan bak Amirul Mukminin.

(3)
Jika teroris, siapa yang menyusun dan memajukan pendidikan di Saudi Arabia? Anda yang belajar agama di Saudi pasti mengenal tokoh Syaikh Manna’ Al-Qatthan, Syaikh Salman ‘Audah, Syaikh ‘Awadh Al-Qarni, Syaikh ‘Aidh Al-Qarni bukan?

(4)
Jika khawarij, mengapa Raja Faishal memberikan peran khusus kepada warga Saudi yang berfikroh IM untuk mendirikan Organisasi Konferensi Islam, WAMY, pendirian Bank Pembangunan Islam?

(5)
Jika IM teroris, tunjukkan aksi terorisme yang telah dilakukan anggota Ikhwanul Muslimin di Mesir, di Saudi, di negara Teluk, atau di dunia Islam? Bukankah pemikiran IM dituduh paling “serampangan” dan hizbiyyun dengan membuka diri menjadi partai politik, artinya terbuka dengan pemikiran Barat?

(6)
Graham Fuller, diplomat senior AS dan penulis aktif di The Washington Post, The New York Times, The LA Times, menegaskan, Pangeran Nayef nampak gelisah dengan tekanan AS atas kebijakan Saudi Arabia yang “tidak tepat” di era Raja Abdullah. Untuk itu, tidak ada cara lain mencari kambing hitam yang dituduh bertanggungjawab atas radikalisme dan terorisme.

(7)
Menurutnya, “Memang betul, pemikiran Sayyid Quthb masuk ke Saudi melalui IM, sebagaimana dibawa guru-guru dan dosen-dosen Mesir di seluruh Arab. Bisa jadi ada serpihan pemikiran Sayyid Quthb yang radikal, tapi sejarah membuktikan tidak ada seorangpun kader IM yang melakukan tindakan teror. Jikapun ada, jumlahnya tak layak disebutkan.” (Sumber: Al-Amiir Nayef wal Ikhwanul Muslimun, Aljazeera.net)

(8)
Fuller melanjutkan, “Perlu diingat, IM adalah organisasi gerakan ISlam terbesar di dunia yang selama 40 tahun lebih, sukses menghindari aksi-aksi anarkisme apalagi terorsme. IM menolak anarkisme melawan rezim di Jordania, Kuwait, bahkan di Mesir sendiri.”

(9)
“Dulu, IM pernah mengangkat senjata di Syiria. Tapi IM berhenti total setelah dibumihanguskan oleh Hafizh Asad di kota Hamah. Oleh karena itu, organisasi yang ada hubungan fikroh dengan IM seperti Jemaat ISlami di Pakistan dan Bangladesh, atau PAS di Malaysia, semuanya tidak pernah tercatat memberontak melawan pemerintahan yang sah.” Sudan bisa jadi contoh pemberontakan IM oleh Hasan Turabi, tapi kita tahu, ia telah dipecat dari IM.

(10)
“Apalagi melihat Ikhwan di Tunisia, kendati rezim Ben Ali sangat represif, IM tidak memberontak. Faktanya, Rasyid Gannochi hari ini adalah tokoh penting pemikir Islam moderat. Ia menghormati demokrasi dan memperjuangkan HAM secara totalitas.”

(11)
Fuller menambahkan, “Saudi sejak lama membiayai gerakan Wahabi di dunia. Wahabi sendiri bukan gerakan teror. Tapi menurut saya, Wahabi gerakan yang sangat sempit pola fikirnya dan tekstual dalam menafsikran nash-nash. Jauh dari konsep toleransi antar madzhab, bahkan acap mengkafirkan (takfir).”

(12)
“Menurut saya, Wahabi adalah kekuatan yang tidak mungkin menjadi lokomotif persatuan dunia Arab dan dunia ISlam. Malah memperkuat dunia Islam saja tidak akan mampu. Justru gerakan Wahabi membawa gerbong umat Islam menjuju pengajaran Islam yang lemah dan ‘uzlah (terasing) dari dunia. Saya sama sekali tidak melihat, masa depan ISlam jaya dengan pemikiran Wahabi. Tentu pendapat saya ini akan banyak ditentang.”

(13)
“Walaupun Saudi Arabia tidak langsung mendukung gerakan radikalisme dan terorisme, tapi organisasi-organisasi teror selalu berhubungan dengan organisasi yang saya sebutkan di atas. Paham yang menjadi cikal bakal gerakan politik rigid, yang ditolak oleh Saudi sendiri. AlQaeda misalnya, lebih dekat dengan pemikiran wahabi daripada Ikhwani.”

(14)
“Penjelasan Pangeran Nayef, -menuduh IM biang masalah- justru membuka front baru alias musuh baru bagi kerajaan Saudi Arabia. AS pun dalam hal ini tidak mendukung. Sebab para pemangku kebijakan AS paham, IM adalah organisasi moderat dan paling modernis dibanding Salafi maupun Wahabi.”

(15)
Semua muslim normal, pasti mendoakan keselamatan kepada penguasa Saudi. Semua berharap, para pendukung ajaran takfir di Indonesia, lebih fokus melawan kezhaliman rezim penguasa di negara sendiri daripada hobi melempar tuduhan mengada-ngada yang menjurus pada fitnah. Justru aneh, IM yang dibantai justru IM yang dituduh teroris bukan? Yang akalnya normal, pasti merasa aneh.

Qatar Tegar, Saudi Dirudung Malu

Qatar Tegar, Saudi Dirudung Malu
By: Nandang Burhanudin
****

(1)
“Apa sikap Anda Tuan, berpihak kepada kami atau kepada Qatar?” Tanya Raja Salman pada PM Pakistan.

(2)
“Kami tidak berpihak pada siapapun. Kami inginkan kebaikan dunia Arab dan Teluk.”

(3)
Di kasus Qatar, Saudi terisolasi. Dunia menolak mengikuti keinginan Saudi. Termasuk Ethiopia yang diiming-imingi duit 80 juta dollar.

(4)
Diplomat Qatar nampak lebih pandai daripada diplomat Saudi. Bisa jadi, diplomat Saudi pun tak terlalu mengerti mengapa harus bermusuhan dengan Qatar.

(5)
Apalagi AS nampak pro Qatar. AS menganggap, kasus Qatar hanya ambisi Trump pribadi bukan kemaslahatan AS secara umum.

(6)
Qatar dibackup Turki,Perancis, Jerman, Inggris. Qatar makin kekar, sedang pengaruh Saudi kini sedikit pudar.

(7)
Ingat, di awal kemunculan Raja Salman. Dunia menanti kebijakan Raja Salman yang pro kemanusiaan dan antipenjajahan.

(8)
Awalnya, alinsi Turki-Saudi-Qatar membuncahkan harapan, Saudi kembali kepada garis lurus sebagai pengawal dua tanah suci umat Islam.

(9)
Sayangnya, emosi jiwa wakil Putera Mahkota Saudi, Muhammad bin Salman terlalu menggebu. Hingga melabrak tata kelola negara dan tata cara diplomasi internasional.

(10)
Muhammad bin Salman (34 tahun), dengan kekuasaan kekuasaan besar, nampaknya sangat berambisi menjadi raja. Hal ini diamini Ben Zaid, penguasa UAE biang dari masalah di Timteng setelah Yahudi.

(11)
Saudi lupa, tersangka yang merencanakan pembunuhan pada Raja Abdullah kini tinggal di UAE. Komprador pendukung Syiah Houtsi pun tinggal di UAE.

(12)
Selain malu, Saudi pun kehilangan pendapatan milyaran dollar dari transaksi ekspor makanan, buah-buahan, dan sayuran ke Qatar. Turki malah untung.

(13)
Uniknya, Qatar tidak bisa diisolasi penuh. Sebab celah udara masih terbuka, yaitu dengan melewati 3 pulau milik UAE yang dikuasai Iran. Bahkan UAE ketar-ketir, apa jadinya jika Qatar menghentikan pasokan gas ke UAE.

(14)
Jadi brow, kita berharap Saudi tidak mengulangi kesalahan seperti kesalahan Raja Abdullah yang mendukung kudeta dan pembantaian di Mesir. Boleh jadi hanya didasarkan laporan anak buah yang asal-asalan.

(15)
Kasian juga para ulama kerajaan Saudi. Sudah teriak-teriak bahwa embargo atas Qatar sesuai AlQuran dan Sunnah. Eee .. malah kini Saudi yang menanggung amarah rakyat Saudi sendiri.

(16)
Lucu bukan, apa jadinya nasib para pendukung Barcelona di Saudi, UAE, Bahrain? Kebayang pakai kaos saja diancam hukuman 15 tahun penjara dan denda 100.000 real bagi siapapun yang menonton Aljazeera.

(17)
Bahkan Qatar Charity sudah diakui sebagai lembaga kemanusiaan PBB. Kalau Mesir di era AsSisi menjadi ngaco, sangat wajar tentunya. Loh …jangan sampai yang lain ikut-ikutan meracau.

(18)
Bahkan dari 59 nama yang masuk daftar teroris,ada nama Dr. Fuad Beltagi. Ia seorang dokter keluarga Beltagi, yang sejak 2015 mendekam di penjara AsSisi dan selama hidupnya tidak pernah pergi ke Qatar.

(19)
Yang jelas, sesama pendukung AS, Qatar lebih proporsional. Bagi Qatar, keberlimpahan energi adalah senjata untuk membela yang terzhalimi, sesuai kemampunnya.

(20)
Mari terus doakan kebaikan bagi Saudi, UAE,Qatar dan seluruh negeri Muslim. Sebab jika Teluk bermasalah, yang tepuk tangan Israel dan Syiah Iran. Mereka semakin kokoh. Sedangkan dunia Sunni, makih tergopoh.

(21)
Bertaubatlah menuduh IM, Syaikh Al-Qaradhawi serta 58 ulama lainnya sebagai biang teroris. Sebab sejarahnya, terorisme lahir dari gerakan pemberontakan atas Kekhilafahan Utsmani. Kita pun paham siapa pelakunya.

Kita Terpuruk dan Mereka Kemaruk (Serakah)

Kita Terpuruk dan Mereka Kemaruk (Serakah)


By: Nandang Burhanudin
*****

(1)
Saya sich pengennya gak mau pusing mikirin negara dan umat. Tadinya pengen fokus ngurus biaya sekolah anak, dagang lancar, urusan sekolah tuntas. Bisa tambah cabang dan investasi di segala bidang.

(2)
Tapi. Panggilan nurani kagak bisa ditolak. Islam mengajarkan, berjuang melawan kezhaliman walau dengan ekspresi ketidaksetujuan. Hidup fii sabilillah sebelum mati fii sabiilillah.

(3)
Jadi. Saya amati. Mengapa umat Islam terpuruk, lalu musuhnya makin kemaruk? Salah satu sebabnya. Kalangan Muslim yang kebetulan menjadi fudhalaaul qaum (orang terhormat), Akaabir (orang berpengaruh), AlUzhamaa (tokoh sentral), qiyadah (elit komando, decision maker). Mereka tidak siap dievaluasi.

(4)
Kalau gagal, selalu bahasa konspirasi yang dimunculkan. Bukan introspeksi awalan. Lalu hadapi konspirasi. Karena posisi pembesar, qiyadah, fudhalaa adalah posisi tanggungjawab (almasuuliyyah) bukan takrim (pemuliaan)

(5)
Rasul menyebut perannya dengan sabda, “Innahu laa yakdzibu ahlahu” (tidak akan berdusta pada anggotanya). Artinya, berada di posisi puncak berarti harus siap pada proses syafafiyah (tranparansi). Hal yang nampaknya hilang tenggelam. Rasul dan Khulafaur Rasyidin terdepan dalam transparansi.

(5)
Kehebatan para pembesar, elit, tokoh, decision maker, terlihat saat dia berani mengakui kekurangan (asy-syaja’h ‘alal i’tirof bittaqshir). Walau dia bisa saja berlindung di balik keagungan jubah, kesaktian tongkat komando, atau kehebatan tim lobi, dan gegap pendukung.

(6)
Bandingjan tokoh sentral di Islam dengan tokoh sentral di Israel saat ini. Setiap kali berperang dan prajuritnya mati atau tertawan. Israel selalu membentuk Komisi Penyidik. Bahkan vonis hukuman bisa dijatuhkan hingga pada level Menhan, Jenderal, PM, hingga Presiden.

(7)
Di dunia Arab dan Islam. Kalah di.perang 1967, hingga saat ini. Tidak ada Komisi Penyidik yang dibentuk. Tranparansi seakan dianggap virus mematikan di dunia Arab dan dunia Islam. Berlindung di balik kata taqdir.

(8)
Demikian juga dengan kegagalan Arab Springs dan reformasi di.Indonesia. Mengapa kaum Sekuler, Liberal, Islamphobia, Syiah, Komunis sangat cepat mencuri kembali cita-cita kita untuk menjadi bangsa bermartabat? Adakah evaluasi dan tranparansi?

(9)
Jawabannya pasti apologetik. Konspirasi korporat dan pihak Zionis-Salibis. Tapi tak pernah menyentuh masalah dasar: mengapa kita tak mampu head to head dengan mereka?

(10)
Era reformasi gagah diisi tokoh-tokoh Islam. Hanya bertahan 2 tahun. Kaum Liberal kembali manggung dengan jargon reformasi, tapi sejatinya membunuh reformasi. Demikian halnya dengan Jakarta di tahun 2004. Adakah evaluasi?

(11)
AlQuran sudah menegaskan. Kegagalan itu…Qul huwa min ‘indi anfusikum. Musibah kita saat ini tidak punya tokoh sentral level qiyadah, akabir, fudhalaa, ‘uzhamaa yang siap dievaluasi dengan konsep reward and punishment.

(12)
Sebagai rakyat dan kalangan bawah. Kita disuruh seperti pepatah Arab:

“تسلق يا عزيزي وتبوأ مقعدك وأحط نفسك بالدراويش تارة وبالمحاسيب تارة أخرى، ومد قدميك في وجه الجميع وردد وسيرددون من خلفك مدد… مدد”.

“Kawan. Teruslah jalan. Isi tempatmu. Sesekali perbanyak penggemar di sekelilingmu. Juga kaum fanatik. Arahkan 2 kakimu ke semua orang. Lalu ulangi. Mereka pasti mengelukanmu di belakang. Lanjutkan..lanjutkan!”

Al-Aqsha dan Rezim Arab, Siapa Hancur Lebuh Dulu?

Al-Aqsha dan Rezim Arab, Siapa Hancur Lebuh Dulu?
By: Nandang Burhanudin*
*****

(1)
2017 adalah satu abad kolonialisasi Israel (Inggris) di bumi Palestina. Israel memiliki siklus 17 tahunan.

(2)
Bermula 1917 rencana jahat diimolementasikan. 1967, 1987 pembakaran Al-Aqsha.

(3)
2017 puncaknya. Rezim Arab ditundukkan. Irak, Syiria, Mesir, Libanon, Yaman. Apakah Arab Saudi tinggal menghitung hari?

(4)
AlAqsha sejak lama tak memiliki pelindung. 60 terowongan permanen Israel dibangun di semua komplek AlAqsha.

(5)
Apakah AlAqsha bisa dihancurkan? Ads yang berkilah, AlAqsha tetap terjaga sebab ada Allah yang Maha Menjaga.

(6)
Ya betul. Tapi pernyataan ini melupakan fakta, Ka’bah pun pernah dihancurkan Manjaniq oleh Hajjaj binnYusuf AtsTsaqafi.

(7)
Hajar Aswad sukses dicuri Syiah Qaramithah dan disandera selama 22 tahun. Berharap mukjizat? Ya.

(8)
Umat Islam selalu menunggu AlMahdi dan pasukan Ababil. Era itu tidak mudah ada, sebelum ada Muslim yang menjadi prajurit Allah.

(9)
Maka sosok mujahid dr. ArRantisi menegaskan, HAMAS menjadi wakil umat yang melawan Israel (AS, Inggris, Rusia).

(10)
“HAMAS mampu berdialog. Tapi dialognya dengan darah dan nyawa.” Israel tak gentar, selain bahasa senjata.

(11)
“Israel sangat mampu menghancurkan AlAqsha, sebagaimana mereka mampu membunuh Syaikh Ahmad Yasin.”

(12)
Maka tak aneh, bila HAMAS dianggap ancaman rezim-rezim Arab. Lalu IM sebagai organisasi induk menjadi musuh bersama.

(13)
Rezim Arab yang merestui pembantaian AsSisi atas manusia Muslim yang tengah berpuasa, tahajjid di bulan Ramadhan.

(14)
Tentu tak bisa diharapkan menjadi pelindung AlAqsha. BUKANKAH penghilangan nyawa lebih HARAM dibanding tanah haram?

(15)
Apakah kita akan menjadi saksi, mana yang lebih dahulu hancur? AlAqsha ataukah rezim-rezim Arab?

(16)
Rezim-rezim Arab sebenarnya sudah tidak ada. Seiring kematian nurani dan hilangnya Islam, yang jika ada hanya sekedar teori.

*Ketua Badan Hubungan Luar Negeri DPP PUI (Persatuan Umat Islam)

Embargo Qatar dan Serial Menghancurkan Islam

Embargo Qatar dan Serial Menghancurkan Islam
By: Nandang Burhanudin
****

(1)
Emir Qatar terlihat memiliki kualitas kepemimpinan yang matang. Krisis Teluk, ia sikapi dengan tenang.

(2)
Menolak berkomentar. Lebih memilih mediasi Kuwait dan Turki. Tapi tetap waspada, soal hidden agenda di balik embargo Saudi, UAE, Bahrain.

(3)
Semua alasan pelaku Embargo, sangat mengada-ada. Soal Iran misalnya, transaksi bisnis UAE dengan Iran jauh lebih besar.

(4)
Soal Iran. Qatar lebih banyak mendukung Saudi dibanding UAE. Di perang Saudi lawan Houtsi dan Assad, Qatar memihak Saudi. UAE sebaliknya.

(5)
Soal kudeta AsSisi terhadap Mursi, tahun 2014, Qatar menuruti permintaan Saudi untuk menghentikan siaran AlJazirah Live dari Mesir.

(6)
Qatar pun ikut serta memulangkan para qiyadah IM yang mukim di Qatar, selain ulama besar Syaikh AlQaradhawi yang sudah jadi warga kehormatan Qatar.

(7)
Qatar pun tak bermasalah dengan AS. Hanya, Qatar paling berani mempermasalahkan terorisme Israel dan AsSisi. Menuntut AS proporsional.

(8)
Apakah hanya masalah Palestina? Bisa jadi. Qatar satu-satunya negara yang menolak jaringan intelejen Mossad atau Sinbad beroperasi.

(9)
Lain halnya dengan UAE, belasan aktivis HAMAS dibunuh Mossad bekerjasama dengan intel UAE di mall Dubai buktinya.

(10)
Tapi ada hal lain. Kesepakatan rahasia antara Saudi, UAE dan Israel. Hal yang jarang terungkap di permukaan. Kesepakatan yang membuat Israel lega.

(11)
Menyakitkan memang, Israel lebih memilih menutupi kesepakatan dengan “negara Arab” yang disebutnya “bersahabat memerangi terorisme.”

(13)
Tak tanggung, Saudi mengutus jenderal bintang 1 ke Israel. Juga “orang penting” lainnya secara intensif berbagi data intelejen. Israel menyebutnya, data yang diberikan “penting” demi keberlangsungan dinasti Saudi.

(14)
Hidden agenda yang tidak lagi hidden: isolasi Qatar. Jangankan aturan Islam, aturan manusia saja banyak dilanggar. Lalu untuk kepentingan siapa mengembargo Qatar?

(15)
Qatar dihadapkan 3 pilihan: 1. Tunduk pada desakan Saudi-UAE-Bahrain yang tiada lain permintaan Israel. Semisal: menutup AlJazeera dan HAMAS.

(16)
2. Menolak mentah-mentah, berakibat pada isolasi. Kini Jordania, Maroko, Mauritania ikut-ikutan memutus hubungan diplomatik. Qatar bisa jadi kuat, tapi terisolir.

(17)
3. Mengintensifkan lobi politik Turki, Pakistan, Kuwait yang bisa memahamkan Saudi, UAE, Bahrain plus menekan Israel agar tidak memancing di air keruh.

(18)
Qatar tidak memedulikan Mesir yang dianggap “rezim teror”. Qatar hanya heran dengan sikap negeri-negeri Teluk yang kini mengisolasinya.

(19)
Targetnya jelas: agenda Israel tahun 2006 yang sempat ditolak Mubarak- yang karenanya dilengserkan- dan Raja Abdullah, kini direalisasikan AsSisi dan Raja Salman.

(20)
Jika AsSisi, Raja Jordania, Raja UAE pelakunya kita tak terlalu heran. Tapi dilakukan Raja Salman, yang sempat jadi harapan umat atas koalisi cantiknya dengan Turki dan Qatar, adalah hal menyakitkan.

(21)
Tapi itulah fakta yang harus kita telan. Israel menghabisi para ulama Sunni kharismatik yang tersisa, hanya dengan modal janji: menjaga rahasia para raja dan pangeran Saudi dan Teluk. Jika dibuka, singasana terguncang.

(22)
Menyelamatkan singasana kerajaan, jauh lebih penting daripada masalah Palestina dan memilih melawan umat Islam yang bercita mengembalikan ‘izzah umat melawan Yahudi.

(23)

Serial menghancurkan Islam melalui proxy war akan terus berlanjut. Baghdad, Damaskus, Aleppo, Kairo sudah hancur. Tersisa Istambul, Mekkah dan Madinah. Hanya tinggal waktu..

Ramadhan Tersulit

Ramadhan Tersulit

****

 

Ramadhan 1437 adalah Ramadhan tersulit.

Tidak ada lagi Syiar Ramadhan di Kairo.

Tidak ada lagi menara adzan di Damaskus.

Tidak ada lagi khazanah ilmu di Baghdad.

 

Libia dihancurkan.

Palestina diancam penyerbuan.

Gaza diembargo dan diisolasi.

Indonesia dililit hutang dan premanisme.

Bangladesh dikangkangi penguasa sekuler zhalim.

 

Sedangkan generasi umatnya.

Sibuk menonton piala Eropa.

Sibuk mendukung klub-klub sepakbola.

Kecewa saat Valentino Rossi gagal juara.

 

Tersiksa saat Barcelona gagal berpesta.

Umat Muhammad yang hanya bangga dengan kibaran bendera.

Umat yang tak lagi mampu bersuara.

Orientasinya hanya perut dan wanita.

 

Ramadhan tersulit 1438 H, saat Qatar menjadi musuh bersama

Yahudi semakin angkuh merona bahagia.

Qatari disebut teroris, oleh manusia teror durjana

Umat yang tak lagi tergugah, ketika jutaan nyawa dihina dina.

 

Trump datang disambut tarian dan hidangan mewah tiada dua.

Trump diperlakukan seperti Amirul Mukminin dunia.

Beda dengan Saudi, Trump disambut Netanyahu dengan sangat biasa.

Netanyahu dan Israel memosisikan Trump sekedar boneka.

 

Di Saudi, pesta pora tiada dua.

Di Israel,Trump  disuruh baca Talmud penuh makna.

Trump bawa duit Saudi 450 Milyar dollar dan kalung 8 juta.

Trump gelontorkan duit di Israel 451 Milyar dollar balas jasa.

 

Demikian, saat bangsa Arab jauh dari Islam dihina dina.

Demikian, saat Islam hanya sekadar seremonial semata.

Demikian, saat bermilyar umat Islam tidak berdaya.

Demikian, saat para pemimpin umat takut mati cinta dunia.

 

Ramadhan tersulit, tinta mengering mengungkap kata.

Amar makruf nahyi mungkar hanya sekedar retorika.

Bid’ah, halal-haram hanya untuk rakyat jelata.

Sementara kaum kaya dan penguasa, bebas pesta pora.

Pelit, Penakut, Hipokrit

Pelit, Penakut, Hipokrit
By: Nandang Burhanudin
*****

(1)
Al-Qur’an sudah jelas menegaskan, orang-orang kafir menggelontorkan harta mereka untuk membendung perjuangan fii sabilillah. Fakta di lapangan membuktikan kebenaran Al-Qur’an.

(2)
Orang-orang kafir pun satu sama lain saling membackup, menguatkan, berkoalisi, demi satu cita-cita meluluhlantahkan peradaban Tauhid di muka bumi.

(3)
Tengoklah pendukung Ahox dan kezhaliman. Penyandang dana, tim strategis, tim eksekustor, tim media, bahkan tim sorak sorai yang bergelimang materi.

(4)
Bandingkan dengan kalangan Muslim. Satu bendera dan satu organisasi saja bisa saling tackling. Saling curiga. Saling ancam. Saling boikot. Plus saling menegasikan.

(5)
Si kaya yang konglomerat, tapi mengeluarkan harta fii sabilillah sangat berat. Jika menyumbang pakai syarat. Jikapun membantu, pasti ada yang dimau.

(6)
Si pemegang tongkat komando, terkena sindrome penakut alias mendadak keseleo. Pedangnya tajam, tapi tangan lumpuh. Posisinya strategis, tapi selalu pesimis.

(7)
Si pemegang akses keumatan, cenderung hipokrit. Cari aman. Semua asal bapak senang. Selamat sendiri menjadi misi. Tak ada misi perjuangan, selain basa-basi.

(8)
Pepatah Arab mengatakan, “Tak ada faedah dalam tiga hal: 1. Harta dipegang si bakhil. 2. Pedang dipegang si penakut. 3. Pena dikendalikan munafik.”

(9)
Jadi musuh Islam paham, mereka menang bukan karena mereka kuat atau hebat. Tapi para pemegang kendali umat Islam, tipe-tipe bakhil, penakut, dan hipokrit.

(10)
Jika kalangan potensialnya impoten dan menebar sial, maka biasanya yang menjadi korban dan dikorbankan adalah kalangan akar rumput.

(11)
Saya teringat, betapa pertentangan Mu’awiyah dan Imam Ali bin Abi Thalib sangat keras. Tapi semua tak melibatkan kalangan grassroot.

(12)
Potensi kapital, komando, hingga kekuatan pena digunakan untuk berekspansi ke Eropa dan dunia. Konflik internal diselesaikan dalam area rumah tangga, tak terusik rayuan pengacara.

(13)
Maka wajar, dahulu umat Islam tidak pernah kehilangan momentum perebutan peradaban. Lain halnya hari ini. Umat Islam justru dipermainkan kaum kafir. Semua terjadi setelah mengklaim paling mengerti.

(14)

Karena misi peradaban sudah terlupakan, otomatis membenci narasi peradaban. Lalu sibuk menebar ancaman dan membungkam kesadaran. Lahirlah klaim dan kalam (silat lidah).

(15)

Pantas do’a yang baginda Nabi panjatkan, pagi dan petang: ” “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut, pikun, bakhil, dan aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur dan fitnah hidup dan mati.” (HR. Muslim)

 

Srigala Jualan Pancasila

Srigala Jualan Pancasila
By: Nandang Burhanudin
*****

(1)
Cerita yang konon dari Jerman. Ada seekor srigala lapar. Bertaring. Siap mencakar dan menerkam. Air liur deras mengalir. Bau.

(2)
Di sisi lain. Ada keluarga biri-biri. Ibu dan 7 ekor anaknya yang masih belia. Nyam-nyam dibikin sate Batibul ala Tegal atau Garut.

(3)
Kerjaan srigala mengamati gerak-gerik ibu biri-biri. Ia berkesimpulan, kesempatan emas terbuka ketika sang ibu pergi cari rerumputan ke hutan.

(4)
“Teng..teng… kesempatan itu datang. Kali ini aku akan makan sekenyangnya. ” Pikir srigala merona bahagia.

(5)
“Hai anakku…. buka pintu. Ibu membawa hidangan lezat buat kalian.” Teriak srigala sambil mengetuk pintu.

(6)
“Hiii…sereeem. Jangan dibuka. Itu srigala. Ingat pesan ibu. Ciri srigala suaranya berat dan garang. Waspada!” Pintu tak dibuka.

(7)
“Gagal deh…. Benar kata anak biri-biri. Suaraku mudah ditebak. Aku akan ubah suaraku.” Srigala memutar otak.

(8)
Ia berlatih. Tak lupa mengubah penampilan. “Wahai anakkku sayaaang. Tolong buka pintunyà. Mamah bawa makanan lezaaat untuk kalian!” suara memerdu.

(9)
Biri-biri mencari tahu. “Jangan dibuka. Ia srigala. Ingat kata ibu, ciri srigala bertaring dan kukunya runcing.” Pintu tidak dibuka.

(10)
Kali kedua gagal. Srigala memotong kuku dan merapikan taringnya. Dengan suara lembut, mengulangi cara kedua. Tampilan sudah semakin berubah.

(11)
Biri-biri kembali mengamati dari lubang pintu. “Jangan dibuka. Waspada. Ciri srigala adalah bulu kakinya hitam. Tengok…kakinya, hitam kan?”

(12)
“Waduh gagal lagi. Srigala kembali memutar otak, mencari tukang tepung untuk memutihkan kakinya.” Cling. Kaki srigala putih dan rapih.

(13)
Untuk keempat kalinya. Percobaan srigala sukses. Ia makan semua anak biri-biri, tanpa mengunyahnya. Ia pun gontai.

(14)
Ibu srigala tak merasa ada bahaya mengancam biri-biri. Ia menganggap, pesannya sudah dipahami. Hingga ia pulang.

(15)
Tangis pecah. “Biri-biriku sayaang. Kemana kalian?” Prasangka terpusat pada satu entitas: srigala.

(15)
Tanpa lelah. Ia siapkan tali dan pisau kecil tajam. Bergerak mencari srigala yang tak bisa jauh pergi. Srigala tidur kekenyangan.

(16)
Secara gagah berani, ai ibu mengikatkan kaki srigala ke batu besar. Lalu menyayat perut srigala. Ketujuh anaknya masih bisa diselamatkan.

(17)
Ia tikamkan pisau kecil ke leher. Srigala meraung kesakitan. Bangkit. Menerkam si ibu biri-biri. Sejurus ia menghindar.

(18)
Tak lama kemudian, srigala meraung kesakitan dihimpit batu besar yang terjun menerjang tubuhnya yang terikat pada batu.

(19)
Begitulah kisah srigala dalam kehidupan kita saat ini. Berubah-ubah bentuk, hakikatnya satu: jahat, sadis, serakah, amoral, tak berperikemanusiaan.

(20)
Merusak Islam dengan mengaburkan makna sejatinya. Mengklaim Pancasilais, perilakunya komunis zionis.

(21)
Tugas kita menyelamatkan generasi. Melawan. Menyayat perut. Mengikat kaki dan mulutnya. Lalu timpakan batu besar hingga sekarat.

(22)
Namanya srigala. Sekali diberi kesempatan, maka ia akan melumat semua biri-biri. Tanpa ampun! Hanya siapa yang mau menjadi ibu dari biri-biri?

© 2017 Nandang Burhanudin All Rights Reserved   

Theme Smartpress by Level9themes.